Tampilkan postingan dengan label filsafat ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat ilmu. Tampilkan semua postingan

Prinsip Metode Karakteristik Sains

Posted by Rumah Subsidi Malang


Sains
Prinsip, Metode, Aplikasi dan Karakteristik
Oleh : Anharul Ulum
A.    Pendahuluan
Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia yang berlangsung secara bertahap. Ilmu pengetahuan ini merupakan implementasi dari pengetahuan yang ada yang didasarkan pada rasio dan kaidah-kaidah yang ada. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui sesuatu yang lebih jelas lagi. Karena dengan ilmu pengetahuanlah manusia dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada di bumi ini dengan sebaik-baiknya tanpa mengadakan perusakan.
Pengertian ilmu dapat dirujukan pada kata Science (inggris), R Harre menulis ilmu pengetahuan adalah kumpulan teori yang sudah di uji coba yang menjelaskan tentang pola –pola yang teratur ataupun tidak teratur di antara fenomena yang dipelajari secara hati-hati.[1]
Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia bukan sekedar hidup, namun lebih dari itu. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mengembangkan kebudayaan, memberi makna pada kehidupan, dan memanusiakan diri dalam kehidupannya. Bahkan lebih luas lagi ilmu pengetahuan dapat membantu manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.
Pada masa modern sekarang ini, ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat. Muncul berbagai disiplin ilmu baru yang merupakan cabang dari ilmu pengetahuan yang sudah ada. Sehingga banyak manusia yang kebingungan untuk memilah ilmu mana yang seharusnya mereka pelajari untuk membantu mencapai tujuan mereka. Disamping itu juga terjadinya pembelajaran ilmu pengetahuan secara campuran yang mengakibatkan orang atau manusia kebingungan dengan karakteristik dan tujuan ilmu yang mereka pelajari.
Maka dari itu penulis akan mengungkap mengenai prinsip, metode, aplikasi dan karakteristik ilmu pengetahuan secara umum. Namun sebelumnya penulis akan menampilkan dahulu mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan agar memudahkan Kami dalam menganalisis karakternya masing-masing, yang Kami ambil dari berbagai referensi yang ada dan juga dari pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru, sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,b ila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik, sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem), dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab manusia diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.
Segala sesuatu yang ada, mesti harus dapat dipertanggungjawabkan keberadaanya secara ilmiah dengan mendasarkan pada argumentasi-argumentasi ilmiah, yaitu penjelasan yang logis dan pembuktian yang empirik. Untuk menjalankan proses tersebut filasat menawarkan tiga kosep dasar yang merupakan penyangga dari ilmu filsafat itu sendiri. Yaitu, ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dengan itu semua akan melahirkan ilmu pengetahuan, yang kemudian melalui interaksi budaya, manusia mampu mengembangkan ilmu tersebut.[2]
Jadi jelaslah bahwa tumbuh berkembangnya ilmu pengetahuan itu, akan seirama dengan tumbuh kembangnya peradaban umat manusia. Peradaban umat manusia, dimulai dengan kesadaran akan adanya Tuhan yang maha kuasa yang lalu mentumbuhkan keberagaman, dan diikuti dengan hasrat ingin tahu akan keberadaan dan proses terjadinya segala sesuatu di alam raya yang lalu melahirkan filsafat, yang merupakan induk yang melahirkan ilmu pengetahuan.
Sebelumnya saya ingin memberikan sedikit pengertian mengenai epistimologi, ontologi dan aksiologi sains guna menambah sidikit penjelas berkaitan dengan makalah ini. Epistimologi   adalah   pembahasan   mengenai   metode   yang digunakan   untuk mendapatkan  pengetahuan.  Epistimologi  sains  menjelaskan  tentang  objek  pengetahuan sains,  cara  memperoleh  pengetahuan  sains,  cara  mengukur  benar  tidaknya  pengetahuan sains. Ontologi  sains  merupakan  ilmu  yang  mempelajari  tentang  hakekat  dan  struktur sains.  Dan  hakikat  sains  menjawab  pertanyaan  apa  sains  itu  sebenarnya,  dan  struktur sains menjelaskan tentang cabang-cabang sains.   Dan penjelasan aksiologi sains saya letakkan pada subbab berikutnya untuk keselarasan sekaligus penjelsannya.
B.     Prinsip, Metode dan Aplikasi Science
Sains pada prinsipnya merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan lain-lain. Istilah common sense sering dianalogikan dengan good sense, karena seseorang dapat menerima dengan baik. Jadi, kaitannya dengan sains, sains beranjak dari common sense, dari peristiwa sehari-hari yang dialami manusia namun terus dilanjutkan dengan suatu pemikiran yang logis dan teruji.
Sains merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya menggambarkan dan memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di alam.
Sains (pengetahuan) juga kumpulan pengetahuan tentang sesuatu kenyataan yang tersusun secara sistematis, dari usaha manusia yang dilakukan dengan penyelidikan, pengamalan dan percobaan-percobaan. Bahasa yang lebih sederhana, sains adalah cara ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan menggunakan metode tertentu. Sains dengan definisi diatas seringkali disebut dengan sains murni, untuk membedakannya dengan sains terapan, yang merupakan aplikasi sains yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Metode dalam ilmu pengetahuan yang berkembang dari abad ke-17 dan sampai sekarang masih digunakan untuk membedakan antara ilmu pengetahuan yang asli di satu sisi dan pseudosains atau ilmu pengetahuan yang palsu dari sisi yang lain. Disini saya berfokus terutama pada metode induksi dan bagaimana dampak penggunaan dari metode tersebut pada dunia ilmu pengetahuan pada umumnya. Lalu kemudian, apakah teori-teori ilmu pengetahuan dapat mencapai tahap kebenaran mutlak dengan menyandarkan pada bukti-bukti yang mereka punya untuk mendukung argumentasi.
Lahirnya ilmu pengetahuan modern membuat semacam ideal tentang bentuk pengetahuan tertentu. Akan tetapi dalam proses selanjutnya, ideal tersebut tetap di tataran normatif, dan tidak pernah sungguh-sunggu diwujudkan dalam praktek. Lalu apakah kemudian suatu pernyataan ilmiah sungguh-sungguh mendiskripsikan dunia objektif, dunia fisik, dan bukan gambaran-gambaran yang hanya muncul dalam pikiran kita saja. Metode sainstifik dirumuskan dengan tujuan sedapat mungkin menghilangkan semua bias personal dan mendapatkan pengetahuan berdasarkan bukti-bukti faktual yang ada.[3]
Salah satu tanda dari ilmu pengetahuan adalah pentingnya bukti-bukti yang kuat dan dapat ditempatkan dalam kerangka teori umum. Proses perumusan teori hanya dapat sampai pada tahap probabilitas, ini adalah dari pernyataan yang bersifat partikular menuju pernyataan umum yang universal dalam dunia. Salah satu prinsip induksi, seperti dikatakan oleh Bertrand Rusell adalah bahwa semakin sering dua objek diamati secara bersama-sama maka semakin kuatlah asumsi bahwa dua objek tersebut terkait secara kasual, yakni yang satu menyebabkan yang lain, dan sebaliknya.[4]
Metode Induksi adalah suatu pendekatan untuk memperoleh pengetahuan dengan didasarkan pada imperialitas pengumpulan data sehingga informasi yang didapat dari data tersebut dapat dicek, dan kemudian dirumuskan kesimpulan berdasarkan atasnya. Secara praktis metode induksi menempuh sitidaknya enam langkah.
Pertama, bukti-bukti dikumpulkan dan faktor-faktor yang tidak relevan dengan penelitian segera disingkirkan. Kedua, kesimpulan diambil dari bukti-bukti itu yang kemudian bermuara pada terbentuknya hipotesis. Ketiga, eksperimen dilakukan untuk menguji validitas hipotesis. Tujuannya adalah untuk menemukan prediksi yang tepat didalam eksperimen-eksperimen berikutnya. Keempat, jika diperlukan hipotesis akan diubah untuk menampung berbagai data yang muncul dari eksperimen yang lebih baru. Kelima, setelah menempuh empat proses diatas, teori umumnyapun dirumuskan, yakni teori yang terkait dengan hipotesis dan data-data eksperimental. Keenam, teori umum tersebut akan sering digunakan untuk membuat semacam prediksi.
Semua teori ilmu pengetahuan, termasuk yang berbasis pada metode induksi, hanya dapat menyimpukan sampai tahap probabilitas. Selalu ada kesempatan, muncul data-data baru yang menunjukkan bahwa teori lama tidak lagi memadai. Suatu teori sering kali hanya opresional pada ruang lingkup yang terbatas, sehingga ditempat lain, atau disituasi yang berbeda, teori tersebut tidaklah bekerja. Ruang dan waktu adalah sistem ikatan umum semua kemungkinan, selama sistem tersebut dibatasi relevansinya bagi fakta aktualitas umum. Karena kemungkinan adalah ada sesuatu yang memiliki kemampuan untuk dicapai, yang diabstraksikan dari pencapaian.[5]
Bahkan, ada teori yang memiliki daya penjelas yang sangat kuat sehingga tampak bersifat mutlak, teori didalam ilmu pengetahuan yang meggunakan metode induksi selalu dapat di falsifikasi, yakni dicari bukti-bukti baru yang mungkin dapat membuktikan ketidakmutlakan teori tersebut, bahkan seperti dikatan Karl Proper, teori ilmiah tidak dapat disebut teori, jika teori tersebut tidak dapat dibuktikan keabsahannya.[6] Sains yang normal berupaya dan harus secara sinambung berupaya membawa teori dan fakta kepada manusia yang lebih dekat dan kegiatan itu dapat dengan mudah dilihat sebagai penguji atau pencari pengukuhan, atau falsifikasi. Akan tetpi tujuannya adalah memecahkan teka-teki yang eksistensinya harus diasumsikan kesahihan paradikmanya.[7]
David Hume, menunjukkan bahwa hukum-hukum didalam ilmu pengetahuan hanyalah merupakan ringkasan dari apa yang telah dialami sejauh ini. Semakin banyak bukti yang mengkonfirmasi trsebut, semakin tinggilah tingkat probabilitasnya. Akan tetapi tidak satupun bukti-bukti didunia ini yang dapat menuntun klaim hukum tersebut menuju kepastian mutlak. Hume berpendapat bahwa proses manusia mengamati dunianya selalu melibatkan kemampuan rasio manusia sehingga pengamatan itu bersifat terbatas. Dengan demikian, pengetahuan kita akan dunia, tidak akan pernah mutlak. Cara kita mengamati dan melihat dunia ini juga bukanlah satu-satunya, melainkan salah satu saja. Bagi Kant pada kemudian hari, manusia hanya mampu mengetahui benda sebagai penampakan dan bukan benda pada dirinya sendiri.
Pada abad ke-20, muncul aliran baru di dalam filsafat yang disebut sebagai positivme logis. Para pemikir yang ada didalam aliran itu berpendapat bahwa bahasa dan makna haruslah dimengerti dalam kerangka metode sainstifik, yakni menggunakan bukti-bukti empiris sebagai kreteria bagi validitas. Dengan kata lain, maka haruslah dapat diverivikasi, seperti bukti-bukti lainnya pada ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, kriteria validitas suatu pernyataan ilmiah bukan hanya koherensi matematis dengan prinsip-prinsip logis (apriori), tetapi juga tergantung pada bukti-bukti empiris (aposteriori).
Goodman berkata bahwa, memang pengalaman dengan pola yang sama yang berulang membawa kita menciptakan semacam kebiasaan dipikiran kita, yakni karena kita melihat pola tersebut terkait dua benda yang berbeda, sehingga tampak yang satu akan mengakibatkan yang lain. Dengan begitu, segala sesuatupun diprediksi dengan asumsi bahwa pola yang sama pasti akan berulang, sehingga menciptakan kebiasaan.
Pengamatan akan fakta partikular akan bermuara pada penciptaan semacam aturan didalam pikiran yang dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Poin disini adalah bahwa masa lalu tidak memiliki pengaruh logis yang bersifat niscaya terhadap masa depan. Dengan kata lain, fakta bahwa sesuatu yang terjadi dimasa lalu belum pasti hal tersebut akan berulang pada masa depan. Dan sebaliknya.
Dari hal ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada semacam lingkaran epistemologis didalam proses induksi, yakni bahwa aturan-aturan umum selalu ditentukan oleh gejala partikular, dan prediksi atas gejala partikular pun ditentukan oleh aturan-aturan kuasalitas yang bersifat umum. Ada semacam interaksi timbal balik antara anturan umum dengan gejala partikular. Oleh sebab itu, jika suatu teori dikatakan berhasil menjelaskan sesuatu, teori itu berhasil, tetapi tidak ada kepastian teori itu akan terus berhasil. Goodman berkata yang terpenting bukanlah prediksi mana yang benar secara mutlak, melainkan apa perbedaan yang mendasar nantara prediksi yang sah, dan perdiksi yang tidak sah? Jawabannya adalah kreadibilitas aturan yang digunkaan sebagai alat prediksi. Semakin kredibel aturan tersebut, makin kuatlah daya prediksi teori.[8]
Problem bukanlah lagi tentang bagaimana suatu hukum yang berasal dari gejala partikular dapat dipertangungjawabkan, tetapi bagaimana suatu hipotesis yang berawal dari gejala partikular dapat memadai, dan yang tidak. Dengan kata lain, gajala partikula manakah yang dapa digeneralisasikan sehingga valid untuk dijadikan dasar bagi suatu teori? Jawabannya adalah hipotesis dalam bentuk hukum, dan bukan hipotesis dalam bentuk aksidental. Ini adalah salah satu problem epistemologis besar didalam filsafat ilmu modern.
Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah "teori tentang nilai". Sedangkan pengertian Aksiologi menurut Jujun S. Suriasumantri adalah teori, nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.[9]
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai bentuk.Dalam kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tentang nilai-nilai khususnya etika.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya menimbulkan bencana.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Kallsolt, 2004:318). Tafsir (2007: 25) berpendapat bahwa aksiologi adalah penerapan pengetahuan, jadi dibahas mulai dari klasifikasinya, kemudian dengan melihat tujuan pengetahuan itu sendiri, akhirnya dilihat perkembangannya. Aksiologi sains membahas tentang kegunaan sains, cara sains menyelesaikan masalah, dan netralitas sains. Sebenarnya yang kedua merupakan contoh aplikasi yang pertama.
Kegunaan Sains
Ada tiga kegunaan sains, yaitu sebagai alat pembuat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol:[10]
a.       Teori sebagai Alat Eksplanasi
Menurut T. Jacob dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa sains merupakan suatu system eksplanasi yang paling dapat di andalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam memahami masa lampau, sekarang, serta merubah masa depan. Contoh dari teori ini akhir tahun 1997 di Indonesia terjadi gejolak moneter, yaitu nilai rupiah naik. Semakin murah dibandingkan dengan dolar ( kurs rupiah terhadap dolar menurun). Gejolak ini telah memberikan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan di Indonesia. Gejalanya ialah harga semakin tinggi dan cara menerangkan gejala ini ialah teori-teori ekonomi (mungkin juga politik) dapat menerangkan (mengeksplanasikan) gejala itu. Teori ekonomi mengatakan karena banyaknya hutang luar negeri jatuh tempo (harus di bayar), hutang itu harus di bayar dengan dolar, maka banyak sekali orang yang memerlukan dolar, maka harga dolaar naik dalam rupiah.
b.      Teori sebagai Alat Peramal
Ketika membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui faktor penyebab terjadinya gejala itu. Dengan mempertimbangkan factor penyebab itu, ilmuwan membuat ramalan. Dalam bahasa ilmuwan ramalan disebut prediksi, untuk membedakan dari ramalan dukun.
Dalam contoh kurs dolar tadi, dengan mudah orang ahli meramal. Misalnya, karena di kemudian bulan hutang luar negeri jatuh tempo semakin banyak, maka di prediksikan kurs rupiah terhadap dolar akan semakin lemah. Ramalan lain misalnya, harga barang dan jasa pada bulan mendatang akan naik.
 c. Teori sebagai Alat Pengontrol
Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat prediksi dan control. Ilmuwan, selain mampu membuat prediksi berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat control. Sebagai contoh agar kurs rupiah menguat, perlu di tangguhkan pembayaran hutang yang jatuh tempo, jadi pembayaran hutang di undur. Kita dapat mengontrol kurs rupiah terhadap dolar agar tidak naik dengan cara menangguhkan pembayaran hutang terhadap dolar atau dengan menangguhkan pembangunan proyek yang memerlukan bahan import. Kontrol merupakan tindakan yang di duga dapat mencegah terajdinya gejala yang tidak diharapkan.
Cara Sains Menyelesaikan Masalah
Sains menyelesaikan masalah dengan cara yang pertama, mengidentifikasi masalah. Kedua, mencari teori tentang sebab-sebab masalah tersebut. Ketiga, kembali membaca literature lagi. Ilmuan dalam studinya tentang sekelompok fenomena melakukan tiga tahapan kerja, antara lain :
 Mula-mula sekali di himpun fakta-fakta atau data dari obyek studinya. Apabila fakta-fakta telah terkumpul, maka dapat melangkah ketahap berikutnya. Pelukisan fakta-fakta, dengan cara, membentuk defenisi dan pelukisan umum, melakukan analisis tentang fakta-fakta itu, mengklasifikasikan fakta-fakta itu.
Setelah fakta-fakta ini terlukiskan maka sampailah ia ke tahap terakhir, penjelasan fakta-fakta dengan jalan sebagai berikut : Menentukan sebab-sebab (dengan menentukan hal-hal yang mendahului peristiwa). Merumuskan hukum (dengan penentuan keserba tetapan peristiwa)
Netralitas Sains
Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial, agama.Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai Netralitas pengetahuan (value free). Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai.
Netral biasanya diartikan tidak memihak. Dalam kata “sain netral” pengertian itu juga terpakai. Artinya sains tidak memihak pada kebaikan dan tidak juga pada kejahatan. Itulah sebabnya istilah sains netral sering dig anti dengan istilah sains bebas nilai (value free). Sedangkan lawannya ialah sains terikat (value bound). Sains netral mempunyai keuntungan bahwa sains netral perkembangannta akan cepat terjadi karena tidak ada yang menghambat atau menghalangi tatkala peneliti memilih dan menetapkan objek yang hendak diteliti, cara meneliti, dan tatkala menggunakan produk penelitian.
C.    Karakteristik
Beberapa orang mencoba menghubung-hubungkan sains dengan agama, atau sains dengan mitos atau yang terbaru, mengatakan kalau sains hanyalah budaya barat. Karena itu, kita harusnya paham apa saja sifat sains sesungguhnya. Berikut saya sertakan beberapa sifat sains yang telah diterima luas di kalangan ilmuan.
1.      Objektif
Sains itu objektif artinya, sains tidak boleh mengatasnamakan pokoknya, dalam sains keyakinan tidak menjamin kebenaran, suara banyak tidak menjamin kebenaran, satu-satunya hakim dalam perselisihan ilmiah adalah fenomena atau fakta. Dalam wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedi bebas objektif adalah pertimbangan antara hubungan sesuatu dengan obyeknya. objektif dalam keilmuan berarti upaya-upaya untuk menangkap sifat alamiah (mengindentifikasi) sebuah objek yang sedang diteliti/ dipelajari dengan suatu cara dimana hasilnya tidak tergantung pada fasilitas apapun dari subjek yang menyelidikinya.[11]
Setiap ilmu memiliki objek yang menjadi pusat kajian. Objek yang dikaji dalam mempelajari suatu ilmu biasanya bersifat spesifik. Contohnya ilmu matematia, ilmu biologi, kesenian dll.
2.      Logis dan Rasional
Logis, berkaitan dengan logika. Logika adalah suatu cara dan kemampuan berfikir berdasarkan beberapa aksioma dan dalil-dalil yang dianggap benar. Dalam Wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin:logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
Istilah logis dan rasional sangat tidak asing. Dua kata tersebut setidaknya dalam satu hari punya porsi sendiri untuk masuk ke telinga atau mata baca kita. Terkesan memang tidak ada perbedaan, sama persis barangkali. Versi kamusnya, kalau kita mencari kata logis; benar menurut penalaran, sedangkan rasional; cocok dengan akal. Tipis sekali. Namun saya rasa penting untuk membuat kapling tersendiri dalam membahas perbedaan kata ini. Paling tidak kita dapat mengetahui posisi sains menurut sudut pandang Islam serta keseimbangan porsinya dalam hidup di dunia. Kurang lebihnya pembedaan tersebut diawali dengan teori Kant, yang menyatakan bahwa rasional itu adalah kebenaran akal yang diukur dengan hukum alam. Atau dengan kata lain, rasional adalah pemikiran yang baru disebut masuk akal, jika tolak ukurnya hukum alam.
Salah satu penjelasannya akan kita dapati dari cerita Nabi Ibrahim yang tidak hangus dibakar api. Menurut hukum alam hal tersebut tidak rasional karena Nabi Ibrahim termasuk materi yang hangus jika dibakar. Di lain sisi, kita dapati fakta tentang pesawat terbang yang tetap bisa menjulang tinggi ke langit walaupun beratnya ratusan ton. Ya, karena telah dirancang sesuai dengan hukum alam, dan itu rasional. Dapat ditegaskan lagi, bahwa akal pastinya diukur dengan hukum alam, dan kebenaran rasional tersebut sangat terikat dengan hukum alam.
Sementara itu tentang logis, kebenarannya dibagi menjadi dua. Yang pertama logis-rasional seperti telah diuraikan tadi, yang kedua logis-supra-rasional. Untuk yang kedua ini titik tolaknya bukan pada hukum alam, tetap pada argumen. Bila argumennya masuk akal, maka dapat diterima. Dengan kata lain, ukuran kebenaran logis-supra-rasional adalah logika dalam susunan argumen yang bersifat abstrak, meskipun melawan hukum alam, yang karena logis tetap sah dan autentik untuk diterima.

3.      Memiliki metode
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan tidak dilakukan secara asal-asalan. Tetapi memerlukan metode khusus. Metode yang digunakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan disebut metode ilmiah. Metode ilmiah di gunakan untuk meneliti dan mempelajari suatu objek sehingga ditemukan kebenaran. Ilmu yang dikembangkan dengan menggunakan metode ini kebenaranya akan diakui secara ilmiah oleh seluruh pakar ilmu pengetahuan yang berlaku sampai ada bukti baru yang menentang atau menggugurkannya. Ada dua hal yang kiranya cukup jelas membedakan antara suatu teori ilmu pengetahuan deng klaim opini biasa, yakni hakikat dari kesimpulan yang dibuat oleh metode yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan itu.[12]
4.      Bersifat sistematis
Ilmu pengetahuan harus bersifat sistematis. Maksudnya adalah ilmu pengetahuan harus tersusun secara sistematis dari yang sederhana hingga yang kompleks yang diatur sedemikian rupa sehingga yang satu dan yang lainnya dapat saling mendukung. Sifat sistematis ini bertujuan untuk mempermudah dalam mempelajari ilmu tersebut. Dengan demikian maka ilmu merupakan tubuh pengetahuan yang tersusun dan terorganisasi dengan baik.[13] Sistematis adalah segala usaha untuk menguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya.[14]
5.      Bersifat Universal
Ilmu pengetahuan harus bersifat universal, maksudnya adalah kebenaran yang disajikan dalam ilmu pengetahuan harus berlaku secara umum dan diterima di semua institusi pendidikan. Sifat universal ini selain bertujuan untuk mempermudah dalam pembelajaran juga agar tercipta suatu keseragaman. Sehingga kebenaran yang diungkapkan dapat di terima diseluruh pelosok dunia.
Tidaklah bisa dikatakan sebuah ilmu pengetahuan apabila hanya terdapat dapat pada daerah tertentu yang diyakini oleh orang orang pada tertentu. Pengakuan dari keseluruhanlah, yang menjadi suatu sifat dikatakan sebagai ilmu.

6.      Bersifat Verifikatif
Artinya pernyataan yang berupa kebenaran dalam ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat terbuka atau verifikatif. Sehingga bila suatu masa di temukan bukti-bukti baru yang tidak mendukung kebenaran yang semula maka teori tersebut dapat di tumbangkan untuk memberi tempat pada kebenaran yang baru yang lebih relevan. Suatu teori dianggap memadai jika teoritersebut dapat difalsifikasi, atau ditemukan bukti-bukti yang nyata yang bertentangan dengan teori. Jika suatu teori tidak dapat difalsifikasi dan tidak ditemukan bukti-bukti yang nyata maka teori itu dianggap sebagai dokma dan tidak berguna.[15]


Referensi
Adib Muhammad. 2011. Filsafat Imu. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Ekawati Dien. 2013. Reorientasi ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam perkembangan sains. Jurnal Tarbiyah volume 10 nomer 2.
Wattimena RezaA.A. 2008. Filsafat dan Sains. Jakarta: Grasindo.
Alred North Whitehead. 2005. Sains Dan Dunia Modern, terj. Komarudin. Bandung: Nuansa.
Thokmas S. Kun, Filsafat Imu, terj. Tjun Surjaman. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hal. 80
Burhannudin Afid. 2013. Epistimologi, Ontologi, Aksiologi, Pengetahuan Sains. Filsafat ilmu. Wikipedia bahasa indonesia.



[1] Muhammad Adib, Filsafat Imu, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 46
[2] Dien Ekawati, Reorientasi ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam perkembangan sains. Jurnal Tarbiyah volume 10 nomer 2 edisi Desember 2013. Hal. 76
[3] RezaA.A Wattimena, Filsafat dan Sains, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 161
[4] RezaA.A Wattimena, Filsafat dan Sains, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 161


[5] Alred North Whitehead, Sains Dan Dunia Modern, terj. Komarudin (Bandung: Nuansa, 2005), hal. 179
[6] RezaA.A Wattimena, Filsafat dan Sains, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 164
[7] Thokmas S. Kun, Filsafat Imu, terj. Tjun Surjaman. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hal. 80
[8] RezaA.A Wattimena, Filsafat dan Sains, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 164
[9] Dien Ekawati, Reorientasi ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam perkembangan sains. Jurnal Tarbiyah volume 10 nomer 2 edisi Desember 2013. Hal. 82
[10] Afid Burhannudin. Epistimologi, Ontologi, Aksiologi, Pengetahuan Sains. Filsafat ilmu 21 april 2013
[11] Wikipedia bahasa indonesia, ensiklopedia bebas
[12] RezaA.A Wattimena, Filsafat dan Sains, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 174
[13] Muhammad Adib, Filsafat Imu, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 114
[14] Wikipedia bahasa Indonesia, Sistematis.
[15] RezaA.A Wattimena, Filsafat dan Sains, (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 176
More aboutPrinsip Metode Karakteristik Sains

Review Artikel Filsafat Ilmu

Posted by Rumah Subsidi Malang


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan modern ini banyak ilmu pengetahuan yang berkembang dan sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Baik ilmu pengetahuan yang membahas tentang fenomena-fenomena kehidupan duniawi maupun ilmu pengetahuan yang membahas tentang kehidupan akhirat.
Ilmu pengetahuan yang membahas tentang berbagai fenomena-fenomena kehidupan yang terjadi di kehidupan dunia seperti Biologi yang membahas tentang makhluk hidup baik hewan, tumbuh-tumbuhan maupun manusia, Geografi yang membahas tentang fenomena-fenomena yang terjadi di bumi mengenai troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer, eksosfer dll, Ilmu Pengetahuan Sosial yang membahas tentang kehidupan sosial manusia dalam, Sains dan Teknologi yang membahas tentang ilmu eksak seperti matematika, kimia, fisika dan lain-lain. Sedangkan ilmu pengetahuan yang membahas tentang pengetahuan yang menyankut kehidupan di akhirat seperti ilmu tauhid, ilmu tasawuf dan lain sebagainya.
Dari berbagai ilmu pengetahuan tersebut, manusia dapat mengetahui semua bentuk kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan dunia maupun di akhirat. Namun manusia masih banyak yang belum mengetahui tentang apa yang di maksud dengan ilmu pengetahuan, objek dan metode dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu saya akan membahas tentang pengertian ilmu pengetahuan, objek dan metode ilmu pengetahuan dalam makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Metafisika
Filsafat memiliki cabang-cabang yang berkembang sesuai dengan persoalan filsafat yang mana filsafat timbul karena adanya persoalan-peersoalan yang di hadapi oleh manusia. Setelah adanya persoalan-persoalan tersebut maka muncullah cabang-cabang filsafat. Dimana cabang-cabang filsafat yang tradisional itu terdiri atas empat yaitu logika,metafisika,epistemologi,dan etika. Namun demikian berangsur-angsur berkembang sejalan dengan persoalan yang di hadapi oleh manusia. Untuk mempermudah pemahaman kita perlu diutarakan kepada cabang-cabang filsafat yang pokok,yaitu:
Metafisika digunakan untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Dimana didalam metafisika terdapat persoalan -persoalan yang dapat di rinci menjadi 3 macam yaitu:
a.       Ontologi
b.      Kosmologi
c.       Antropologi
Aliran -aliran dalam metafisika cabang-cabang filsafat menimbulkan aliran-aliran filsafat sebagai berikut :
1.                Segi kuantitas; dipandang dari segi kuantitas maka muncullah aliran -aliran filsafat antara lain:
a.       Mononisme; aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan yang terdalam (yang funda mental)
b.      Dualisme; yaitu aliran yang menyatakan adanya dua substansi pokok yang masing-masing berdiri sendiri.
c.       Pluralisme; yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui adanya satu substansi atau hanya dua substansi melaikan mengakui adanya banyak substansi .
2.                Dari segi kualitas; di mana di lihat dari segi kualitasnya yaitu dipandang dari segi sifat nya maka terdapat beberapa aliran filsafat yaitu:
a.       Spritualisme; aliran filsafat yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam alam semesta yaitu roh.
b.      Materialisme yaitu aliran filsafat yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi.
3.                Dilihat dari segi proses terdapat beberapa aliran yaitu;
a.       Mekanisme dimana mekanisme ini berasal dari bahasa yunani mechan(mesin).menurut aliran ini semua gejala atau pristiwa seluruhnya dapat diterangkan berdasarkan pada asas-asas mekanis(mesin).
b.      Telelogis aliran ini tidak mengingkari hukum sebab akibat, tetapi bependirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah hukum sebab akibat tetapi awal mulah nya memang ada sesuatu kemauan
c.       Vitalisme menyatakan bahwa hidup tidak dapat di jelaskan secara fisik kimiawi .
B.     Epistemologi
            Epistemologi berasal dari bahasa yunani episteme(pengetahuan). Secara umum epistemologi yaitu cabang filsafat yang membahas tentang hakikat pengetahuan manusia, yaitu tentang sumber, watak dan kebenaran pengetahuan.
1.      Rasionalisme
      Aliran rasionalisme berpendapat bahwa ssemua pengetahuan beersumber pada akal fikiran atau ratio. Tokoh-tokoh nya antara lain sebagai berikut: Rene Descartes (1596-1650), ia membedakan ada nya tiga idea yaitu:innate ideas (ide bawaan), yaitu sejak manusia lahir. Adventitous ideas, yaitu idea-idea yang berasal dari luar manusia, dan idea yang dihasilkan oleh fikiran itu sendiri yaitu di sebut faktitious ideas. Tokoh rasionalisme yang lain adalah spinoza (1632-1677), Leibniz (1646-1716).
2.      Empirisme
Empirisme adalah aliran ini beroendirian bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman indra. Indra memperoleh pengalaman (kesan-kesan) dari alam impiris, selanjutnyas kesan-kesan tesebut terkumpul dalam diri manusia sehingga menjadi pengalaman. Tokoh-tokoh impiris antara lain:Jhon locke (1632-1704), menurutnya pengalaman dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: - pengalaman luar (sensation), yaitu pengalaman yang diperoleh dari luar. pengalaman dalam (batin) (reflexion). Kedua pengalaman tersebut merupakan idea-idea yang sederhana, yang kamudian dengan prosses asosiasai membentuk idea yang lebih kompleks (Harun Hadiwijono;, lihat Ali Mudhofir:48:
David HUME (1711-1776); yang meneruskan tradisi impirisme. Hume berpendapat bahwa, idea-idea yang sederhana adalah salinan (copy) dan sensasi-sensasi sederhana atau idea-idea yang kompleks di bentuk dan kombinasi idea-idea sederhana atau dari kesan-kesan yang kompleks. Aliran ini kemudian berkembang dan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abat 19 dan 20.
3.      Realisme
Realisme yaitu suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa objek-objek yang kita serap lewat indra adalah nyata dalam diri objek tersebut. Objek-objek tersebut tidsk tergantuk pada subjek yang mengetahui atau tidak tergantung pada fikiran subjek. Fikiran dan dunia luar saling berintriaksi , tetapi intraksi tersebut mempunyai sifat dasar dunia tersebut. Tokoh-tokoh aliran realisme antara lain sebagai berikut: Aristoleles (384-322 SM), menurut aristoteles realitas berada dalam benda konkrit atau dalam proses-proses perkembangannya. Dunia yang nyata adalah dunia yang kita serap. Bentuk (from) atau idea atau prinsip keteraturan dan material tidak dapat dipisakan. Kemudian aliran realisme berkembang terus dan kemudian berkembanglah aliran realisme baru, yang tokoh-tokohnya adalah sebagai berikut: George Edward Moore, Bertrand Russell, sebagai reaksi terhadap aliran ideaisme , subjektivisme dan absolutisme menurut rialialisme baru bahwa eksestensi objek tidak tergantung pada diketahuinya objek tersebut (lihat : Kattsoff 1986 : 110, Ali Mudhofir, 1985 : 49).


4.      Kritisme
Kritisme yang menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiris (yang meliputi indra dan pengalaman). Kemudian akal menempatkan, mengatur dan menertibkan dalam bentuk-bentuk pengamatan yakni dalam ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pengetahuan sedangkan pengolahan akan merupakan pembentuknya. Tokoh-tokohnya adalah Imanuel Kant (1724-1804). aliran kritisme Kant ini nampaknya mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme (Ali Mudhofir, 1985 : 52)
5.      Positivisme
positivisme dengan tokohnya August Comte yang memiliki pandangan sebagai berikut : sejarah perkemabnagan pemikiran umat manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu :
a.       Tahap pertama : tahap theologis yaitu manusia masih dipercaya dengan pengetahuan atau pengenalan yang mutlak. Manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh tahyul-tahyul, sehingga subyek dan objae tidak bisa dibedakan.
b.      Tahap kedua : adalah tahap metafisis yaitu pemikiran manusia berusaha memahami dan memikirkan kenyataan, akan tetapi belum mampu membuktikian dengan fakta.
c.       Tahap ketiga : yaitu tahap positiv yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukan hukum-hukum dan saling hubungan lewat fakta. Maka pada tahap inilah pengetahuan manusia dapat berkembang dan dibuktikan lewat fakta. (Harun Hadi Wijono, 1983 : 110 : dibandingkan dengan Ali Mudhofir, 1985 : 52).
6.      Skeptisisme
Skeptisisme menyatakan bahwa penyerapan indra adalah bersifat menipu atau menyesatkan. Namun pada zaman modern berkembang menjadi skeptisisme metodis (sistematis) yang mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengetahuan diakui benar. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596 – 1650)

7.      Pragmatisme
Pragmatis, aliran ini tidak mempersoalkan tentang hakikat pengetahuan namun mempertanyakan tentang pengetahuan dengan manfaat atau guna dari pengetahuan tersebut dengan kata lain perkataan kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Tokoh-tokoh aliran pragmatisme antara lain : C.S Pierce (1839 – 1914), yang menyatakabn bahwa yang terpenting adalah manfaat apa yang dapat dilakukan pengetahuan dalam suatu rencana. Tokoh yang lainnya adalah Willyam Jammes (1824 – 1910), yang menyatakan bahwa urusan kebenran sesuatu ghal adalah ditentukan oleh akibat praktisnya.
C.    Metodologi
            Cabang filsafat tentang metodologi adalah membahas tentang metode terutama dalam kaitannya dengan metode ilmiah. Hal ini sangat penting dalam ilmu pengetahuan terutama dalam proses perkembangannya. Misalnya metode ilmiah dalam ilmu sejarah, dalam ilmu sosiologi, dalam ilmu ekonomi dan sebagainya. Metodologi membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan ilmiah misalnya sifat observasi, hipotesis, hukum teori, susunan eksperimen dan sebagainya (Kattsoff 1986 : 73 ).
D.    Logika
            Logika adlaha ilmu yang mempelajari pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab-sebab mengenai kesimpulan (Titus, 1984 : 18). Logika pada hakekatnya mempelajari teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan-bahan tertentu, atau dari suatu premist. Logika disebut juga sebagai suatu ilmu tentang penarikan kesimpulan yang benar (Kattsoff : 1985 : 72). Logika dibagi menjadi dua macam yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif berusaha untuk menemukan aturan-aturan yang dapat dipergunakan untukl menarik suatu kesimpulan yang bersifat keharusan dari peremis-premis tertentu. Logika Induktif, mencoba untuk menarik suatu kesimpulan dari sifat-sifat perangakat bahan yang diamati
E.     Etika
            Etika atau filsafat prilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan tindakan manusia dengan penekanan yang baik dan yang buruk. Terdapat dua hal permasalahan yaitu : menyangkut tindakan dan baik buruk apabila permasalahan jatuh pada tindakan, maka etika disebut sebagai “filsafat normatif”. Dalam pemahaman etika sebagai pengetahuan mengenai norma baik buruk dalam tindakan mempunyai persoalan yang luas. Etika yang demikian ini mempersoalkan tindakan manusia yang dianggap baik yang harus dijalankan, di bedakan denga tindakan buruk atau jahat yang dianggap tidak manusiawi. Dengan demikian etika berbeda dengan agama yang didalamnya juga memuat dan memberikan norma baik buruk dalam tindakan manusia. Pasalnya , etika mengandalkan pada rasio semata yang lepas dari sumber wahyu agama yang dijadikan sumber norma ilahi, dan etika lebih cendrung bersifat analisis dari pada praktis.dengan demikian, etika adalah ilmu yang bekerja secara rasional. Sementara dari kalangan non filsafat, etika sering digunakan sebagai pola bertindak praktis ( Etika Propesi). Etika dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu: etika deskriftif.etika normatif, dan etika metaetika.
Aliran-aliran dalam bidang etika yaitu:
1.      Idealisme
      Yaitu suatu sistem moral antara lain mengakui hal-hal sebagai berikut: adanya suatu nilai,asas-asas moral,atau aturan-aturan untuk bertindak,lebih mengutamakan dengan kebebasan moral,lebih mengutamakan hal yang umum dari pada yang khusus.
2.      Etika teleologi
      Menyatakan bahwa perbaikan pertindakan sepenuhnya bergantung pada suatu tujuan, atau suatu hasil baik secara langsung maupun tidak langsung.yang termasuk etika teleologi adalah utilitarisme.
3.      Hedonisme
Aliran ini menyatakan bahwa kebahagiaan yang didasarkan pada suatu kenikmatan adalah merupakan suatu tujuan dari tindakan manusia oleh karna itu tindakan manusia baik dan buruk, etis atau tidak etis didasarkan pada suatu tujuan kenikmatan manusia

4.      Ultitarianisme.
Adalah aliran ini menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menimbulkan jumlah yang sebanyak-banyak nya. Aliran ini dikembangkan oleh Bentham dan Mill bersaudara.
5.      Intusionisme
aliran ini berpandangan bahwa jenis-jenis tindakan dapat diketahui baik atau buruk secara langsung tanpa memikirkan nilai yang terdapat dalam akibat-akibat dari tindakan tersebut.
F.     Estetika
            Estetika adalah cabang filsafat yang membahas tetang keindahan. Estetika membicarakan tentang definisi, susunan dan peranan keindahan. Kata estetika beerasal dari bahasa yunani 'Aesthetikaos' yang artinya bertalian dengan penjeratan (pengindraan). Apakah fungsi keindahan dalam kehidupan kita? Apakah hubungan antara yang indah dengan yang baik dan lain sebagainya?
1.      Filsafat Hukum yaitu membahas tentang hakikat hukum
2.      Filsafat bahasa yaitu membahas tentang hakikat bahasa
3.      Filsafat sosial yaitu membahas tentang hakikat hubungan (intraksi manusia dalam masyarakat)
4.      Filsafat ilmu yaitu membahas tentang hakikat ilmu pengetahuan.
5.      Filsafat politik yaitu membahasa tentang hakikat masyarakat dan negara dengan segala apseknya.
6.      Filsafat kebudayaan yaitu membahas tentang hakikat kebudayaan
7.      Filsafat Lingkungan yaitu membahas tentang hakikat hubungan manusia dengan lingkungannya.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
berdasarkan pembahasn makala tersebut di atas maka kami dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Penyebabkan timbulnya cabang-cabang filsafat adalah adanya persoalan-persoalan yang di hadapi manusia.
2.      Alira-aliran yang dicapai meta fisika adalah adanya persoalan yang dihadapi manusia .di pandang dari berbagai segi :
a.       Kuantitas yakni mononisme : dualism dan pluralisme
b.      kualitas adalah : Spiritualisme dan metarialisme
c.       Dari segi proses : Mekanisme, teologis dan vitalisme
3.      Yang dimaksud dengan :
a.       Epistemologi adalah cabang-cabang filsafat yang membahas tentang hakekat pengetahua manusia metedologi adalah membahas metode terutama dalam kaitanya dengan metode ilmiah .
b.      logika adalah ilmu yang mempelajari pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab mengenai kesimpulan.
c.       etika adalahsatu cabang filsafat yang membicarakan tindakan manusia dengan penekanan yang baik dan yang buruk .
d.      estetika adalah cabang filsafat yang membahas tentang keindahan
e.       meta fisika adalah di gunakan untuk menunjukan karya-karya tertentu Aristoteles.

B.     Saran-Saran
Dari hasil pembahasan makalah tentang cabang-cabang Filsafat ini, penulis menyampaikan agar kiranya kita memahami tentang logika berfikir menurut tokoh dan dekade para filosor pada zamannya. Sehingga dapat mengambil manfaat dari hasil pemikiran tersebut sebagai upaya memperbaiki kehidupan dan bermasyarakat.




DAFTAR PUSTAKA
  1. Taftir, Ahmad. 2004. Filsafat Umum., PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
  2. Kaelan, M.S. 1996. Filsafat Pancasila. Paradigma. Yogyakarta
  3. Mohammad Adib, 2010 Filsafat Ilmu. Pustaka PelajarYogyakarta
  4. Bertrand Russell. 1995. The Problem of Phylosophy. Toronto: Oxford University Pres
  5. Drs. Burhanuddin Salam. 1984. Pengantar Filsafat. Jakarta
  6. Juhaya S. Praja, Prof. Dr. Aliran-aliran dalam Filsafat dan Etika. (2005). Jakarta : Prenada Media



More aboutReview Artikel Filsafat Ilmu