OBSERVAASI KEPRIBADIAN MASYARAKAT KOTA PASURUAN

Posted by anharul ulum

KEPRIBADIAN MASYARAKAT KOTA PASURUAN


Teori Kepribadian dalam Antropologi
Makhluk homo sapiens (manusia) memang sangat unik. Dikatakan unik karena kelakuannya tidak hanya ditentukan oleh sistem organik biologinya saja, tetapi juga oleh akal dan jiwanya. Susunan akal dan jiwa tersebut menentukan perbedaan tingkah laku dan tindakannya. Tingkah laku dan tindakan itulah yang disebut denga kepribadian. Dari situ, tidak heran jika kemudian kepribadian seorang individu homo sapien dengan yang lainnya akan berbeda. Terlebih lagi antara satu ras dengan ras lainnya. Tak ayal hal ini kemudian menarik para antropolog untuk mempelajari perbedaan kepribadian manusia sebagai salah satu kajian antropologi budaya.
Secara umum unsur-unsur kepribadian terdiri dari pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri. Pengetahuan diperoleh manusia dari penerimaan pancaindera dan reseptor organismenya terhadap berbagai getaran eter (cahaya dan warna), akustik (suara), bentuk bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat dan ringan), tekanan termikal (panas dan dingin), dan lainnya yang kemudian masuk ke sel-sel tertentu di bagian otaknya hingga memunculkan pengetahuan mengenai lingkungannya. Ada beberapa istilah dalam pengetahuan manusia ini, antara lain persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep, fantasi, dan bawah sadar.
Ketika penerimaan dan respon inderawi itu mengisi akal dan alam jiwanya yang sadar maka terjadilah proses psikologis yang menghasilkan bayangan dan penggambaran tentang lingkungannya yang kemudian disebut dengan perasaan. Pada sisi lain, manusia juga mempunyai perasaan khusus yang terkandung dalam organismenya yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya yang disebut dengan dorongan atau naluri. Naluri manusia ini bermacam-macam, seperti naluri untuk mempertahankan hidup, dorongan seksual, dorongan untuk mencari makan, dorongan untuk bergaul dan berinteraksi, dorongan untuk meniru sesamanya, dorongan untuk berbakti, dan dorongan akan keindahan.
Ilmu yang mempelajari tentang kepribadian manusia ini disebut psikologi. Namun seperti diketahui, antropologi tidak membicarakan mengenai individu-individu. Karena itu, berkaitan dengan kepribadian, yang dipelajari antropologi adalah mengenai kepribadian umum atau watak umum suatu masyarakat yang terangkum dalam adat istiadat, dan bukan individu-individu masyarakat. Yaitu seluruh pengetahuan, gagasan, konsep umum serta tingkah laku yang dianut oleh sebagian besar warga masyarakat yang berwujud pola-pola tindakan yang saling berkaitan, yang disebut dengan sistem sosial.
Pada mulanya para pakar etnografi dalam menggambarkan kepribadian atau watak umum suatu masyarakat hanya didasarkan atas persepsi dan kesan-kesan saja dari hasil pengalaman mereka dalam berinteraksi. Pengembangan secara ilmiyah baru muncul pada tahun 1930 ketika R. Linton memperkenalkan metode penelitian secara ilmiyah terhadap kepribadian umum suatu masyarakat. Hasilnya, pada tahun 1938 A. Kardiner mempublikasikan hasil penelitiannya terhadap masyarakat kepulauan Marquesas di Timur Pollinesia dan suku Tanala di Timur pulau Madagaskar dalam buku The Individual and His Society dengan memakai metode dan analisis psikologi.
Dari situ –dalam antropologi- kemudian dikenal adanya kepribadian dasar (basic personality structure) dalam setiap masyarakat yang menjadi ciri khas komunitas. Yaitu semua unsur kepribadian yang dimiliki bersama oleh sebagian besar warga masyarakat yang dihasilkan dari pengaruh kebudayaan yang sama selama masa tumbuh dan berkembangnya. Kepribadian dasar dan dasar Eitu tentu di luar kepribadian masing-masing individu masyarkat yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Penelitian terhadap kepribadian dasar dan watak umum itu dilakukan dengan metode pengumpulan data sampel dari masing-masing individu warga masyarakat yang menjadi obyek penelitian. Sampel tersebut kemudian diteliti kepribadiannya dengan test-test psikologi. Dan hasilnya tentu daftar ciri-ciri watak yang secara statistik ada pada prosentase yang besar dari individu-individu dalam sampel.
Asumsi keakuratan metode ini didasarkan pada suatu pendirian dalam ilmu psikologi bahwa ciri-ciri dan unsur watak seorang individu seorang dewasa sebenarnya sudah diletakkan benih-benih ke dalam jiwa seorang individu sejak ketika ia masih kanak-kanak. Pembentukan watak tersebut tentu dipengaruhi oleh pengalamannya ketika dia diasuh oleh keluarga dan kerumunan orang dalam lingkungannya. Oleh itu, karena dalam tiap kebudayaan cara pengasuhan anak menunjukkan keseragaman pola-pola adat dan norma-norma tertentu maka bila anak-anak tadi telah dewasa maka akan muncul keseragaman watak dan kepribadian yang akan menonjol sebagai kepribadian dasar. Berdasar konsep psikologi inilah para antropolog mempelajari adat-istiadat dan menduga adanya unsur kepribadian dasar suatu masyarakat.
Salah satu hal besar dari prinsip kepribadian dasar dalam antropologi di atas adalah tentang konsep yang kontras antara kepribadian orang-orang barat dan orang-orang timur. Pada mulanya hal itu tercantum dalam tulisan-tulisan para sarjana sejarah kebudayaan, parang pengarang kesusasteraan serta penyair barat ketika mereka menyinggung pandangan hidup manusia yang hidup dalam kebudayaan Asia, seperti kebudayaan Islam, Budha, Hindu, Konghucu, kebudayaan Thai, Jepang, Melayu, Indonesia, dll. Konsep kontras tersebut kemudian diambil alih oleh para pengarang dari Asia sendiri.  
Ada berbagai pandangan dalam konsep kontras kepribadian Barat dan Timur tersebut yang masih bersifat kabur. Persangkaan seringkali dikonklusikan bahwa kepribadian orang Timur mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, fikiran pre-logis, keramah-tamahan dan kehidupan kolektif (kegotong-royongan). Sedangkan kepribadian orang Barat mementingkan kehidupan material, fikiran logis, hubungan berdasarkan asas guna dan individualisme.
Asumsi mengenai kepribadian dasar masyarakat Timur di atas memang masih debatable dan membutuhkan kajian dan penelitian yang lebih mendalam untuk membuktikannya. Sebenarnya, berbagai kajian telah cukup banyak dilakukan oleh para peneliti dan antropolog terhadap hal tersebut. Seperti penelitian Margaret Mead yang meneliti tentang kepribadian masyarakat Bali yang dipublikasikan dalam bukunya, Children and Ritual in Bali (1955), G. Bateson dalam Balinese Character; A Photographic Analysis (1942), dan para antropolog dalam negeri yang sudah cukup banyak mempublikasikan penelitiannya. Oleh karena itu, penting kiranya di sini penulis mencoba melakukan observasi mengenai kepribadian masyarakat kota Pasuruan.


Kondisi Geografis, Historis-Sosiologis dan Antropologis Kota Pasuruan
Secara geografis, kota Pasuruan merupakan salah satu kota terpenting di Jawa Timur karena letaknya yang berada di kawasan tapal kuda. Sebagian masyarakatnya pun bekerja sebagai nelayan, di samping sebagai pedagang dan usaha jasa. Letaknya yang berada di pesisir laut Jawa menjadikan kota Pasuruan berkembang menjadi kawasan yang strategis untuk bongkar-muat serta keluar-masuk barang untuk di distribusikan ke kota-kota lain di Jawa Timur. Tak heran jika kota Pasuruan sejak berdirinya kemudian berkembang menjadi kota perdagangan yang strategis. Hingga tercatat dalam sejarah bahwa kota Pasuruan menjadi kota tujuan dan persinggahan utama para pengelana dan saudagar dari dalam dan luar negeri. Terlebih ketika para penjajah dari Spanyol dan Belanda masuk ke Indonesia. Bahkan, kolonial Belanda juga memasukkan Pasuruan sebagai kota penting dalam proyek prestisisus pembangunan jalan Anyer-Panarukan.
Hal terpenting dalam proses tersebut adalah masuknya para saudagar, pengelana dan pendatang yang berasal dari Cina dan Arab untuk singgah dan kemudian menetap di kota Pasuruan. Pasuruan pun berkembang menjadi kota dengan komunitas masyarakat terdiri dari empat etnis, yaitu Jawa, Madura, Cina dan Arab. Masyarakat Jawa sebagai masyarakat asli dan masyarakat Madura, Cina dan Arab sebagai masyarakat pendatang.
Pada awalnya masyarakat pendatang hanya didominasi oleh masyarakat etnis Madura saja. Akulturasi budaya pun terjadi hingga membentuk budaya masyarakat kota Pasuruan yang unik karena etnis Jawa dan Madura sama-sama memegang teguh nilai-nilai tradisinya. Contoh mudah adalah seperti gaya bahasa Jawa masyarakat Pasuruan yang bergaya menyentak seperti khasnya masyarakat Madura, penguasaan mayoritas masyarakat Jawa atas bahasa Madura serta masyarakat Madura atas bahasa Jawa, serta tradisi lainnya yang menampakkan adanya percampuran yang unik.
Ketika para saudagar dari Cina dan Arab datang, kota Pasuruan pun berkembang menjadi salah satu kota perdagangan terpenting di Jawa Timur sebagai transit sekaligus distributor masuknya barang-barang dari luar Jawa. Dalam perkembangannya, kaum Cina yang akhirnya mampu mendominasi penguasaan pasar di kota Pasuruan, sebab tujuan mereka memang untuk bisnis an sich. Selain itu sebagian dari mereka juga meneruskan rihlah bisnisnya ke pelosok kota di Jawa Timur. Yang jelas, sebagaimana masyarakat Madura, masyarakat etnis Cina ini tetap memegang teguh tradisinya, bahkan keturunannya. Karena itu hampir tidak ditemukan peristiwa perkawinan masyarakat Cina dengan non Cina di kota Pasuruan.

Etnis Arab sebagai Lapisan Masyarakat Baru
Adapun masyarakat Arab justeru bergeser menjadi kelompok masyarakat agamawan (baca; Ulama’), karena selain misi dagang mereka juga membawa misi dakwah Islam. Bahkan peran yang kedua ini justeru mendominasi peran-peran mereka yang lain. Dengan peran sosial-keagamaan yang mereka emban ini kemudian membawa mereka pada lapisan sosial tertinggi dalam struktur sosial masyarakat kota Pasuruan karena respon dan antusiasme masyarakat kota Pasuruan yang begitu kuat terhadap misi yang mereka emban sebagai pembawa doktrin Islam dan falsafah hidup bagi mereka. Para pendatang dari etnis Arab pun semakin kerap dilakukan dan mendominasi peran-peran sosial dalam masyarakat sebagai kelompok ulama’.
Menurut catatan sejarah menunjukkan bahwa para pendatang dari etnis Arab ini mayoritas berasal dari kelompok sadat dan habaib, sebuah sebutan bagi keturunan Rasulullah Saw yang menjadi kelompok agamawan dalam menyebarkan misi dakwah Islam. Sebagian besar dari mereka kemudian melakukan interaksi sosial-budaya dengan masyarakat pribumi (Jawa dan Madura) melalui proses perkawinan. Dan dengan peran agama yang mereka emban sebagai ulama, masyarakat pun memberi mereka gelar Kyai dan anak-anak mereka dipanggil Gus. Tercatat, diantara tokoh-tokoh ulama kharismatik yang disegani masyarakat Pasuruan adalah, Mbah Slagah, KH. Arsyad, KH. Yasin, KH. Ahmad Qusyari, KH. Aqib, KH. Ahmad Sahal, KH. Abdul Hamid, KH. Ahmad Sholeh, KH. Nasih, KH. Nu’man, dll.
Namun, di antara mereka ada juga yang tetap memegang teguh tradisi dan menjaga garis keturunan mereka secara ekslusif di antara etnisnya yang kemudian mereka ini dipanggil dengan sebutan habib (plural; habaib), dan anak-anak mereka dipanggil yek. Dan di antara para habaib yang amat disegani oleh masyarakat Pasuruan tercatat nama-nama Habib Ja’far b. >>>
Pada kelanjutannya kehadiran para Kyai dan Habaib (baca; ulama) dengan misi dakwah tersebut telah meletakkan mereka pada kedudukan yang tinggi dalam lapisan masyarakat Pasuruan sebagai kelompok masyarakat agamawan yang amat disegani dan dihormati, baik di kalangan masyarakat Jawa maupun Madura. Memang memerlukan sebuah penelitian untuk mengetahui alasan mengapa lapisan masyarakat baru dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat Pasuruan karena banyaknya faktor yang melatar-belakangi.
Salah satu faktor terpenting tersebut adalah budaya paternalistik (kegustian) yang lekat dalam budaya masyarakat Jawa dan Madura. Faktor ini kemudian mem-pengaruhi terjadinya proses mutual-reward sosial (saling memberi) di antara lapisan ulama dan lapisan masyarakat bawah karena hubungan sosial yang saling terkait di antara keduanya.
Hal ini dapat dimaklumi karena kalangan ulama telah mampu memberikan kebutuhan spiritual (Islam) yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan sebagai balasan sosial, masyarakat pun memberikan reward dengan memberikan penghormatan dan prestige sosial yang tinggi kepada kaum ulama.
Dalam hukum sosial, ketika kebutuhan masyarakat tersebut semakin tercukupi maka reward sosial yang diberikan masyarakat tentu akan semakin tinggi. Dan hal itulah yang terjadi dalam struktur sosial masyarakat kota Pasuruan, di mana ketika dampak dakwah dan pengajaran para ulama telah mampu merambah semua idealitas spiritual yang sesuai dengan keinginan masyarakat hingga mereka mendapatkan ketentraman sosial dan ketentraman spiritual (baca; hati) maka masyarakat pun bukan lagi sekedar menghormati mereka sebagai lapisan yang lebih tinggi dari mereka, tetapi juga menyerahkan totalitas ketertundukan mereka pada ulama.
Ini terbukti dari kegiatan dakwah dan syi’ar Islam yang dijalankan oleh para ulama semenjak pertama kalinya telah berhasil menciptakan situasi sosial yang agamistik (baca; Islami) dan menjadikan masyarakat kota Pasuruan hidup dalam suasana spiritualitas yang tinggi. Citra ini dianggap amat ideal bagi masyarakat kota Pasuruan yang memang mayoritas beragama Islam. Bahkan, setting kultur kaum ulama kota Pasuruan yang mayoritas berasal dari etnis Arab juga berdampak pada pada corak dakwah mereka yang terkesan doktriner, tegas dan lurus khasnya masyarakat Arab dalam menjalankan ajaran Islam. Sehingga hal ini  juga berpengaruh pada perilaku keberagamaan serta pemahaman keagamaan masyarakat kota Pasuruan yang terkesan sedikit kaku dan doktriner.
Pada sisi lain, corak dan perilaku dakwah para ulama tersebut juga membawa dampak simbol-simbol sosial dan corak perilaku masyarakat kota Pasuruan akrab dengan nuansa agamis. Seperti cara berpakaian mereka yang khas dengan sarung, kopyah (songkok) dan baju koko –walaupun bukan menjadi keharusan-, bahkan ketika masuk super-market dan pasar sekalipun. Terlebih lagi para ulama-nya yang nota bene pemilik otoritas keagamaan di masyarakat. Tak ayal, memakai sarung, kopyah dan baju koko merupakan keharusan, bahkan bila perlu memakai jubah (baju Arab) dan ‘imamah (serban di kepala) bila dalam waktu-waktu tertentu. Dan itu dilakukan untuk menjaga status sosial yang mereka miliki sebagai lapisan sosial masyarakat atas dan pemilik otoritas keagamaan. Karena itu, seorang ulama kota Pasuruan –baik Kyai maupun Habib- bila memakai celana dan atau tidak memakai kopyah tentu akan menjadi pemandangan yang aneh yang amat langka.
Dampak lain dari dakwah para ulama kota Pasuruan adalah akrabnya masyarakat kota Pasuruan dengan perilaku dan corak spiritualitas keagamaan yang kuat, walaupun hal seperti ini oleh kebanyakan orang dianggap sebagai hak pribadi seseorang. Namun masyarakat kota Pasuruan telah membuktikan tentang ketinggian nilai spiritualitas keagamaan ini sebagai gerakan yang harus dipraktik dan disosialisasikan dalam ruang publik masyarakat. Tidak heran jika antusiasme masyarakat Pasuruan terhadap ritual-ritual Islam, seperti ketika masuk waktu sembahyang, sholat Jum’at, pengajian, dll, serta acara-acara keagamaan, seperti haul, haflah pondok pesantren, dll, amat tinggi. Bahkan tidak jarang sebuah haul (peringatan atas kemangkatan seorang ulama akan dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan pendatang yang secara suka rela datang walaupun tanpa diundang).
Kondisi sosial di atas kemudian mendorong masyarakat kota Pasuruan untuk semakin mengembangkan kota Pasuruan dengan nilai keagamaan (Islam) –baik secara simbolistik, materi, nilai, konsep maupun moral- sebagai basis gerak dan ciri khas kota Pasuruan. Wajar jika kemudian kota Pasuruan mengusung slogan “Pasuruan sebagai kota Santri” sebagai motto dasar.

Agamis dan Paternalistik Terhadap Ulama  Sebagai Kepribadian Masyarakat Kota Pasuruan
Dari paparan di atas dapat kita fahami mengenai kedudukan kaum ulama –para Kyai dan Habaib- sebagai pemilik otoritas keagamaan di kota Pasuruan. Kedudukan ini mereka dapatkan –baik secara historis maupun geneologis- dari  peran mereka sebagai pendakwah hingga mampu merubah masyarakat kota Pasuruan yang majemuk –karena terdiri dari etnis Jawa, Madura, dan Cina- menjadi masyarakat yang agamis dan spiritualis. Mereka juga mampu merubah situasi sosial menjadi semarak dengan nuansa keagamaan, baik dalam simbol-simbol sosial, aspek material, spiritual, nilai sosial maupun konsep-konsep sosial yang kental dengan moralitas keagamaan (Islam) yang khas.
Kondisi sosial yang religius ini nampak masih sangat dijaga betul hingga sekarang oleh masyarakat kota, khususnya kalangan ulama yang memang dari awal telah memposisikan diri sebagai penjaga moral masyarakat dan pemilik otoritas keagamaan di kota Pasuruan. Karena itulah dapat disimpulkan bahwa masyarakat kota Pasuruan mempunyai kepribadian dasar sebagai masyarakat yang agamis dan religius.
Yang jelas, dengan melihat realitas sosio-historis yang demikian tidak heran jika kemudian kaum ulama (Kyai dan Habaib) kota Pasuruan menjadi lapisan masyarakat baru dengan status sosial yang tinggi di masyarakat, walaupun mereka merupakan masyarakat pendatang. Dedikasi, perjuangan dan jasa besar yang telah mereka berikan telah mampu merubah kondisi masyarakat dan kondisi sosial –bahkan kultural- sesuai dengan idealitas yang diinginkan oleh masyarakat kota Pasuruan. Oleh karena itu, sebagai reward atas usaha tersebut sekaligus sebagai pembuktian atas superioritas kaum ulama dan inferioritas mereka sebagai warga biasa, mereka pun memberikan penghormatan yang amat tinggi kepada kelompok agamawan tersebut.
Dalam tindakan rewarding tersebut, pengaruh watak dan sikap dasar masyarakat Madura dan Jawa yang paternalistik (ketertundukan) juga ikut mempengaruhi. Sehingga terkadang penghormatan itu dilakukan masyarakat secara berlebihan dengan menyerahkan totalitas ketertundukan mereka, baik secara aksi maupun orasi kepada kaum ulama. Karena itu tidak jarang ketika seorang Kyai atau Habib yang mereka kenal lewat akan langsung mereka disambut dengan salam dan mencium tangannya. Bahkan, fatwa seorang ulama yang mereka yakini akan dianggap lebih berharga daripada ucapan walikota yang menjadi pemimpin sosial mereka.  
Dari sana kemudian dapat disimpulkan juga bahwa kepribadian dasar masyarakat kota Pasuruan selain agamis juga paternalistik terhadap kaum ulama, baik Kyai maupun Habaib.

Wallahu A’lam bi al-Shawab

Daftar Pustaka
-                Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
-                T.O. Ihromi, Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta; Yayasan Obor Indonesia, 1999.

{ 1 comments... read them below or add one }

Zaky Danurejant mengatakan...

ijin copas taretan..

Posting Komentar