Hirarki Belajar Gagne

Posted by anharul ulum

BABI
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
            Tantangan dunia pendidikan di masa yang akan datang adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar. Suatu proses pendemokrasian yang mencerminkan bahwa belajar adalah atas prakarsa anak. Salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat belajar yang demokratis adalah adanya pengemasan pembelajaran yang beragam.
            Dewasa ini telah banyak usaha yang dilakukan untuk memudahkan proses internal yang berlangsung ketika seseorang belajar. Semuanya ditujukan agar proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien.
Para pendidik dan para perancang pendidikan serta pengembang program- program pembelajaran perlu menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap hakekat belajar pembelajaran. Berbagai teori belajar dan pembelajaran penting untuk dimengerti dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan konteks pembelajaran yang dihadapi.
            Bell (google.co.id) mengungkapkan, “Understanding of theories about how people learn and the ability to apply these theories in teaching mathematics are important prerequisites for effective mathematics teaching.” Apa yang dikemukakan Bell di atas menunjukkan kepada para guru akan pentingnya pemahaman teori- teori tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana mengaplikasikan teori tersebut di kelas.
            Robert M, Gagne adalah salah seorang ahli teori belajar (Learning Theorist) yang namanya dapat disejajarkan dengan nama-nama besar dan terkenal lain di zarnannya seperti Jean Piaget, J.F. Guilford, Zoltan P. Dienes, Richard R. Skemp, David P. Ausubel, Jerome Bruner Burrhus F. Skinner maupun Lev. S. Vygotsky. Pam ahli tersebut, telah mengkaji perkembangan intelektual dan mempelajari hakikat belajar dan berbagai segi sehingga mungkin saja terjadi kemiripan atau kesamaan antara teori yang satu dengan teori yang lainnya, saling melengkapi dan tidak menutup kemungkinan akan ada dua teori yang sepertinya saling bertentangan. Karena tiap tiap teori memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri sendiri, maka hal paling penting yang perlu diperhatikan para guru seperti yang disarankan Bell tadi adalah para guru hendaknya dapat menggunakan dengan tepat keunggulan setiap teori tersebut di kelasnya masing- masing.
            Makalah ini akan membahas salah satu aspek penting dari teori yang dikemukakan Gagne yang patut diketahui dan dipahami para guru, yaitu suatu teori yang disebut dengan hirarki belajar (learning hierarchies).
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan hirarki belajar?
2. Bagaimanakah hirarki belajar Gagne?
3. Bagaimanakah contoh penerapan hirarki belajar Gagne?
1.3. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahul apa yang dimaksud dengan hirarki belajar
2. Untuk mengetahui bagaimanakah hirarki belajar Gagne
3. Untuk mengetahui bagaimana contoh penerapan hirarki belajar Gagne
1.4. Manfaat Pembahasan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan hirarki belajar
2. Mengetahui bagaimanakah hirarki belajar Gagne
3. Mengetahui bagaimana contoh penerapan hirarki belajar Gagne




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Hirarki Belajar
            Menurut kamus ilmiah populer (2006:179) hirarki berarti berurutan-urutan, peringkat, tingkat. Hirarki belajar merupakan struktur belajar yang terdiri dari tingkatan-tingkatan belajar.
            Gagne memberikan pemecahan dan pengurutan materi pembelajaran dengan selalu menanyakan pertanyaan ini: “Pengetahuan apa yang lebih dahulu harus dikuasai siswa agar ia berhasil mempelajari suatu pengetahuan tertentu?”. Setelah mendapat jawabannya, ia harus bertanya lagi seperti pertanyaan yang di atas tadi untuk mendapatkan prasyarat yang harus dikuasai dan dipelajari siswa sebelum ia mempelajari pengetahuan tersebut. Begitu seterusnya sampai didapatkan urut-urutan pengetahuan dan yang paling sederhana sampai yang paling kompleks.
            Dengan cara seperti itu akan didapatkan hirarki belajar. Resnick dan Ford (google,co.id) mengungkapkan, “A hierarchy is generated by considering the target task and asking: “What would (this child) have to know and how to do in order to perform thisk task...?” . Gagne menekankan kajiannya pada aspek penataan urutan dengan memunculkan gagasan mengenai prasyarat belajar yang dituangkan dalam suatu struktur yang disebutnya hirarki belajar. Keterkaitan diantara bagian-bagian yang dituangkan dalam bentuk prasyarat belajar berarti bahwa pengetahuan tertentu harus dikuasai lebih dulu sebelum pengetahuan lainnya dapat dipelajari.
2.2. Hirarki Belajar Gagne
Hirarki belajar menurut Gagne harus disusun dari atas ke bawah atau top down (google.co.id). Dimulai dengan menempatkan kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu tujuan dalam proses pembelajaran di puncak dari hirarki belajar diikuti kemampuan, ketrampilan, atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai lebih dahulu agar berhasil mempelajani ketrampilan atau pengetahuan yang ada di atasnya.
            Hirarki belajar dari Gagne memungkinkan juga prasyarat yang berbeda untuk kemampuan yang beda pula (goog1e.eo.id). Sebagai contoh, pemecahan masalah membutuhkan aturan, prinsip dan konsep- konsep terdefinisi sebagai prasyaratnya yang membtuhkan konsep konkret sebagai prasyarat berikutnya yang masih membutuhkan kemampuan membedakan (discriminations) sebagai prasyarat berikutnya lagi.

Setiap jenis belajar dari bagian yang berbeda dan setiap individu dan berakhir dengan kemampuan yang berbeda pula. Bagian yang paling penting dari kondisi yang dapat dibedakan antarasatu bentuk belajar dengan yang lainnya adalah bagian awal dari belajar atau dengan kata lain bagian ini merupakan prasyarat. Secara umum, tipe 3 dan 4 membutuhkan tipe 2 sebagai prasyarat, tipe 5 membutuhkan tipe 2,3,4, tipe 6 membutuhkan tipe 5, tipe 7 membutuhkan tipe 6 dan tipe 8 membutuhkan tipe 7.
Dalam pengembangan hirarki belajar yang lengkap ada suatu tingkat mungkin akan ada dua atau lebih kemampuan yang menjadi prasyarat bagi suatu kemampuan yang ada diatasnya. Dalam hal ini urutan belajar prasyarat-syarat ini yang sekaligus menentukan pelajaran tidak akan menimbulkan persoalan yang penting selama  semua prasyarat harus dikuasai lebih dahulu semua maju ketingkat kemampuan yang lebih tinggi.
Meskipun hirarki belajar dapat membantu memberi pedoman pada apa yang harus dipelajari bukan berarti urutan pengajaran harus mencakup semua hirarki. Alasannya adalah bahwa ada siswa yang mungkin telah belajar kemampuan itu se hingga tidak perlu mengulanginya lagi sebelum maju kemampuan tingkat yang lebih tinggi.
2.2.1. Belajar Signal
Tipe 1 secara otomais merupakan bagian paling penting. Konsep hirarki belajar menyatakan bahwa semua jenis tipe belajar dapat mengurangi asosiasi stimulus respon mekanis atau proses pengkondisian. Secara setimpal Gagne menetapkan bahwa tipe belajar I dan 2 merupakan conditioning classic dan Conditioning operant. Belajar signal merupakan teori respon kondisi klasik Pavlov dan Watson, yaitu peuggantian stimulus seperti proses belajar alami pada individu untuk membuat respon yang digeneralisasikan terhadap signal atau stimulus. Suatu respon akan muncul terhadap stimulus yang dikenal, yang artinya proses belajar yang terjadi akibat pengalaman.
2.2.2. Belajar Stimulus Respon
Belajar stimulus respon adalah kondisi instrumental dari Thorndike, yaitu merupakan proses modifikasi respon atau perubahan dalam mendapatkan respon yang tepat untuk membedakan stimulus. Belajar memang merupakan perihal membedakan stimulasi yang benar dan yang salah, membedakan sekumpulan stimulus yang menghasilkan ganjaran dan sekumpulan stimulus yang tidak memperoleh penguatan. Defenisi gagne tentang belajar instrumental adalah
sebagai sebuah proses aso siasi stimulus respon  yang berbeda dengan operant
conditioning Skinner dimana tidak ada proses asosiasi stimulus respon tetapi
hanya penguatan stimulus dari respon respon. Bagi Gagne, pembedaan stimulus leblh penting daripala respon yang diperkuat.

2.2.3. Chaining
            Proses belajar ini merupakan koneksi antar beberapa stimulus respon. Beberapa stimulus respon yang  telah dipelajari sebelumnya akan digunakan untuk memecahkan masalah y ang lebih konkret dengan mencari kaitan antar stimulus respon tersebut. Proses ini melibatkan terbentuknya hubungan-hubungan tertentu antara satu seri stimulus - stimulus  dan respon,
2.2.4. Asosiasi Verbal
Asosiasi verbal  adalah belajar tentang rangkaian verbal. Bagaimanapun, sambungan internal bias terpilih dari  bagian mana pun dari setiap belajar daftar bahasa. Gagne menekankan bahwa asosiasi verbal sebagai suatu rantai tidak bisa dipelajari kecuali jika mampu melaksanakan setiap sambungan. Ia juga mencatat pengulangan merupakan suatu urutan untuk memperlancar asosiasi verbal. Lebih lanjut dia mengamati bhwa kejadian dari beberapa kepuasan terminal menjadi penting untuk penetapan  rantai- rantai.
 Tetapi, dia melakukan sedikit pengembangan kepentingan psikologi dan penelitian lainnya. Dalam perlakuannya  tentang  rangkaian verbal, dia meringkas beberapa ide Ausubel sebagai bentuk penghormatan kepada teori belajar kognitif tetapi hanya sedikit ide-ide ini disertakan kedalam kondisi belajarnya.
            Prasyarat utama untuk belajar informasi verbal adalah bahwa siswa telah
memiliki cara-cara tertentu untuk mengaitkan  informasi baru dengan informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2.2.5. Belajar Diskriminasi.
            Belajar diskriminasi adalah proses dimana individu yang dilibatkan belajar
membuat beberapa respon identifikasi berbeda kepada banyak stimulus yang berbeda yang untuk beberapa tingkat dapat disamakan satu dengan lainnya dalam penampilan fisik. Dengaqn kata lain sekumpulan hubungan atau rangkaian belajar dibedakan secara bertingkat dalam pengertian bahwa stimulus dan respon menjadi lebih dapat dibedakan antara satu dengan lainya, individu menjadi mampu membuat respon berbeda kepada stimulus yang sepertinya  sama tetapi tetap berbeda. Belajar diskriminasi sering dikaitkan dengan karakteristik dari suatu objek.
            Jika dilihat dan tipe hasil belajar yang dikemukakan Gagne belajar diskriminasi termasuk dalam hasil belajar kemampuan intelektual dan merupakan tingkatan paling dasar. Belajar diskriminasi lebih banyak terjadi pada anak-anak.
2.2.6. Belajar Konsep Konkret
            Gagne mengamati bahwa banyak mata pelajaran di sekolah dikaitkan dengan belajar menggunakan konsep, aturan dan pemecahan masalah. Gagne mengemukakan bahwa be1ajar konsep adalah membuat respon umum kepada kelas stimulus yang secara umum bisa berbeda satu dengan lainnya dalam penampilan fisik.
            Dalam proses ini, siswa menjadi mampu merespon dengan satu cara untuk sekumpulan objek, respon ini kemudian meluas kepada respon siswa terhadap objek tertentu yang muncul secara alami. Kemampuan untuk menentukan konsep konsep konkret merupakan dasar yang paling penting untuk belajar yang lebih kompleks.
            Belajar konsep tergantungi pada belajar diskriminasi yang pada gilirannya tergantung pada merangkai verbal yang didasarkan pada proses pengkondisian stimulus respon. Gagne menyarankan dua kondisi yang dibutuhkan agar belajar konsep terjadi yaitu kondisi internal dan   eksternal:
1. Kondisi internal : Siswa harus dapat membedakan contoh suatu konsep dan non contoh suatu konsep. Jika digunakan instruksi verba1, siswa sudah harus sebelumnya mempelajari nama verbal. Siswa harus mengingat kembali diskriminasi maupun nama verbal.
2. Kondisi eksternal : Isyarat-isyarat verbal merupakan cara-cara utama dalam mengajar konsep-konsep konkret.
2.2.7. Belajar Konsep Terdefinisi dan Aturan
            Seseorang dikatakan telah belajar suatu konsep terdefinisi apabila ia dapat mendemonstrasikan arti bagian tertentu dari, suatu objek kejadian-kejadian atau hubungan-hubungan. Banyak konsep-konsep yang hanya dapat diperoleh sebagai konsep terdefinisi,  dan tidak ditentukan dengan “menunjuk” seperti pada konsep konkret. Tetapi ada beberapa konsep terdefinisi yang juga merupakan konsep konkret yaitu mempunyai nama sama, dan memiliki sifat-sifat tertentu yang sama.
            Gagne juga menyarankan kondisi untuk belajar konsep terdefinisi sebagai berikut:
1.      Kondisi internal : Siswa harus memanggil semua komponen konsep yang terdapat dalam definisi, termasuk konsep yang menyatakan hubungan antara konsep-konsep.
2.      Kondisi eksternal : Siuatu konsep terdefinisi dapat dipelajari dengan menyuruh siswa mengamati suatu demontrasi.
            Bagi Gagne, belajar aturan adalah rangkaian dari dua atau lebih konsep yang dibangun dalam kebiasan yang muncul sebagai respon dari kelas situasi stimulus. Aturan harus menjadi harus bagian internal dan individu, yang memimpin kebiasaannya. Belajar aturan merupakan sebuah kemampuan memprediksi yang memungkinkan individu untuk merespon situasi kelas stimulus kepada kelas penampilan.
            Seseorang telah belajar aturan apabila penampilannya mempunyai semacam keteraturan dälam berbagai situasi khusus. Seseorang yang telah belajar suatu aturan tidak berarti dia dapat menyatakan aturan tersebut secara verbal. Demikian juga sebaliknya seseorang yang dapat menyatakan suatu aturan secara verbal belum tentu mampu menerapkan aturan tersebut pada suatu masalah konkrit yang khusus.
            Kondisi untuk belajar dan mengajar aturan yang disertakan dalam urutan pembelajaran mengandung lima langkah seperti dibawah ini:
1. Informasikan kepada siswa tentang wujud penampilan yang diharapkan ketika proses belajar selesai.
2. Tanyakan siswa dengan cara yang memerlukan pemanggilan ulang konsep belajar yang telah dipelajari sebelumnya  untuk membangun konsep yang sedang dipelajari.
3.Gunakan pernyataan verbal yang akan menggiring siswa untuk meletakkan aturan bersama-sama sebagai rangkaian konsep dalam pesan yang wajar.
4. Dengan mengartikan pertanyaan, minta siswa untuk mendemonstrasikan satu atau lebih kejadian konkret dari  aturan.
5. Dengan pertanyaan yang cocok, libatkan siswa untuk membuat pernyataan verbal dari aturan.
            Aturan dapat dinyatakan  secara verbal, tetapi aturan itu sendiri adalah sebuah kemampuan memprediksi. Untuk memastikan siswa belajar aturan yang merupakan lingkaran berbagai hal dia harus menyatakannya kepada respon akhir yang hanya mungkin ditampilkan jika dia mendapatkannya. Mengetahui aturan artinya mampu mendemonstrasikan lingkaran berbagai hal tersebut, tidak sernudah mengucapkan kata. Sedangkan,  berbagai jenis informasi verbal sebagai fakta, proposisi, dan generalisasi memainkan peranan penting dalam belajar tentang kemampuan intelektual yang baru.
2.2.8. Pemecahan Masalah
Penyelesaian masálah Gagne  merupakan perluasan alami dari belajar aturan, yang merupakan bagian paling penting dari proses yang ditempatkan dalam belajar. Belajar penyelesaian masalah mengandung penggunaan metode penemuan. Penyelesaian maalah muncul ketika pembelajaran yang disediakan bagi siswa tidak mengandung solusi nyata secara verbal tetapi memerlukan solusi yang dibangun oleh siswa sendiri.
            Dalam penyelesaian masalah siswa menemukan kombinasi aturan-aturan
yang dipelajani sebelunmnya yang dapat digunakan untuk mencapai solusi dari suatu masalah. Dalam proses ini siswa mengkombinasikan dua atu lebih aturan yang diperoleh sebelumnya untuk menghasilkan kemampuan baru dalam wujud aturan tingkat tinggi.
            Secara ekstrim aturan tingkat tingggi adalah strategi belajar  belajar. Aturan adalah bahan untuk berfikir . Sesuatu yang dapat dipikirkan  oleh seseorang pada dasarnya bermakna. Bahwa ia dapat megkombinasikan aturan- aturan yang telah dipelajrinya kepada aturan aturan tingkat tinggi. Dia dapat melakukannya dengan menstimulasi dirinya sendiri dan merespon berbagai wujud stimulasi dari lingkungannya.
2.3. Contoh Penerapan Hirarki Belajar
Seorang guru matematika mengeluh tentang sebagian besar siswanya yang tetap tidak bisa atau beelum mampu untuk memfaktorkan bentuk-bentuk aijabar seperti: x2 — 2x -35 menjadi (x — 7)(x + 5); x2 — 6x + 8 menjadi (x — 4)(x —2) ataupun x2 + 6x —7 menjali (x — 7)(x + 1). Padahal, guru tersebut sudah berulang ulang menjelaskan dengan berbagai  cara, namun tetap saja siswanya tidak dapat memfaktorkan beberapa soal baru yang angkanya berbeda dan yang dicontohkannya Pertanyaannya sekarang mengapa hal seperti itu dapat terjadi?
Dalam kasus di atas ia yang telah berulang - uIang menjelaskan hal tersebut kepada para siswanya dapat dianggap salah mendiagnosis penyebab ketidak mampuan para siswa dalam memfaktorkan bentuk-bentuk aijabar tadi meskipun sudah berulang kali guru menjelaskan cara memfaktorkanya. Penyelesaian masalah di alas - dapat didekati dengan menggunakan teori hirarki belajar yang digagas Gagne. Pertanyaan awal yang dapat diajukan sebagaimana disarankan Gagne - Pengetahuan apa yang lebih dahulu harus dikuasai siswa agar Ia dapat memfaktorkan?. Jawabannya di saat memfaktorkan bentuk seperti x2 — 2x — 35 dimana —2 disebut koefisien x dan35 disebut konstanta, para siswa cari dua bilangan bulat yang kalau dijumlahkan akan menghaslk -2 (koefisien x) dan  dikalikan akan menghasilkan —35 (konstanta). N” yang dicari tersebut adalah —7 dan +5, karena .7 + (+5)=2 dan (—7) (5) — —35. Karena siswa diharapkan mampu menyelesaikan maslah pemfaktoran harus dahulu mengetahui penjumlahan dan perkalian bilangan.


















BABIII
3.1 Simpulan
1.      Gagne menekankan kajiannya pada aspek penataan urutan dengan memunculkan gagasan mengenai prasyarat belajar yang dituangkan dalam suatu struktur isi yang disebutnya hirarki belajar. Keterkaitan diantara bagian- bagian yang dituangkan dalam bentuk prasyarat belajar berarti bahwa pengetahuan tertentu harus dikuasai lebih dulu sebelum pengetahuan lainnya dapat dipelajari.
2.      Hirarki belajar Gag diri atas:
·         Belajar Signal
·         Belajar Stimulus Respon
·         Chaining
·          Asosiasi Verbal
·         Belajar Diskriminasi
·         Belajar Konsep Konkret
·          Belajar Konsep Terdefinisi dan Aturan
·          Pemecahan Masalah
3.2.Saran
            agar proses belajar siswa menjadi efisien dan efektif seorang pendidik perlu memperhatikan tingkatan belajar yang terjadi pada siswa, sehingga siswa dengan mudah menyerap informasi karena telah memiliki pengetahuan sebelumnya.





DAFI’AR PUSTAKA
Bigge, Morris L. 1982. Learning Theories For Teachers. New York: Harper & Row Publishers.
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-Teori Belaar. Jakarta: P2LPTK
 I Nyoman Sudana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel. Jakarta: P2LPTK
Driscoll, Marcy P. Psychology of Learning for Intruction . Florida State University
Gagne, Robert M dan Driscoll, Marcy P. 1989. Essentials of Learning for
instruction. New Jersey: Prentice Hall
Snelbecker . Glen E.Learning Theory, Instruksional Theory and Psychoeducational  Design. New York : Mc graw-Book Company
Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Gita Media Press
www.google.co.id

{ 0 comments... read them below or add one }

Posting Komentar