Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan

Perkembangan Psikologi Anak usia Remaja (materi tarbiyah)

Posted by Rumah Subsidi Malang

Perkembangan Psikologi Remaja
 Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
 Setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Berikut ini merupakan berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja, berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi pendidik.
 Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif
Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Dewi merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Dewi akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Dewi yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Dewi akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Dewi tidak memiliki teman, dan sebagainya.
 Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua
Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku “pemberontakan” dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar. Hal yang sama juga dilakukan remaja terhadap orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’, guru misalnya.
 Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin
Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut.
 Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun).
 Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah “aku” ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya. Maka penting bagi orang tua dan orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’ untuk mampu menjadikan diri mereka sendiri sebagai idola bagi para remaja tersebut.
 Selain berbagai tuntutan psikologis perkembangan diri, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
  • Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
  • Emosinya tidak stabil
  • Perkembangan Seksual sangat menonjol
  • Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
  • Terikat erat dengan kelompoknya
Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan.
 Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
  • Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
  • Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
  • Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
  • Memperhatikan penampilan
  • Sikapnya tidak menentu/plin-plan
  • Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:
  • Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
  • Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
  • perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
  • mulai menyadari akan realitas
  • sikapnya mulai jelas tentang hidup
  • mulai nampak bakat dan minatnya
 Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
             Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.

diambil pa 02-08-2013 dari http://kristiono.wordpress.com/
More aboutPerkembangan Psikologi Anak usia Remaja (materi tarbiyah)

Fungsi keluarga tehadap Psikologi anak

Posted by Rumah Subsidi Malang

1.      Pemberi rasa aman bagi anak & anggota keluarga lainnya
2.      Sumber pemenuhan kebutuhan, fisik & psikis
3.      Sumber kasih sayang & penerimaan
4.      Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakatnya yang baik
5.      Pemberi bimbingan bagi pengembangan kepribadian
6.      Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik disekolah maupun masyarakat
7.      Pembimbing dalam mengembangkan aspirasi

Keluarga yang fungsional ditandai dengan karakteristik :
1.      Saling memperhatikan & mencintai
2.      Bersikap terbuka & jujur
3.      Orang tua mau mendengar anak, menerima perasaannya dan menghargai pendapatnya
4.      Ada sharing masalah/ pendapat diantara anggota keluarga
5.      Mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya
6.      Saling menyesuaikan diri & mengakomodasi
7.      Orang tua melindungi (mengayomi) anak
8.      Komunikasi antar anggota keluarga berlangsung dengan baik
9.      Keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak
10.  Mampu menyikapi perubahan yang terjadi

Alexander A. Schneiders (1960) mengemukakan : keluarga ideal ditandai dengan :
1.      Minimnya perselisihan antar orang tua/ orang tua dengan anak
2.      Ada kesempatan untuk mengatakan keinginan
3.      Penuh kasih sayang
4.      Penerapan disiplin yang tidak keras
5.      Ada kesempatan untuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa & berperilaku
6.      Saling menghormati, menghargai (mutual respect) di antara orang tua dengan anak
7.      Ada musyawarah keluarga dalam memecahkan masalah
8.      Menjalin kebersamaan
9.      Orang tua memiliki emosi stabil
10.  Berkecukupan dalam bidang ekonomi
11.  Mengamalkan nilai-nilai agama

Untuk merespon berbagai masalah yang mengganggu keharmonisan keluarga, covey mengajukan resep yang dinamakan The 7 habits of highly effective families. Effective family = a beautiful family culture
1.      Semangat keluarga, perasaan, iklim/atmosfir keluarga
2.      Karakter keluarga, kedalaman kualitas & kematangan interaksi
3.      Cara para anggota untuk empati
4.      Spirit/perasaan yang mengembangkan pola tingkah laku kolektif yang dengan adanya interaksi keluarga

7 kebiasaan keluarga yang efektif :
1.      Be proactive, menjadi pembaharu dalam keluarga
2.      Begin with the endin mind, misi pernikahan/keluarga
3.      Put first things first
4.      Think win-win, para anggota keluarga berpikir dalam tatanan yang saling menguntungkan, mereka memelihara dukungan & sikap saling menghormati
5.      Seek first to understand... then to be understood (memecahkan masalah keluarga melalui komunikasi yang empatik). Para anggota keluarga kali pertama mendengarkan secara intensif untuk memahami pikiran dan perasaan anggota lainnya sehingga mampu berkomunikasi secara efektif terhadap pikiran & perasaan sendiri. Melalui pemahaman, mereka membangun hubungan kepercayaan dan kasih sayang yang mendalam
6.        Synergize, para anggota keluarga mengembangkan kekuatan-kekuatan keluarga & para anggotanya melalui sikap menghormati & penilaian terhadap perbedaan masing-masing dalam hal ini keutuhan menjadi lebih penting
7.      Sharpen the saw (‘memperuncing gergaji’), keluarga mengembangkan efektivitasnya melalui pembaharuan pribadi dan keluarga secara reguler dalam 4 bidang : memelihara gizi & mengelola stres, sosial/emosional (menjalin persahabatan, memberikan bantuan, mendengarkan orang lain secara empatik & menciptakan sinergi), spiritual (berdoa, shalat, membaca al-qur’an), mental (membaca, menulis, mengembangkan bakat & belajar keterampilan)

Untuk mengembangkan/menanamkan ke7 kebiasaan tersebut, covey mengajukan 4 prinsip peranan keluarga :
1.      Modelling (example of trustworthness), orang tua adalah contoh / model bagi anak, cara berpikir & berbuat anak dibentuk oleh cara berpikir & berbuat ortunya
2.      Mentoring yaitu kemampuan untuk menjalin/ membangun hubungan, investasi emosional (kasih sayang kepada orang lain)/ pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur. Ada 5 cara untuk memberikan kasih sayang kepada orang lain yaitu : (1) empathizing(mendengarkan hati orang lain dengan hati sendiri), (2)sharing: berbagi wawasan, emosi & keyakinan, (3) affirming, memberikan ketegasan (penguatan) kepada orang lain dengan kepercayaan, penilaian, konfirmasi, apresiasi & dorongan, (4) praying, mendoakan orang lain secara ikhlas dari jiwa yang paling dalam, (5)sacrificing: berkorban untuk orang lain
3.      Organizing, untuk meluruskan struktur & sistem keluarga dalam rangka untuk membantu menyelesaikan hal-hal yang penting
4.      Teaching: ortu =guru bagi anak-anaknya, peran ortu sebagai guru = menciptakan conscious competence pada diri anak yaitu mereka memahami tentang apa yang mereka kerjakan dan alasan tentang mengapa mereka mengerjakan itu.


More aboutFungsi keluarga tehadap Psikologi anak

Perkembangan Psikologi Anak usia Dini (Materi Tarbiyah)

Posted by Rumah Subsidi Malang

Emosi berasal dari kata emetus atau emovere  yang berarti mencerca, yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu. Menurut Crow & Crow (Sunarti, 2001: 1) “emosi merupakan suatu keadaan yang bergejolak dalam diri individu yang berfungsi atau berperan sebagai inner adjustment terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu”. Emosi merupakan perasaan atau gejala psikis yang bersifat subjetif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenai dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf.
Emosi anak  berbeda dengan emosi dengan anak yang lebih tua atau orang dewasa karena adanya faktr maturasi dan belajar. Ciri khas emosi anak yang membuatnya berbeda dari emosi dewasa menurut Sunarti (2001: 11), yaitu :
Ø  Emosi yang kuat; anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama baik terhadap situasi remeh maupun serius.
Ø  Emosi seirng kali tampak, anak sering kali memperlihatkan emosi mereka meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional sering kali mengakibatkan hukuman, mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.
Ø  Emosi bersifat sementara, peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang, merupakan akibat dari tiga faktor.
  • Emosi adalah perasaan yang ada pada dalam diri kita dapat berupa perasaan yang kuat . Perasaan benci, takut , marah senang cinta senang dan kesedihan . Macam macam perasaan tersebut adalah gambaran dari emosi. Goleman (441) menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pemikiran serta rangkaian kecendrungan untuk bertindak .
  • Emosi bagi anak disebabkan kemampuan ini mewarnai kegiatan anak. Selayaknya warna memiliki banyak macamnya dan warna tersebut akan memberikan efek. Warna tersrbut akan memberikan efek. Warna tersebut akan indah bila yang mewarnai mampu mewarnai, sehingga yang di warnai menimbulkan efek indah dipandang dan nyaman untuk dinikmati, menurut Sarlito Wirawan, S. dalam buku syamsu yusuf Emosi merupakan “ Setiap keadaan pada diri seseorang yang di sertai warna efektif baik pada tingkat lemah (Dangkal) maupun pada tingkat yang luas (Mendalam).
  • Dalam pengertian diatas, di kemukakan bahwa emosi itu merupakan warna efektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu, yang dimaksud wrna efektif ini adalah perasaan. Perasaan tertentu yang di alami oleh anak pada saat menghadapi (menghayat). Suatu situasi tertentu. Contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (Tidak Senang) dan sebagainya.
Emosi anak berbeda dengan emosi orang dewasa atau orang tau, hal itu di sebabkan faktor kematangan dan faktor belajar perkembangan emosi yang berbeda, anak memiliki jenis karakteristik, jenis emosi yang unik terlebih ketika adanya kesesuaian dengan ekspresi di luar beberapa perubahan fisik yang tampak dari ekspresi perasaanya.
Menurut Golemanada beberapa jenis emosi yang memang sering muncul pada diri anak, Pertama, amarah., Beringas., Mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan dan paling hebat yakni tindak kekerasan. Kedua, Kesedihan, Perih, Sedih, Muram, Melankolis, Mengasihani, diri, kesepian, Ditolak, Putus Asa, dan dapat menjadi depresi berat. Ketiga, Rasa Takut, Cemas, takut, Gugup, Khawtir, Was-was Perasaan takut sekali, Waspada, tidak tenang dan dapat menjadi phobia serta panik. Keempat, Kenikmatan InderawiTakjub, Terpesona, Terpenuhi, Kegirangan Luar biasa dan senang sekali Kelima, Cinta, Penerima, Persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, Hormat, Kasih. Keenam, Terkejut, Takjub, Terpanah,. Ke Tujuh. Jengkel Hina Jijik, Muak Benci, Tidak Suka, Mau Muntah, Kedelapan, Malu, Rasa salah, Malu Hati, Kesal Hati, Sesal Hati, Hina, Aib, Dan Hati Hancur, Jenis emosi itu timbul sesuai dengan rangsangan yang di terima anak.

Emosi berasal dari kata emetus atau emovere  yang berarti mencerca, yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu. Menurut Crow & Crow (Sunarti, 2001: 1) “emosi merupakan suatu keadaan yang bergejolak dalam diri individu yang berfungsi atau berperan sebagai inner adjustment terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu”. Emosi merupakan perasaan atau gejala psikis yang bersifat subjetif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenai dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf.
Emosi anak  berbeda dengan emosi dengan anak yang lebih tua atau orang dewasa karena adanya faktr maturasi dan belajar. Ciri khas emosi anak yang membuatnya berbeda dari emosi dewasa menurut Sunarti (2001: 11), yaitu :
Ø  Emosi yang kuat; anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama baik terhadap situasi remeh maupun serius.
Ø  Emosi seirng kali tampak, anak sering kali memperlihatkan emosi mereka meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional sering kali mengakibatkan hukuman, mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.
Ø  Emosi bersifat sementara, peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang, merupakan akibat dari tiga faktor.
  • Emosi adalah perasaan yang ada pada dalam diri kita dapat berupa perasaan yang kuat . Perasaan benci, takut , marah senang cinta senang dan kesedihan . Macam macam perasaan tersebut adalah gambaran dari emosi. Goleman (441) menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pemikiran serta rangkaian kecendrungan untuk bertindak .
  • Emosi bagi anak disebabkan kemampuan ini mewarnai kegiatan anak. Selayaknya warna memiliki banyak macamnya dan warna tersebut akan memberikan efek. Warna tersrbut akan memberikan efek. Warna tersebut akan indah bila yang mewarnai mampu mewarnai, sehingga yang di warnai menimbulkan efek indah dipandang dan nyaman untuk dinikmati, menurut Sarlito Wirawan, S. dalam buku syamsu yusuf Emosi merupakan “ Setiap keadaan pada diri seseorang yang di sertai warna efektif baik pada tingkat lemah (Dangkal) maupun pada tingkat yang luas (Mendalam).
  • Dalam pengertian diatas, di kemukakan bahwa emosi itu merupakan warna efektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu, yang dimaksud wrna efektif ini adalah perasaan. Perasaan tertentu yang di alami oleh anak pada saat menghadapi (menghayat). Suatu situasi tertentu. Contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (Tidak Senang) dan sebagainya.
Emosi anak berbeda dengan emosi orang dewasa atau orang tau, hal itu di sebabkan faktor kematangan dan faktor belajar perkembangan emosi yang berbeda, anak memiliki jenis karakteristik, jenis emosi yang unik terlebih ketika adanya kesesuaian dengan ekspresi di luar beberapa perubahan fisik yang tampak dari ekspresi perasaanya.
Menurut Golemanada beberapa jenis emosi yang memang sering muncul pada diri anak, Pertama, amarah., Beringas., Mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan dan paling hebat yakni tindak kekerasan. Kedua, Kesedihan, Perih, Sedih, Muram, Melankolis, Mengasihani, diri, kesepian, Ditolak, Putus Asa, dan dapat menjadi depresi berat. Ketiga, Rasa Takut, Cemas, takut, Gugup, Khawtir, Was-was Perasaan takut sekali, Waspada, tidak tenang dan dapat menjadi phobia serta panik. Keempat, Kenikmatan InderawiTakjub, Terpesona, Terpenuhi, Kegirangan Luar biasa dan senang sekali Kelima, Cinta, Penerima, Persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, Hormat, Kasih. Keenam, Terkejut, Takjub, Terpanah,. Ke Tujuh. Jengkel Hina Jijik, Muak Benci, Tidak Suka, Mau Muntah, Kedelapan, Malu, Rasa salah, Malu Hati, Kesal Hati, Sesal Hati, Hina, Aib, Dan Hati Hancur, Jenis emosi itu timbul sesuai dengan rangsangan yang di terima anak.

DAFTAR PUSTAKA
Santoso Soegeng, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta:PT. Rineka Citra Pendidikan, 2004
Goleman Daniel, Emotional Intelligence, Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan pertama, 1996

diambil pada 02-08-2013 dari http://andrilsindirila.wordpress.com/

More aboutPerkembangan Psikologi Anak usia Dini (Materi Tarbiyah)

Review Makalah Hukum Perkembangan

Posted by Rumah Subsidi Malang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Psikologi perkembangan kadang-kadang disebut juga psikologi anak atau psikologi genetik. Yang dibahas ialah perkembangan rohani sejak manusia lahir sampai ia dewas. Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan perkembangan dari mulai lahir sampai meninggal dunia. Dari semua fase perkembangan manusia tersebut, salah satu yang paling penting dan paling menjadi pusat perhatian adalah masa remaja. Para orang tua, pendidik, dan para tenaga professional lainnya mencoba untuk menerangkan dan melakukan pendekatan yang efektif untuk menangani para remaja ini. Lalu ada apakah di masa remaja ini? Seberapa besarkah pentingnya untuk menangani masa remaja dan seberapa besar pengaruhnya untuk kehidupan dimasa depan individu tersebut? Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas, sehingga banyak ahli yang berbeda dalam penentuan rentang usianya. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa masa remaja berawal dari usia 12 sampai dengan akhir usia belasan ketika pertumbuhan fisik hampir lengkap.
hukum perkembangan disini dibagi menjadi enam. Yaitu, Hukum konvergensi, hukum masa peka, hukum rekapitulasi, hukum bertahan dan mengembangkan diri, hukum irama (ritmik) perkembangan, dan hukum tempo perkembangan.

1.2    Rumusan Masalah
a.    Bagaiman pengertian Hukum perkembangan?
b.    Bagaimana hukum perkembangan konvergensi?
c.    Bagaimana hukum perkembangan masa peka?
d.    Bagaimana hukum perkembangan rekapitulasi?
e.    Bagaimana hukum perkembangan bertahan dan mengembangkan diri?
f.    Bagaimana hukum perkembangan irama (ritme) perkembangan?
g.    Bagaimana hukum tempo perkembangan?
   



1.3    Tujuan Masalah
a.    Untuk mengetahui pengertian hukum perkembangan.
b.    Untuk mengetahi hukum konvergensi
c.    Untuk mengetahui hukum perkembangan masa peka.
d.    Untuk mengetahui hukum perkembangan rekapitulasi.
e.    Untuk mengetahui hukum perkembangan bertahan dan mengembangkan diri
f.    Untuk mengetahui hukum perkembangan irama (ritme) perkembangan.
g.    Untuk mengetahui hukum tempo perkembangan.























BAB II
PEMBAHASAN
A.     HUKUM PERKEMBANGAN
Perkembangan merupakan perubahan yang terus menerus dialami, tetapi ia tetap menjadi kesatuan. Perkembangan berlangsung dengan perlahan-lahan melalui masa demi masa. Kadang-kadang seseorang mengalami masa kritis pada masa kanak-kanak dan masa pubertas. Menurut hasil penelitian para ahli ternyata bahwa perkembangan jasmani dan rohani berlangsun menurut hukum-hukum perkembangan tertentu.  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme ada bermacam-macam.
Pertama, faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir. Misal: kekurangan nutrisi pada ibu dan janin; janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan, dan lain-lain.
Kedua, faktor ketika lahir atau saat kelahiran. Faktor ini antara lain adalah intracranial haemorage atau pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan oleh efek susunan saraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan bantuan tang (tangver-lossing).
Ketiga, faktor yang dialami bayi sesudah lahir, antara lain oleh karena pengalaman traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi (janin) terpukul, atau mengalami serangan sinar matahari (zonnestiek).
Keempat, faktor psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan ibu, ayah atau kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak dititipkan pada suatu lembaga, seperti rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dan lain-lain.
 pengertian “hukum” dalam ilmu jiwa perkembangan, tidaklah sama dengan yang bisa dilenal dalam dunia perundang-undangan peradilan. Dalam ilmu jiwa perkembangan, istilah hukum tidak dapat diasosiasikan. Misalnya, dengan hukum perdata atau hukum pidana. Melainkan yang dimaksud Hukum Perkembangan adalah kaidah fundamental tentang realitas kehidupan anak-anak (manusia), yang telah disepakati kebenarannya berdasarkan hasil pemikiran dan penelitian yang seksama. Misalnya: seorang anak baru bisa berkembang, apabila ia dalam keadaan hidup. Ini merupakan hukum yang sudah pasti, sehingga tidak mungkin dibantah kebenarannya oleh siapapun juga. Jadi, hidup adalah syarat mutlak bagi terjadinya proses perkembangan. karena sudah pasti dan mutlak kebenarannya, maka dalam ilmu jiwa perkembangan, susunan kalimat pernyataan seperti itu disebut Hukum. Hukum-hukum perkembangan itu terdiri dari:
1.    Hukum konvergensi
Konvergensi artinya perpaduan. Hukum ini mula-mula dipopulerkan oleh William Stern. Menurutnya, ada dua hal yang sama-sama penting dalam perkembangan seseorang: pertama pembawaannya sejak lahir, dan kedua pengaruh lingkungan dimana ia berada. Sebagai contoh: perkembangan seorang anak untuk “berdiri”. Secara naluriah sesuai dengan kodrat pembawaannya, setiap anak manusia itu dalam keadaan normal pasti bisa berdiri. Akan tetapi pembawaan semacam ini tidak akan menjadi kenyataan , jika anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Pernah terbukti, seseorang anak yang sebenarnya normal, tetapi sejak kecil hidup bersama dan diasuh oleh seekor srigala, ternyata akhirnya tak dapat berdiri tegak seperti umumnya manusia, melainkan ia merangkak dengan tangan dan kakinya, menyerupai cara berjalannya binatang.
Sebagaimana telah banyak diketahui, kehadiran hukum konvergensi merupakan jawaban tengah atas hukum nativisme dan empirisme yang keduanya dipandang berat sebelah. Kata nativisme: berhasil atau tidaknya perkembangan seseorang, semata mata tergantung pada kemampuan naluriyah yang dibawanya semenjak lahir. Sementara empirisme berpendapat sebaliknya: justru lingkungan atau pendidikanlah yang menentukan berhasil tidaknya perkembangan seseorang. Ternyata, berdasarkan penyelidikan ilmiah, kedua pendapat ini sama-sama gagal dalam mempertahankan kebenarannya. Lalu muncul hukum konvergensi yang dipandang dapat mengatasi, dengan pokok pandangannya sebagaimana yang dijelaskan diatas.
2.    Hukum masa peka
Masa peka yang dimaksud ialah: suatu masa dimana sesuatu “fungsi” demikian baik berkembangannya, karena itu harus dilayani dan diberi kesempatan sebaik baiknya. Menurut pendapat yang masyhur, masa peka untuk sesuatu aspek kehidupan itu datangnya hanya sekali, artinya tak terulang lagi pada kesempatan yang lain. Katakanlah, masa peka seorang anak untuk berjalan adalah umur 2th, masa peka untuk menggambar ketika berumur 5 th, dan masa peka untuk perkembangan ingatan adalah pada umur 13 th. Maka berarti, pada masa-masa itu sajalah kecakapan anak untuk di latih berjalan, menggambar, dan berfikir logis, berada pada puncak maksimal, sehingga bila segera di salurkan, kemungkinan besar akan berkembang dengan pesat. Sebaliknya, jika kesempatan yang amat baik itu biarkan terlena, maka si anak akan merugi untuk selamanya.
    Ahli pendidikan dari italia, Maria Montessori, adalah seseorang yang terkenal keberhasilannya  dalam memanfaatkan masa peka anak-anak. Dia telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan, yang secara khusus berorientasi untuk melayani keinginan murid-muridnya, sesuai dengan kebutuhan yang menyertai datangnya masa peka masing-masing dalam bidang tertentu. Jadi, masa peka ini penting sekali untuk di perhatikan, oleh orang tua anak sendiri maupun pendidik yang lain pada umumnya. Masa peka memang kenyataan selalu datang dan di alami oleh setiap anak. Karena itu ia termasuk hukum perkembangan yang harus mendapatkan perhatian secukupnya.

3.    Hukum rekapitulasi
Hukum rekapitulasi adalah perkembangan psikis anak yakni ulangan secara singkat perkembangan umat manusia. Seluruh perkembangan umat manusia terulang dalam waktu beberapa tahun saja secara singkat dalam perkembangan anak. Fakta-faktanya: Anak-anak kecil memiliki kesamaan dengan bangsa primitif, misalnya: suka dengan warna yang tajam, memiliki pikiran yang animistis, takut hantu atau kekuatan gaib.
Jika pengertian rekapitulasi ini dilahirkan atau (ditransfer) ke psikologi perkembangan, dapat dikatan bahwa perkembangan seorang anak mengalami ulangan ringkas dari sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun masih ada orang yang berpendapat lain, namun sebagian besar di antara mereka itu mengakui adanya persamaan dengan kehidupan kebudayaan mulai dari bangsa-bangsa primitif sampai kepada kehidupan kebudayaan bangsa yang ada dewasa ini. Mereka membagi-bagi kehidupan anak sebagai berikut:



a)    Masa memburu dan menyamun
Masa ini dialami ketika anak berusia sekitar 8 tahun. Tanda-tandanya, misalnya: anak senang menangkap-nangkap dalam permainannya, memanah dan menembaki binatang. Tanda-tanda pada anak lain misalnya senang bermain kejar-kejaran, perang-perangan, dan bermain panah-panahan.
b)    Masa mengembala
Masa ini dialamai ketika anak berusia sekitar 10 tahun. Tanda-tandanya, misalnya: anak senang memelihara binatang. Seperti, ayam, kambing, kelinci, merpati, dan sebagainya.
c)    Masa bercocok tanam
Masa ini dialami anak ketika ia berusia sekitar 12 tahun. Tanda-tandanya, misalnya: senang berkebun, menyiram kembang.

d)    Masa berdagang
Masa ini dialami anak ketika ia berusia sekitar 14 tahun. Tanda-tandanya, misalnya: senang bertukar-tukaran perangko dengan teman, berkirim kriman foto dengan sesame sahabat pena, bermain jual-jualan seperti mbok pecel, dan sebagainya.

4.    Hukum bertahan dan mengembangkan diri
Dalam kehidupan timbul dorongan dan hasrat untuk mempertahankan diri. Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangkan diri.
Dorongan mempertahankan diri terwujud, misalnya, pada dorongan makan dan menjaga keselamatan diri sendiri. Anak menyatakan perasaan lapar, haus, dan sakit dalam bentuk menangis. Ia mempertahankan dirinya dengan cara menangis. Jika ibu-ibu mendengar anaknya menangis, tangisannya itu dianggap sebagai dorongan mempertahankan diri.
Dalam perkembangan jasmani dan rohani terlihat hasrat dasar untuk mengembangkan pembawaan. Untuk anak-anak dorongan mengembangkan diri ini berbentuk hasrat mengenal lingkungannya, usaha belajar berjalan, kegiatan bermain, dan sebagainya. Dikalangan remaja timbul rasa persaingan dan perasaan belum puas terhadap apa yang telah tercapai. Hal ini dapat dianggap sebagai dorongan mengembangkan diri.
Ketika seseorang anak berhasil mempertahankan diri, bersamaan itu muncul pula hasrat insaniyah untuk mengembangkan segala potensi yang dibawanya sejak lahir. Masih diatas buaian, seseorang bayi sudah mulai mencoba untuk  mennggerak-gerakkan badannya, mengamat-amati apa yang ada di sekelilingnya, seolah-olah ia ingin mengetahui se gala sesuatu yang terasa asing baginya itu. Menyusul, ia pun tersenyum penuh perhatian, manakala ada orang yang datang menjenguknya. Setelah umur 3 tahun ke atas, ia terus menerus minta diberi kesempatan untuk bermain, mencoba dan mencoba apa saja yang bisa dilakukan. Kadang- kadang, dimuka kaca almari atau dihadapan layar telivisi, seorang anak memperagakkan tingkah laku penyanyi, penari dan olah ragawan senam pagi, yang pernah atau tengah dilihatnya. Disaat yang lain, ia juga gemar melakukan aksi corat-coret. Katanya: “menggemar atau melukis”
Demikian percobaan itu, satu demi satu dilaksanakan oleh hampir setiap anak. Percobaan gerak jasmani, tetapi juga percobaan mendayagunakan kemampuan rohani. Semua ini dapat dirangkum dalam satu istilah, “usaha mengembangkan diri”. Tetapi perlu diingat, bahwa apa saja yang dilakukan oleh anak tersebut, sifatnya adalah pembawaan. Tak usah disuruh atau diajari, dalam keadaan normal, seorang anak akan terus menerus melakukan sesuatu, yang sesungguhnya bernilai bagi pengembangan diri. Hal semacam ini berlaku secara umum, dimana saja dan dikalangan anak siapa saja. Karenanya, lalu dianggap sebagai kepastian. Kepastian dalam proses perkembangan seseorang. Ia adalah satu dari sekian macam hukum perkembangan.

5.    Hukum irama (ritme) perkembangan
Hukum ini menyatakan, bahwa berlngsungnya perkembangan itu tidak selalu “ajeg”, konstan, atau merata pada setiap waktu. Kadang-kadang suatu proses perkembangan berjalan lancar, tetapi biasa-biasa saja dari waktu kewaktu, dan ini di sebut “ajeg” sifatnya. Tetapi ada pula, dari keadaan biasa kemudian melonjak cepat, untuk akhirnya kembali biasa lagi, atau bahkan menurun. Sementara yang lain, dari keadaan cepat, kemudian berjalan biasa, cepat lagi, lalu biasa lagi, menurun, begitu seterusnya. Jadi, irama perkembangan itu tidak selalu merata dari waktu kewaktu.
Sebagai contoh, seorang anak yang sedang belajar bahasa,. Mula-mula berjalan biasa, anak tersebut menguasai dan dapat mempraktekkan pembendaharaan kata satu demi satu tetapi aneh, dalam minggu-minggu berikutnya, ia sedemikian cepat memperoleh tambahan kata-kata baru, dan bicaranya pun sangat lancar. Orang dewasa yang mengasuhnya menjadi heran, disangka anak ini memang luar biasa. Ternyata tidak. Malah kadang-kadang terjadi akhirnya justru mengecewakan. Sang anak mengalami penurunan, bahkan kemunduran dalam belajar bahasa tersebut. Sepertinya, ia menjaddi malas, tak ada gairah, masa bodoh, tak peduli dengan apa yang di ajarkan oleh ayah ibunya. Demikianlah irama perkembangan itu berlangsung, walau harus pula di akui, bahwa pasang surut semacam itu tidak selalu tampak secara nyata, sehingga orang menganggapnya  berjalan biasa-biasa saja.
Akhirnya perlu di  tambahkan, baik tempo maupun irama perkembangan itu, sesungguhnya tidak saja kelihatan berbeda dari anak yang satu dengan anak yang lain, tetapi juga bisa dari fungsi yang satu ke fungsi kehidupan yang lain. Misalnya, antara fungsi (aspek) jasmaniah dan rohaniah pada seorang anak. Bisa jadi, sementara perkembangan jasmaniah seorang anak berjalan cepat, aspek rohaniahnya terlambat ataupun sebaliknya. Tetapi bisa pula terjadi, perkembangan jasmaniah seorang anak terlambat sementara, karena saat itu ia sedang memikirksn pelajaran dengan serius untuk menghadapi ujian. Dan  masih banyak lagi contoh yang lain.
6.    Hukum tempo perkembangan
Berlangsungnya perkembangan pada anak yang satu , belum tentu sama dengan anak yang lain. Ada anak yang dalam perkembangannya kelihatan serba cepat, misalnya belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara, dan lain-lain, semuanya berlangsung  dengan lekas sekali. Sementara anak yang lain, dalam belajar hal-hal yang sama, terpaksa belajar amat lambat tidak lain semuanya ini menyangkut soal tempo perkembangan. Dan telah menjadi hukum yang pasti, bahwa setiap anak mempunyai kecepatan (tempo) perkembangan sendiri seniri. Jika memang ia termasuk cepat, maka tak bisa dihambat. Sebaliknya yang lambat, tak mungkin pula dipaksa-paksa untuk cepat.
Bahwa tempo perkembangan setiap anak itu berbeda, bisa kita lihat dalam praktek pendidikan di sekolah. Ada anak yang dalam setiap ujian mencapai prestasi baik, sehingga terus lancar naik kelas. Tetapi ada pula yang mengantongi banyak nilai merah, sehingga perlu mengulang dikelas yang sama tahun berikutnya. Juga bisa terlihat, perihal tempo perkembangan ini, dalam pelaksanaan sistem kredit semester. Satu segi, sistem tersebut bisa dipandang sebagai upaya untuk  menempatkan setiap siswa atau mahasiswa, sesuai dengan tempo perkembangan masing-masing. Mereka yang tempo perkembangan belajarnya cepat, akibatnya juga segera tamat. Sementara yang lambat, kata orang jawa: alon-alon pokoke kelakon, biar lambat asal selamat.
Kaum ibu suka membanding-bandingkan  perkembangan anaknya dengan perkembangan anak yang lain. Dari hasil-hasil percakapan antara dua orang ibu tentang perkembangan anak mereka masing-masing ternyata bahwa setiap perkembangan yang dialami berlangsung menurut tempo (kecepatan) masing-masing. Mereka mengatakan, dalam hal ini pengaruh pendidikan kecil sekali dan hanya berlaku untuk sementara waktu. Bila diperhatikan ternyata anak yang satu lebih lekas maju pada satu tugas perkembangan dari  yang dialami anak yang lain. Anak laki-laki lebih lekas merangkak, misalnya, sedangkan anak perempuan lebih pandai berbicara. Kadang-kadang anak pertama lebih cepat menjadi besar, sedangkan anak kedua agak lambatpertumbuhannya. Hal ini disebabkan tiap-tiap anak mempunyai sendiri tempo perkembangan.
BAB III
PENUTUP

    KESIMPULAN
Perkembangan merupakan perubahan yang terus menerus dialami, tetapi ia tetap menjadi kesatuan. Perkembangan berlangsung dengan perlahan-lahan melalui masa demi masa. Menurut hasil penelitian para ahli ternyata bahwa perkembangan jasmani dan rohani berlangsun menurut hukum-hukum perkembangan tertentu.  Hukum-hukum perkembangan itu terdiri dari:
Pertama:Hukum Konvergensi artinya perpaduan. Hukum ini mula-mula dipopulerkan oleh William Stern. Menurutnya, ada dua hal yang sama-sama penting dalam perkembangan seseorang: pertama pembawaannya sejak lahir, dan kedua pengaruh lingkungan dimana ia berada. Sebagai contoh: perkembangan seorang anak untuk “berdiri”. Kedua: Hukum masa peka, yang dimaksud ialah: suatu masa dimana sesuatu “fungsi” demikian baik berkembangannya, karena itu harus dilayani dan diberi kesempatan sebaik baiknya. Menurut pendapat yang masyhur, masa peka untuk sesuatu aspek kehidupan itu datangnya hanya sekali, artinya tak terulang lagi pada kesempatan yang lain. Ketiga: hukum rekapitulasi, Teori rekapitulasi mengatakan bahwa  perkembangan yang di alami seorang anak merupakan ulangan (secara cepat) sejarah kehidupan suatu bangsa yang berlangsung dengan lambat selama berabad-abad. Keempat: Hukum bertahan dan mengembangkan diri,Dalam kehidupan timbul dorongan dan hasrat untuk mempertahankan diri. Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian disusul dengan dorongan mengembangkan diri. Kelima: Hukum irama (ritme) perkembangan.Hukum ini menyatakan, bahwa berlngsungnya perkembangan itu tidak selalu “ajeg”, konstan, atau merata pada setiap waktu. Kadang-kadang suatu proses perkembangan berjalan lancar, tetapi biasa-biasa saja dari waktu kewaktu, dan ini di sebut “ajeg” sifatnya. Keenam: Hukum tempo perkembangan Berlangsungnya perkembangan pada anak yang satu , belum tentu sama dengan anak yang lain. Ada anak yang dalam perkembangannya kelihatan serba cepat, misalnya belajar merangkak, belajar berjalan, belajar berbicara, dan lain-lain, semuanya berlangsung  dengan lekas sekali. Sementara anak yang lain, dalam belajar hal-hal yang sama, terpaksa belajar amat lambat tidak lain semuanya ini menyangkut soal tempo perkembangan. Dan telah menjadi hukum yang pasti, bahwa setiap anak mempunyai kecepatan (tempo) perkembangan sendiri seniri.































DAFTAR PUSTAKA
 Zulkifli, psikologi perkembangan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006.
Bawain Imam. Drs, pengantar ilmu jiwa perkembangan, PT Bina Ilmu, surabaya, 1985
Subrata Sumardi, Psikologi pendidikan, CV  Rajawali pers, Jakarta, 1990.
Desmita, psikologi pekembangan, Rineka cipta, Bandung, 2006.
More aboutReview Makalah Hukum Perkembangan

Perkembangan Emosi Peserta Didik Remaja

Posted by Rumah Subsidi Malang


  1. Pengertian Perasaan dan Emosi
Perasaan sulit untuk didefinisikan secara persis. Menurut (Chaliplin,1989:163) perasaan sebagai pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh perangsang eksternal maupun bermacam- macam keadaan jasmani. (Max Scheber,1990:79) membagi perasaan menjadi empat kelompok,yaitu:
    1. Perasaan Pengindraan, yaitu yang berhubungan denngan pengindraan, misalnya rasa panas, dingin, dll.
    2. Perasaan Vital, yaitu yang dialami seseorang yang berhubungan keadaan tubuh, misalnya rasa lelah, lesu, segar, dll.
    3. Perasaan Psikis, yaitu perasaan yang menyebabkan perubahan- perubahan psikis, misalnyarasa senang, sedih, dll.
    4. Perasaan Pribadi, yaitu perasan yang dialami seseorang secara pribadi, misalnya terasing, suka, tidak suka.
Perasaan merupakan bagian dari emosi, tidak terdapat perbedaan yang jelas antara perasaan dan emosi. Emosi bersifat lebih intens dari perasaan, lebih ekspresif, ada kecenderungan untuk meletus, da emosi dapat timbul dari kombinasi beberapa perasaan, sehingga emosi mengan dung arti yang lebih kompleks dari perasaan.



  1. Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku
Teori yang membahas mengenai hubungan antara emosi dan gejala- gejalanya kejasmanian termasuk di dalam tingkah lakunya.
    1. Teori Sentral
Bedasarkan teori yang dikemukakan oleh W.B. Cannon gejala kejasmanian timbul akibat dari emosi yang dialami oleh individu. Sehingga, individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan- perubahan dalam jasmaninya.
    1. Teori Perifir
Teori ini dikenal dengan teori James-Lange karena W. James dan C. Lange dalam waktu yang hampir bersamaan menemukan teori tentang emosi yang mirip. Mereka berpendapat bahwa perubahan psikologis yang terjadi dalam emosi disebabkan oleh karena adanya perubahan fisiologis. perubahan  fisiologi ini menyebabkan perubahan psikologis yang disebut emosi. Menurut teori ini orang susah karena menangis, orang senang karena tertawa bukan tertawa karena senang.
    1. Teori Kedaruratan Emosi
Teori ini dikenal dengan teori Cannon-Bard karena teori W.B.Cannon diperkuat oleh P.Bard. teori ini menyatakan bahwa emosi merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergensi atau darurat (Bimo,1910:137, Singgih, 1992:131-135).
Dari teori di atas semakin memperjelas hubungan antara emosi dan gejala kejamanian atau tingkah laku. Dari kajian mengenai perilaku sehat dapat dijelaskan bahwa keadaan marah, takut cemas atau akeadaan terangsang lainnya menyebabkan tubuh memproduksi zat adrenalin. Sehingga, dalam waktu yang lama produksi adrenalin akan berlebihan yang mempengaruhi kerja sisitem tubuh. Tekanan darah meningkat, jantung berdetak lebih cepat, pernafasan terganggu, pencernaan berhenti sementara, dsb. Dalam kondisi kronis secara terus- menerus kesehatan menjadi terganggu, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi. Keduanya memicu timbulnya penyakit jantung dan stroke.
Emosi dapat berfungsi sebagai motif yang memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu berbuat atau bertingkah laku. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh emosi tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Hal ini dapat ditemui dalam kehidupan sehari- hari misalnya:
1)      Ketika kita mengetahui saudara kita tertimpa bencana, timbul rasa haru, simpati, kemudian kita tergerak untuk memberikan sumbangan.
2)      Sekelompok seporter sepakbola yang menyaksikan tim kesebelasan favorit kalah, timbul perasaan kecewa, jengkel, marah, lalu bertindak brutal dengan merusak stadion.
3)      Pelajar saling mengolok- olok kemudian timbul kemarahan, sakit hati, atau dendam, yang akhirnya menyebabkan perkelahian atau tawuran antar pelajar.
Emosi dapat menimbulkan akibat positif maupun negatif. Sebaiknya kita dapat mengelola emosi agar tidak menimbulkan dampak negative yang tidak diinginkan.



3. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi. Pada masa ini dipercaya merupakan masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga dan lingkungannya.
Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja juga menyebabkan adanya perubahan psikologis. Hurlock (1973: 17) disebut sebagai periode heightened emotionality, yaitu suatu keadaan dimana kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih intens dibandingkan dengan keadaan normal. Emosi yang tinggi dapat termanifestasikan dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi berkobar-kobar atau mudah meledak, bertengkar, tak bergairah, pemalas, membentuk mekanisme pertahanan diri. Emosi yang tinggi ini tidak berlangsung terus-menerus selama masa remaja. Dengan bertambahnya umur maka emosi yang tinggi akan mulai mereda atau menuju kondisi yang stabil.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
  1. Perubahan jasmani atau fisik
Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa puber menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi kondisi prikis remaja. Tidak setiap remaja siap menerima perubahan yang dialami, karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama perubahan tersebut mempengaruhi penampilannya. Hal ini menyebabkan rangsangan didalam tubuh remaja yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkembangan psikisnya, khususnya perkembangan emosinya.
  1. Perubahan dalam hubungan orang tua
Orang tua yang mendidik anaknya yang sedang beranjak dewasa dengan cara apa yang dianggap baik oleh orang tua, misal cara yang otoriter, penerapan disiplin yang terlalu  kaku, terlalu mengekang dapat menimbulkan ketegangan antara orang tua dan anak, yang akan mempengaruhi perkembangan emosinya. Kemudian jika penerapan hukuman dilakukan dengan cara yang tidak bijak dapat menyebabkan ketegangan yang lebih berat sehingga dapat menimbulkan pemberontakan pula, karena pada dasarnya ada kecenderungan remaja untuk melepas diri dari orang tua.

  1. Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
Pada awal remaja biasanya mereka suka membentuk gang yang biasanya pula memiliki tujuan yang positif untuk memenuhi minat bersama mereka, namun jika diteruskan pada masa remaja tengah atau remaja akhir para anggota mungkin membutuhkannya untuk melawan otoritas atau untuk melakukan yang tidak baik. Yang paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan percintaan antar lawan jenis dikalangan remaja. Percintaan dikalangan remaja juga terkadang manimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari pihak orang tua kalau terjadi hal-hal yang diluar batas sehingga mereka melarang anaknya pacaran.
  1. Perubahan dalam hubungannya dengan sekolah
Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sedikit banyak dapat menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus.
  1. Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru.
1)      Perubahan yang radikal menyebabkan perubahan terhadap pola kehidupannya.
2)      Adanya harapan sosial untuk perilaku yang lebih matang.
3)      Aspirasi yang tidak realistis.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, kiranya masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja atau peserta didik. Namun dari yang telah diuraikan diatas rasanya telah cukup banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.



5. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Emosi
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja individu. Kepribadian, lingkungan, pengalaman, kebudayaan, pendidikan, pendidikan, merupakan variabel yang sangat berperan dalam perkembangan emosi individu. Perbedaan individu juga dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kondisi atau keadaan individu yang bersangkutan, antara lain yaitu:
a)      Kondisi dasar individu
Berkaitan dengan struktur pribadi individu. Misalnya, ada yang mudah marah, ada juga yang susah marah.
b)      Kondisi psikis individu pada suatu waktu
Misalnya, saat sedang kalut, seseorang mudah tersinggungdibanding dalam keadaan normal.
c)      Kondisi jasmani individu
Pada saat sedang sakit biasanya lebih mudah perasa atau lebih mudah marah.


6. Upaya Mengembangkan  Emosi Remaja dan Implikasinya dalam Pendidikan
Telah diketahui bahwa pada masa remaja individu mengalami masa dimana kondisi emosinya meningkat. Peran orang tua, sekolah, dan masyarakat sangat diharapkan dalam rangka membantu para remaja untuk mengontrol dan mengelola emosinya kepada penyaluran yang positif.
  1. Orang tua
Orang tua diharapkan dapat memberikan lingkungan yang kondusif terhadap perkembangan emosi remaja.memberikan perhatian dan kasih Sayang, meningkatkan komunikasi dua arah, siap menerima keluhan dan mencarikan jalan keluar terhadap permasalahan yang dialami remaja akan memberikan suasana yang sejuk bagi remaja.
Tidak membrerikan tuntutan yang berlebihandan menghindari larangan yang tidak terlalu penting serta memberikan pengawasan dan perngarahan secukupnya merupakan hal yang menyanangkan bagi remaja. Pembatasan dan tuntutan terhadap remaja hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan remaja. Memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisinya.
Penegakan disiplin dilakukan dengan bijaksana. Penerapan disiplin yang mendidik disertai dengan suatu pengertian terhadap makna disiplin tersebut merupakan pilihan yang baik. Disiplin yang terlalu kaku atau keras, disertai hukuman badan dapat menimbulkan penolakan atau bahkan pemberontakan dari remaja. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan semua pihak.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah sikap konsisten dari orang tua. Ketidakkonsistenan orangtua dapat menimbulkan kebimbangan remaja dalam perilakunya. Remaja akan mengalami kesulitan dalam menarik simpulan atau mengambil pelajaran dari apa-apa yang yang telah diajarkan oleh orangtuannya. Selain itu diperlukan pula sikap yang tenang, berwibawa, dan arif bijaksana dalam menghadapi luapan emosi oleh para orangtua maupun pendidik.
b. Sekolah
Sekolah , tempat dimana remaja menghabiskan sebagian waktunya juga diharapkan dapat menyediakan tempat untuk mentransfer lmu penetehuan, sekolah diharapkan mampu menjadi tempat yang menyenangkan bagi remaja dengan menyediakan fasilitas yang bersifat rekreatif dan positif, sehingga remaja dapat menyalurkan aktifitasnya. Demikian juga pembuatan peraturan-peraturan dan penegakan disiplin di sekolah diharapkan dapat dilakukan dengan bijaksana sehingga mendapat tanggapan yang positif dari para peserta didiknya.tak ketinggalan peran para guru di sekolah.  Guru diharapkan mampu menjadi orangtua kedua di sekolah. Di samping memberikan ilmu pengetahuan juga memberikan teladan yang baik. Membina hubunga yang baik dengan peserta didik, sabar, pengertian, siap membantu peserta didik yang mengalami kesulitan atau permasalahan, tidak arogan dan sewenang-wenang merupakan sikap yang didambakan oleh para peserta didik untuk melakukan tugas dan kewajibannya dalam rangka mencapai prestasi yang tinggi.
c. Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat menjadi wahana yang baik bagi perkembangan emosi remaja. Menyediakan fasilitas untuk penyaluran emosi remaja secara positif dan memberi contoh yang baik atau memberikan norma-norma dalam mengontrol atau mengelola emosi.


B. Perkembangan Intelek Peserta Didik
Intelek atau intelegensi dalam dunia pendidikan dan pengajaran menempati posisi yang sangat strategis. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar.
1.      Pengertian Intelek Peserta Didik
Istilah intelak berasal dari kata intellect ( bahasa inggris ) yang berarti proses kognitif berpikir, daya menghubungkan, serta kemampuan menilai dan mempertimbangkan. Masyarakat umum mengenal intelegensi sebagai istilah yng menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem. Pandangan masyarakat umum tersebut waalaupunbelum memberikan arti yang jelas mengenai intelegensi, namun tidak berbeda jauh dari makna inelegensi sebagaimana yang didefinisikan oleh para ahli.
Banyak pengertian intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli. L.M Terman menyatakan bahwa intelegensi adalah kesanggupan untuk belajar secara abstrak. Terman membedakan antara kemampuan ( ability ) yang berhubungan dengan hal-hal yang konkret dan ability yang berrhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Orang dikatakan intelegen jika orang tersebut dapat berpikir abstrak dengan baik ( Azwar, 1996:5; Patty F. 1982:128 )
Sedangkan D. Wechsler, pencipta tes intelegensi yang masih populer sampai sekarang mendefinisikan intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak terarah atau bertujuan, berpikir secara rasional, serta dapat menghadapi lingkungannya dengan efektif. Selain itu masih banyak lagi ahli intelegensi dengan berbagai macam definisi mereka.
Berdasarkan definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli inelegensi, dapat dijelaskan pula bahwa yang dimaksud intelegensi adalah kemampuan relatif untuk melakukan berbagai macam fungsi mental, meliputi penelaran emahaman, mengingat, mengaplikasikan gambar( Furhman 1990:286 ).
Dalam mengkaji intelegensi, paling tidak ada dua pendekatan yang biasa dipakai, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif atau perkembangan. Pendekatan kuantitatif sebagaimana telah diuraikan secara singkat diatas, lebih menitikberatkan pembicaraan mengenai intelegensi dari sisi psikometris dan struktur intelegensi. Pendekatan psikometris memandang intelegensi sebagai sesuatu yang statis, yaitu serangkaian kemampuan yang dapat diukur. Sedangkan pendekatan perkembangan menekankan perbedaan secara kualitatif dalam proses berpikir didasarkan pada pengaruh kematangan dan lingkungan ( Furhman, 1990: 286 ). Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Jean Piaget.
Prinsip dari teori piaget menyatakan bahwa daya pikir atau kemampuan mental individu yang berbeda usia akan berbeda secara kualitatif. Piaget tidak melihat intelegensi sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif, sebagaimana umumnya dicermnkan oleh banyak jawaban benr pada suatu tes intelegensi. Oleh karena itumenurut piaget masalah utama dalam mebahas intelegensi adalah masalah cara mengungkapkan berbagai metode berpikir yang digunakan oleh individu dari berbaga tingkatan usia.
Piaget terkenal dengan teori mengenai perkembangan kognisi. Kognisi dapat dijelaskan sebagai pengertian yang luas, mengenai berpikir dan mengamati, atau tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian ataupun yang dibutuhkan untuk menggunakan pengertian ( Monks,dkk, 1999:208 ). Kognisi merupakan proses psikologis yang terlihat dalam memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan merangkap kegiatan belajar, memecahkan persoalan dan sebagainya.
Dalam menyusun teorinya piaget banyak dipengaruhi oleh ilmu biologi dan epistimologi. Piaget beranggapan bahwa setiap organisme mempunyai dua kecenderungan pokok, yaitu kecenderungan adaptasi dan organsasi. Adaptasi adalah kecenderungan bawaan dari organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecenderungan adaptasi ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungan disesuaikan dengan dirinya sendiri. Misalnya bila orang mau makan maka pencernaannya tidak perlu berubah, yang berubah adalah makanannya agar sesuai dengan struktur pencernaannya. Sedangkan akomodasi kecenderungan organisme untuk mengubah dirinya agar sesuai dengan lingkungannya. Misalnya seorang bayi akan meraih sesuatu maka bayi tersebut harus menyesuaikan pengamatan, posisi dan gerakannya agar dapat meraih benda tersebut.
Kecenderungan organisasi digambarkan sebagai kecenderungan bawaaan organisme untuk mengintegrasikan proses-proses yang berdiri sendiri menjad sistem yang koheren. Hubungan antara adaptasi dan organisasi yang bersifat komplementer. Bila organisme mengadakan organisasi maka ia akan mengasimilasi kejadian baru pada struktur yang sudah ada dan mengakomodasi struktur yang sudah ada untuk situasi baru. Selain itu piaget juga mengemukakan prinsip equilibrium atau keseimbangan. Prinsip ini menjaga agar perkembangan berjalan dengan teratur. Proses asimilasi dan akomodasi yang komplememter menyebabkan seseorang selalu mencapai keadaan yang seimbang. Keseimbangan di sini menunjuk pada relasi antara individu dengan lingkungan, terutama relasi antara struktur kogitif individu dengan struktur keliling.
Dalam bahasa piaget dapat dikatakan intelegensi adalah seluruh kemungkinan koordinasi yang memberi struktur kepada tingkah laku suatu organisme sebagai adaptasi mental terhadap situasi-situasi baru.
Dalam arti sempit intelegensi didasarkan pada intelegensi operasional, termasuk pada taraf-taraf bercirikan intelegensi tertentu(Piaget,1986:277)
Selanjutnya menurut piaget perkembangan kognisi dapat dibagi menjadi beberapa stadium. Hal ini berarti fungsi kognitif pada umur yang berbeda akan jelas dibedakan satu sama lain. Stadium yang berurutan ini menunjukan kemungkinan kognitif baru yang sebelumnya belum ada ( Monks,1999:217 ).
Stadium atau tahap perkembangan kognisi tersebut adalah :
a.       Tahap sensomotorik/ instingtif ( 0-2 tahun )
Tahap ini merupakan masa dimana segala tindakan tergantung melalui pengalaman indrawi. Anak melihat dan meresapkan apa yang terjadi,tetapi belum mempunyai cara untuk mengkategorikan pengalaman itu.
b.      Tahap pra-operasional / intuitif ( 2-7 tahun )
Dalam tahap ini individu tidak ditentukan oleh pengamatan inderawi saja,tetapi juga oleh intuisi.Anak mampu menyimpan kata-kata serta menggunakannya,terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan mereka.Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa,membaca,menyanyi.Menggunakan bahasa yang benar untuk berbicara pada anak akan mempunyai akibat yang baik bagi perkembangan bahasa mereka.Cara belajar yang memegang peran pada tahap ini adalah intuisi ( gerak hati). Pada tahap ini anak suka berkhayal. Intuisi membebaskan mereka dan semaunya berbicara, tanpa menghiraukan pengalaman konkrit dan paksaan dari luar. Sering kita lihat anak berbicara sendiri dengan benda-benda yang ada disekitarnya, misalnya pohon,anjing, kucing,dansebagainya yang menurut mereka benda-benda tersebut dapat mendengar dan berbicara. Peristiwa semacam ini baik untuk melatih diri anak untuk menggunakan kekayaan bahasanya. Piaget menyebut tahapan ini sebagai tahap “collective monolog”. Pembicara yang egosentris dan hubungan dengan orang yang sedikit sekali.
c.        Tahap konkrit operasional(7 -11 tahun)
            pada tahap ini anak sudah memahami hubungan fungsional, karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan. Cara berfikir anak masih konkrit belum menangkap yang abstrak. Dalam hal ini sering terjadi kesulitan antara orang tua dan guru. Misalnya orang tua ingin menolong anak mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi memakai cra yang berbeda dengan cara yang dipakai oleh guru, sehingga anak tidak setuju. Akibatnya cara yang ada tidak dimengerti semua.
d.       Tahap formal operasional (11 tahun keatas)
pada tahap ini individu mengembangkan pikiran formalnya. Mereka bisa mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan khiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan mereka yang lebih positif. Misalnya puisi lebih menguntungkan dari pada menonton. Praktek lebih baik atau lebih menguntungkan dari pada teori
2. Hubungan intelejensi dan tingkah laku
Orang yang mempunyai intelejensi tinggi adalah orang yang memiliki dan dapat menggunakan intelejensi atau kognisinya dengan baik.
 Sehubungan dengan hal tersebut  orang yang mempunyai intelejensi tinggi diharapkan dapat menampilkan tingkah laku intelejensi yang tercermin dari cara berfikir yang logis, cepat, mempunyai kemampuan abstraksi yang baik, mampu mendeteksi, menafsirkan, menyimpulkan, mengevaluasi,
 dan mengingat, menyelesaikan masalah dengan baik, bertindak terarah sesui dengan tujuan,
 dapat menyesuikan dengan tuntutan lingkungan yang baru, dan sebagainya. Atau dengan kata lain orang yang berintelejensi tinggi dapat bertindak efektif, cepat, dan tepat.
            Apabila dikaitkan dengan prestasi belajar, maka intelejensi merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi. Individu yang memiliki intelejensi yang tinggi diharapkan akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, karena intelejensi merupakan modal potensial yang memudahkan seseorang dalam belajar. Maka tidak salah kalau muncul anggapan bahwa intelejensi merupakan faktor yang menunjang prestasi belajar yang baik. Bahkan ada sebagian masyarakat yang menempatkan intelejensi melebihi porsi yang seharusnya. Mereka menganggap hasil tes intelejensi yang tinggi merupakan jaminian kesuksesan belajar seseorang sebaliknya intelejansi yang rendah merupakan vonis akhir bagi individu bahwa dirinya tidak mungkin mencapai prestasi belajar yang baik anggapan semacam ini tidaklah tepat, karena masih banyak faktor yang ikut menentukan prestasi. Anggapan yang tidak tepat tersebut bisa berdampak tidak baik bagi individu karena dapat melemahkan motifasi siswa untuk belajar yang justru dapat menjadi awal dari kegagalan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
            Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hubungan yang sistematis antara intelegensi dan prestasi belum dapat dinyatakan secara konklusif atau pasti beberapa temuan tidak secara konsisten memperlihatkan korelasi yang signifikan.hal ini mengisyaratkan bahwa pada situasi tertentu memang prestasi belajar ditentukan oleh faktor intelegensi,namun masih banyak faktor lain yang juga ikut berperan (Azwar,1996: 170)
            Belum lama ini ada issue hangat yang cukup menarik perhatian masyarakat dengan munculnya emotional intellegence atau kecerdasan emosi.

Sebelumnya banyak orang yang masih mempunyai keyakinan bahwa tingkat intelegensi (biasa dinyatakan dalam bentuk IQ atau intellegence quotient)yang tinggi akan menjamin kesuksesan di masa mendatang.tetapi pada kenyataannya tidak semua individu dengan ber-IQ tinggi bisa mencapai sukses di masa dewasanya. Sebaliknya individu dengan IQ rata-rata justru bisa lebih berhasil dari teman-temannya yang ber-IQ tinggi.menurut sebagian ahli halini disebabkan oleh IQ hanya mempengaruhi sebagian kecil atau menyumbang 20% dari faktor-faktor yang menentukan keberhasilan.
3. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Beberapa ciri pada tahap ini adalah :
a.       Individu mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak.
b.      Individu mampu melakukan introspeksi diri, sehingga kesadaran diri sendiri tercapai.
c.       Individu mulai mampu untuk membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa.
d.      Individu mulai mampu untuk menyadari dan memperhatikan kepentingan massyarakat di lingkungannya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
a.       Faktor Bawaan ( hereditas )
 Individu membawa gen-gen dari ayah dan ibunya. Sebagian dari gen tersebut memiliki sifat yang akan menurun. Jadi secara potensial individu telah membawa kemungkinan apakah dia akan mempunyai kemampuan normal, di bawah normal, atau di atas normal.
b.      Faktor Lingkungan
1)      Lingkungan Prenatal
Kondisi prenatal yang tidak baik dapat menganggu perkembagan individu. Malnutrisi dan kekurangan gizi yang dialalmi ibi pada saat hamil dapat mengakibatkan kerusakan otak pada janin.
2)      Lingkungan Pasca Natal
a)      Keluarga
Keluarga merupakan sumber pengalaman dan informasi. Disamping itu keluarga juga menjadi tumpuan anaj untuk dapat memuaskan segala kebutuhan baik fisik maupun psikis.
b)      Sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal yang memberi tanggungjawab untuk meningkatkan perkembangan anak, termasuk perkembangan intelektualnya.
5. Perbedaan Individu dalam Perkembangan/Kemampuan Intelektual
Individu membawa gen-gen yang diwarisi dari ayah ibunya.dengan demikian mereka telah membawa kemungkinan-kemungkinan tertentu dalam perkembangan intelektual mereka.hal ini berarti bahwa individu telah memiliki potensial untuk memiliki kemampuan pada tingkat normal,di atas normal,atau di bawah normal.namun sejauh mana potensial tersebut berkembang akan bergantung juga pada lingkungan.hereditas dan lingkungan saling berinterksi dalam mempengaruhi performansi.dengan kata lain hereditas menentukan apa yang dapat kita lakukan,sedangkan lingkungan menentukan apa yang dapat kita lakukan.dengan demikian perbedaan individu akan terjadi karena adanya variasi dari faktor hereditas dan variasi dari lingkungan
            Adanya perbedaan individu tersebut juga dapat dilihat dalam kemampuan menyerap pelajaran dan kecepatan belajar.ada siswa yang mudah menyerap pelajaran,ada yang sulit,ada yang cepat dalam memnyerap pelajaran ada yang membutuhkan waktu yang lama.perbedaan individual ini mungkin juga akan nampak dalam sikap dalam belajar,keterampilan belajar,proses belajar,dan dalam hasil belajar yang di capai.
           


6. Usaha –usaha Membantu Mengembangkan Kemampuan Intelektual Remaja dalam Proses  pembelajaran
            Salah satu tugas pendidikan yang mulia adalah  memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik untuk peserta didik sehingga mereka mendapat kesempatan untuk mewujudkan potensinya dalam hal ini adalah potensi intelektual secara optimal.intuk mewujudkan hal tersebut perlu diadakan upaya-upaya yang sungguh-sungguh dan terpadu dari berbagai pihak. Usaha-usaha tersebut dapat dilakukan oleh:
a.       Orang tua
1.      Orang tua diharapkan memberi stimulasi mental yang cukap. Merangsang dan memuaskan dorongan keingin tahuan anak.
2.      Memberi dorongan, semangat, serta meningkatkan perasaan mampu anak.
3.      Menyediakan sarana dan prasarana belajar yang memadai.
4.      Menciptakan situasi rumah yang kondusif untuk belajar.
5.      Memberikan gizi yang cukup.
b.      Sekolah
1.      Menyediakan sarana dan prasarana atau fasilitas belajar mengajar yang memmadai.
2.      Menerapkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, tarmasuk didalamnya mempertimbangkan adanya perbedaan individual paserta didik.
3.      Memberi kesempatan peserta didik untuj learning by doing (belajar sambil mengerjakan) atau praktek nyata, tidak hanya diberi penjelasan teoritis saja.




4.      Menciptakan situasi belajra mengajar yang membuat peserta didik mempunyai kebebasan dan keamanan psikologis. Disini peran guru sangat besar untuk menciptakan hal tersebut. Guru dapat memberikan kebebasan dan kesempatan peserta didik untuk mengungkapkan ide, pendapat. Guru memberikan penerimaan yang tulus, penuh pengertian, empati, dan menciptakan situasi yang tidak membuat peserta didik merasa terancam atau terteka. Guru memberikan semangat dan dorongan serta perasaan mampu bagi peserta didik.
c.       Pemerintah .
1.      Adanya  sistem pendidikan yang berkualitas dan relatif stabil, karena sisitem pendidikan yang berubah-ubah akan berdampaka tidak baik bagi pendidik maupun peeseta didik dan bisa mengakibatkan underachiever.
2.      Menetapkan kurikulum yang tidak terlalu sarat muatan, karena dapat menimbulkan akibat buruk bagi peserta didik, seperti : stress, tak bergairah dan motifasi menurun.

More aboutPerkembangan Emosi Peserta Didik Remaja