Tampilkan postingan dengan label semester 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semester 6. Tampilkan semua postingan

Perkembangan Jiwa agama Pada Anak

Posted by Rumah Subsidi Malang



BAB I
PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA ANAK
A.  PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis, walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang tersembunyi. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pendidikan yang baik sejak usia dini.
Menurut beberapa ahli anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religious. Adapula yang berpendapat sebaliknya bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Fitrah itu baru berfungsi di kemudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap kematangan.
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah swt adalah dianugerahi fitrah (potensi) untuk mengenal Allah swt dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata lain, manusia dikaruniani insting religius (naluri keagamaan). Fitrah agama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenal arah dan kualitas perkembangan anak sangat tergantung kepada proses pembinaan dan pendidikan yang diterimanya maupun lingkungan pergaulan serta pengalaman hidup yang dilaluinya.
Hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena orangtuanyalah, anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa faktor lingkungan dan pendidikan, terutama orang tua, sangat berperan dalam mempengaruhi perkembangan fitrah keberagamaan anak.
Dalam makalah ini akan membahas tentang tahapan pertumbuhan dan perkembangan jiwa keagamaan pada anak.
2. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang di atas, maka penulis dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
a.    Apa yang dimaksud dengan Perkembangan Jiwa Agama pada Anak?
b.    Bagaimana tahap-tahap Perkembangan Jiwa Agama pada Anak?
c.    Apa saja pendekatan dalam membina Jiwa Agama pada Anak?
3.  Tujuan
Berangkat dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut :
a.    Menjelaskan dan mengkaji tentang Perkembangan Jiwa pada Anak
b.    Memaparkan dan mendeskripsikan tahap-tahap yang dialami seorang anak dalam Perkembangan Jiwa Agama Pada Anak
c.    Menyebutkan dan menjelaskan berbagai pendekatan dalam upaya pembinaan Jiwa Agama pada Anak.

maaf mengenai ayat belum saya perbaiki..




B. PEMBAHASAN
1. Perkembangan Jiwa Agama pada Anak
1.1 Fitrah Beragama Anak
Fitrah beragama dalam diri setiap anak merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan “suci” yang diilhami Allah swt . Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Allah swt. Hal itu sebagaimana dijelaskan dal al-Qur’an.
         ••             ••   
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui . (Q.S. Ar-Rum:30)
Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. Jelaslah, secara naluri anak manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan meyakini adanya Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan dan pengakuan terhadap Allah swt sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia. Namun perbaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagi tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang-kadang terlengahkan, bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
Pada dasarnya fitrah adalah potensi dasar manusia yang bersifat suci, namun kesuciannya tersebut perlu dijaga dan dikembangkan melalui pola pengasuh, pembinaan, pendidikan dan pergaulan yang baik.
1.2  Perkembangan Jiwa Anak
Dalam ilmu jiwa perkembangan ada beberapa pembagian masa hidup anak, yang disebut sebagai fase atau perkembangan. Menurut Elizabeth B. Hurlock, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode , yaitu
a.    Masa pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
Periode perkembangan yang pertama dalam jangka kehidupan manusia ini yang dinamakan masa prenatal, dimulai pada waktu konsepsi, yaitu pembuahan dari ovum oleh sel sperma, dan berakhir pada waktu pembuahan.  Masa ini pada umumnya berlangsung selama 9 bulan kalender ditambah sepuluh hari atau sekitar 280 hari sebelum lahir. 
b.    Masa neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadidiluar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system. Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri.
c.    Masa bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
Masa bayi adalah dasar periode kehidupan yang sesungguhnya karena pada saat ini banyak pola perilaku, sikap, dan pola ekspresi emosi terbentuk.
d.    Masa kanak-kanak awal, umur 2-6 tahun.
Awal masa kanak-kanak merupakan masa pertumbuhan yang relatif seimbang meskipun terdapat perbedaan musim; bulan Juli sampai pertengahan Desember merupakan saat yang terbaik untuk peningkatan berat badan dan April sampai pertengahan Agustus untuk peningkatan tinggi tubuh.
e.    Masa kanak-kanak akhir, umur 6-10 tahun atau 11 tahun.
Akhir masa anak-anak merupakan periode pertumbuhan yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira 2 tahun menjelang anak menjadi matang seksual dan pada saat ini perkembangan menjadi peasat, karena itu pada masa ini sering disebut dengan “periode tenang”.
f.    Masa pubertas (pra adolescence) umur 11-13 tahun.
g.    Masa remaja awal, umur 13-17 tahun. Masa remaja akhir 17-21 tahun.
Masa remaja adalah  masa suatu perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis.
h.    Masa dewasa awal, umur 21-40 tahun.
Dalam psikologi Islam Dewasa dini disebut juga fase taklif, fase dimana seseorang telah menjadi manusia dewasadan telah dikenai suatu kewajiban sebagai khalifah di bumi, dalam proses menjadi pribadi yang berkualitas.
i.    Masa setengah baya, umur 40-60 tahun.
Seperti juga masa puber yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan kemudian dewasa, demikian pula usia madya merupakan masa dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki masa suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan prilaku baru. Periode ini merupakan masa dimana pria mengalami perubahan keperkasaan dan wanita dalam kesuburan. Kedua karakteristik tersebut merupakan keadaan mendasar yang terjadi dalam tahap transisi pada manusia, suatu hal yang belum pernah dialami sepanjang hidup akan memunculkan kesan tersendiri bagi individu.
j.    Masa tua, umur 60 tahun ke atas.
Pada masa Usia Lanjut (diatas 60 tahun), bersamaan dengan perubahan perubahan (kemunduran-kemunduran) fisik maupun perubahan-perubahan psikis yang dialami individu. Usia Lanjut perlu melakukan usaha-usaha penyesuaian-penyesuaian baru, perubahan kondisi fisik terjadi pada usia lanjut dan sebagian besar perubahan terjadi kearah yang memburuk yang mana proses dan kecepatannya sangat berbeda untuk masing-masing, individu yang sama juga terjadi proses dan kecepatan kerusakan yang bervariasi.
Tentang fase-fase perkembangan hidup manusia yang dijelaskan oleh para ahli psikologi ternyata tidak jauh berbeda dengan penjelasan al-Qur’an yang menyatakan tentang rentetan kehidupan manusia di dunia, sebagai berikut:
             ....
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. (Q.S. al-Hadid :20).
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa rentetan kehidupan dunia ini dimulai dengan masa bermain (0-7 tahun), masa melalikan, senda gurau/banyak bergaul ataupun banyak beraktivitas yang kurang membawa manfaat langsung seperti main kelereng, layang-layang, video game dan sebagainya (7-12 tahun), masa berhias atau puber (13-21 tahun), masa persaingan untuk mendapat jodoh, pekerjaan, ataupun bisnis, kedudukan dan sebagainya yang umumnya disebut masa produktif (21-60 tahun), masa tua yaitu untuk mengenyam dan membanggakan hasil kerjanya maupun keluarganya (60 tahun ke atas) .
Dalam hal ini Comenius lebih menitikberatkan pada aspek pengajaran dari proses pendidikan dan perkembangan anak. Tahun-tahun pertama 0-6 tahun disebut sebagai periode sekolah-ibu, karena hampir semua usaha bimbingan pendidikan (ditambah perawatan dan pemeliharaan) berlangsung di tengah keluarga. Terutama sekali aktivitas ibu sangat menentukan kelancaran proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
Usia 6-12 tahun disebut periode sekolah-bahasa-ibu, karena pada periode ini anak baru mampu menghayati setiap pengalaman dengan pengertian bahasa sendiri (bahasa ibu). Bahasa ibu dipakai sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain. Yaitu untuk mendapatkam impresi dari luar, berupa pengaruh, sugesti serta transmisi kultural (pengoperan nilai-nilai budaya) dari orang dewasa .
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak pada usia ini membutuhkan orang lain dalam perkembangannya, dan orang lain yang paling utama dan pertama bertanggung jawab adalah orang tua sendiri. Orang tuanyalah yang bertanggung jawab memperkembangkan keseluruhan eksistensi anak.
1.3 Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Anak
Sebagaimana dijelaskan di atas, yang dimaksud dengan masa anak-anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan demikian anak telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten (tersembunyi). Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada usia dini.
Sesuai dengan prinsip pertumbuhannya maka seorang anak menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip yang dimilikinya , yaitu:
a.    Prinsip Biologis
Secara fisik anak yang baru dilahirkan dalam keadaan lemah. Karena bayi masuk dalam lingkungan yang baru yakni, dari kandungan ibu dan kelahiran yang luar biasa itu ditandai dengan sambutan tangis yang keras dari bayi itu . Bayi yang baru lahir segala gerak dan tindak tanduknya selalu memerlukan bantuan dari orang-orang dewasa disekelilingnya. Keadaan tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
b.    Prinsip Tanpa Daya
Sejalan dengan belum sempurnanya pertumbuhan fisik dan psikisnya maka anak yang baru dilahirkan hingga menginjak usia dewasa selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya.
c.    Prinsip Eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan potensi manusia yang dibawanya sejak lahir baik jasmani maupun rohani memerlukan pengembangan melalui pemeliharaan dan latihan. Jasmaninya baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya.
Adapun faktor-faktor yang dominan dalam perkembangan jiwa keagamaan pada anak , antara lain :
a.    Rasa Ketergantungan
Teori ini dikemukakan oleh Thomas melalui teori faur Wishes. Menurutnya manusia dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan yaitu : keinginan untuk perlindungan, keinginan akan pengalaman baru, keinginan untuk mendapat tanggapan, keinginan untuk dikenal. Berdasarkan kenyataan dan kerjasama dari keempat keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan. Melalui pengalaman-pengalaman yang diterimanya dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
b.    Instink Keagamaan
Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa instink di antaranya instink keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna.
Pada dasarnya potensi keberagaman bagi seorang anak sudah ada semenjak lahir kedunia, ia mempunyai potensi untuk beriman kepada Tuhan. Hanya saja persoalan dalam pengembangan serta pemeliharaan potensi (rasa religious) yang ada pada diri anak, sehingga peran orang tua disini sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan keberagaman anak.
Pada umumnya anak sebelum usia 4 tahun, mereka masih belum menyadari tentang agama. Tuhan bagi anak masih dalam fantasi atau gambaran disamakan dengan makhluk lain. Oleh karena itu pengembangan perasaan potensi Ketuhanan anak dapat dimulai sejak sedini mungkin melalui tanggapan, dan bahasa anak.



2. Tahap-tahap Perkembangan Jiwa Agama Pada Anak
Tahap perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1.    The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Cerita Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.
2.    The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.
Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.
3.    The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
a.    Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
b.    Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c.    Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang beragama, hal ini menunjukkan bahwa dorongan keberagamaan merupakan faktor bawaan manusia yang sudah ada sejak lahir, dan sepenuhnya tergantung dari peminaan nilai-nilai agama yang diajarkan oleh orang tuanya. Keluarga adalah pendidikan dasar untuk anak, sedangkan kembaga adalah pelanjut dari pendidikan keluarga. Dengan demikian peran keluarga sangatlah penting dalam pembentukan karakter anak dan memberikan dasar-dasar keberagamaan bagi anak.
Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:
a.    Fase dalam kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis rohani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.
b.    Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
c.    Fase kanak- kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
d.    Masa anak sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.
Sebagai anak yang berada dalam tahap pemikiran operasional kongkret, maka anak-anak usia sekolah dasar akan memahami segala sesuatu yang abstrak dengan interpretasi secara kongkret. Hal ini juga berpengaruh dengan konsep-konsep keagamaan.
2.1 Sifat-Sifat agama pada anak
Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:
a.    Unreflective (kurang mendalam)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja. Dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral.
b.    Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti seperti orang dewasa.
Pada usia 7 – 9 tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak- gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa sebagai komunikasi antara anak dengan Ilahi mulai tampak. Setelah itu barulah isi doa beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.
c.    Anthromorphis
Konsep mengenai Ketuhanan pada anakberasal dari hasil pengalamanya dika ia berhubungan dengan orang lain. Tapi semua kenyataan konsep Ketuhanan mereka nampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan.
d.    Verbalis dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya).


e.    Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting. Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi berupa teladan.
f.    Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Dan rasa kagum pada anak berbeda dengan rasa kagum pada orang tua, rasa kagum pada anak tidak bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum terhadap keindahan lahiriyah saja. Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.
3.    pendekatan dalam membina Jiwa Agama pada Anak
Dalam pembinaan agama pada diri pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena pembiasaan dan latihan-latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya.
Untuk membina agar anak-anak mempunyai sifat terpuji tidaklah mungkin dengan penjelasan saja, akan tetapi perlu membiasakannya untuk melakukan yang baik yang diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat-sifat itu, dan menjauhi sifat-sifat tercela. Kebiasaan dan latihan itulah yang membuat anak cenderung melakukan perbuatan yang baik dan meninggalkan yang kurang baik.
Demikian pula dengan pendidikan agama, semakin kecil umur anak, hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agama yang dilakukan pada anak, dan semakin bertambah umur anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan dan pengertian tentang agama itu sesuai dengan perkembangan yang dijelaskannya.
Pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada umumnya, terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik atau pembina yang pertama adalah orang tua, kemudian guru. Sikap anak terhadap agama dibentuk pertama kali di rumah melalui pengalaman yang didapat dari orang tuanya, kemudian dissempurnakan dan diperbaiki oleh guru disekolah maupun ditempat pengajian seperti masjid, mushola, TPQ dan madrasah diniyyah.
Latihan- latihan yang menyangkut ibadah seperti sembahyang, do’a, membaca al-Qur’an, sopan santun, dan lain sebagainya, semua itu harus dibiasakan sejak kecil, sehingga lama-kelamaan akan tumbuh rasa senang dan terbiasa dengan aktifitas tersebut tanpa ada rasa terbebani sedikitpun.
Pembinaan yang baik pada anak adalah membiasakan untuk melakukan kegiatan keagamaaan atau dibiasakan dalam suasana keagamaan, yang sudah barang tentu kesemuanya diiringi dengan contoh atau teladan yang baik. Kemudian pada tingkat berikutnya anak baru diberikan pengertian tentang ajaran atau norma-norma keagamaan untuk dapat dipatuhi secara baik.
C. Penutup
1. Kesimpulan
Dari kajian yang telah dipaparkan dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya. Seorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan didikan agama, pada masa dewasanya seorang anak tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman agama, maka orang-orang itu akan dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, takut menjalankan larangan-larangan agama dan dapat merasakan betapa nikmat hidup beragama.
Dengan demikian ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua, guru dan lingkungan mereka.

DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi , Abu dan Munawar Sholeh,2005. Psiokologi Agama. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Baharuddin dan Mulyono. 2008. Psikologi Agama dalam Perspektif Islam. Malang : UIN Press.

Desmita,  2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
B. Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Nawawi, Handari. 1993. Pendidikan Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.
Jalaluddin, 2007,  Psikologi Agama, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
 Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan (Masa Remaja), Surabaya: Usaha Nasional.

Mar’at,  Samsunuwiyati, Desmita, Psikologi Perkembangan, 2006, Bandung: PT Remaja  Posdakarya.
More aboutPerkembangan Jiwa agama Pada Anak

Kelebiah dan Kekurang Media Dalam Melakukan Dakwah

Posted by Rumah Subsidi Malang


A.   KELEBIHAN MEDIA ELEKTONIK, YAITU :
·         Dari segi waktu, media elektronik tergolong cepat dalam menyebarkan isi dakwah ke masyarakat.
·         media elektronik mempunyai audio visual yang memudahkan para audiensnya untuk memahami berita, khususnya pada media elektronik televise.
·         media elektronik menjangkau masyarakat secara luas.
·         dapat menyampaikan berita secara langsung dari tempat kejadian.
·         dapat menampilkan proses terjadinya suatu peristiwa.
·         dapat dinikmati oleh semau orang, baik itu yang mengalami keterbelakangan mental.

B.   KEKURANGAN MEDIA ELEKTRONIK, YAITU :
·         dalam penyediaan berita pada media elektronik tidak dapat mengulang apa yang telah ditayangkan.
·         Dakwah yang disampaikan biasanya cepet dilupakan, karena bisa jadi udien hanya sekedar melihat tanpa menyimak dengan baik (tidak memiliki niatan mengikuti dakwah, akan tetapi hanya kebetulan saja)

C.   KELEBIHAN MEDIA CETAK, YAITU :
·         dapat dibaca berkali-kali dengan cara menyimpannya.
·         dapat membuat orang yang berfikir lebih spesifik tentang isi tulisan.
·         bisa disimpan atau dicollect isi informasinya.
·         harganya lebih terjangkau maupun dalam distribusinya.
·         lebih mampu menjelaskan hal-hal yang bersifat kompleks atau rigid.

D.   KEKURANGAN MEDIA CETAK, YAITU :
·         dari segi waktu media cetak lambat dalam memberikan informasi. Karena media cetak tidak dapat menyebarkan langsung berita yang terjadi pada masyarakat dan harus menunggu turun cetak.
·         media cetak hanya dapat berupa tulisan.
·         media cetak haya dapat memberikan visual berupa gambar yang mewakili keseluruhan isi berita.
·         biaya produksi yang cukup mahal karena media cetak harus mencetak dan mengireimkannya sebelum dapat dinikmati masyarakat.

E.   KELEBIHAN MEDIA ORGANISASI
·      Materi yang disampaikan lebih dapat diterima.
·      Dapat menyakan secara langsung ketika ada yang tidak dimengerti.
·      Materi yang sudah didapat lebih tak terlupakan karena audien juga mempunyai niatan dalam mengikuti dakwah.

F.    KEKURANGAN MEDIA DAKWAH
·      Sulinya mengajak audien untuk mengikuti kegiatan tersebut
·      Ribet (banyak memerlukan persiapan)
Lanjutin sendiri pemateri capek ngetik :-P

LANJUTAN YANG LEBIH DETAIL DOWNLOAD/KLIK mengenai makahnya <<DISINI>>





More aboutKelebiah dan Kekurang Media Dalam Melakukan Dakwah

Review Makalah Interaksi Sosial

Posted by Rumah Subsidi Malang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok. Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial dan Komunikasi Sosial.
Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung apabila tanpa melalui perantara. Misalnya A dan B bercakap-cakap termasuk contoh Interaksi sosial secara langsung. Sedangkan kalau A titip salam ke C lewat B dan B meneruskan kembali ke A, ini termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, indenifikasi, simpati dan empati Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.
Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang mengindentikkan (menyadi sama) dengan pihak yang lain. Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepakbola idolanya. Simpati adalah interaksi sosial yang didasari oleh foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.
Empati adalah interaksi sosial yang disasari oleh faktor dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lebih dari simpati. Contoh tindakan membantu korban bencana alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif Asosiatif meliputi akomodasi, difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi (kerjasama) (Intinya interaksi social yang baik-baik, kerjasama, rukun, harmonis, serasa dll). Contoh kerja sama antara depertemen pendidikan nasional dengan PT Telkom dalam program Jardiknas.
Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi dan kompetensi (Intinya interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang dingin, bertengkar dll). Contoh Bapak memukul anaknya karena tidak mendengarkan nasihatnya. Menyuruh pergi seorang pengemis dengan cara membentak.

1.2.    Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah :
1.    Seperti apakah tindakan sosial di masyarakat?
2.    Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial?
3.    Bagaimana bentuk-bentuk interksi sosial?
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagamana tindakan sosial dimasyarakat.
2. Untuk mengetahui tentang Interksi sosial.
3. Untuk mengetahui bentuk bentuk interaksii sosial

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tindakan Sosial
A.    Pengertian Tindakan Sosial
Tindakan atau aksi berarti pmbuatan atau sesuatu yang dilakukan. Secara sosiologis, tindakan artinya seluruh perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar atau tidak disadari, sengaja atau tidak disengaja yang mempunyai makna subyektif bagi pelakunya.
Didalam sosiologi, tindakan sosoial banyak dikemukakan oleh Max Weber (1864-1920) seorang ahli sosiologi Jerman, dimana tindakan sosial dimulai dari tindakan individu atau perilaku individu dengan perilaku oang lain, yang diorientasikan pada hasil tindakan tersebut, sehingga dapat dipahami secara subjektif, maksudnya setiap tindakan sosial yang dilakukan seseorang akan memiliki maksud atau makna tertentu.
Jadi tindakan sosial pada diri orang baru terjadi apabila tindakan tersebut dihubungkan dengan orang lain. Tindakan sosial yang dimulai dari tindakan indiidu-individu memiliki keunikan atau ciri tersendiri.
B.    Ciri-cici Tindakan Sosial
Bentuk tolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar hubungan sosial, maka terdapat lima ciri pokok yang menjadi sasaran sosiologi, yaitu: Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna subyektif, hal ini meliputi tindakan nyata.
1.    Tindakan nyata yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.
2.    Tindakan yang berpengaruh positif dari suatu situasi, maka tindakan tersebut akan diulang.
3.    Tindakan itu diarahkan pada seseorang atau pada individu.
4.     Tindakan itu memperhatikan tindakan individu lain dan terarah pada orang atau individu yang dituju.
C.    Faktor Pendorong Melakukan Tindakan Sosial
Manusia merupakan makhluk yang tidak akan bisa hidup tanpa manusia lain, sbab secara biologis manusia adalah makhluk yang palin lemah. Sejak dilahirkan ke dunia, manusia mempunyai dua hasyat atau keinginan pokok, yaiyu keinginan pokok, yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekitarnya (masyaraakat) dan keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alam di skitarnya.
Untuk memperoleh kedua hasrat tersebut, manusia menggunakan akalnya (pikiran, perasaan, dan kehendak). Menyadari kelemahan dan kekurangannya dalam menyesuaikan diri serta menghadapi tantangan alam yang tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri atau perorangan, manusia menghimpun diri dan mengelompokan dirinya dengan manusia lain yang kemudian disebut masyarakat.
D.    Bentuk-bentuk Tindakan Sosial
Pada dasarnya tindakan manusia, baik sebagai individu maupun makhluk sosial terdiri dari dua tindakan pokok yaitu tindakan lahiriah dan tindakan batiniah, sbagai berikut:
1.    Tindakan lahiriah adalah tata cara bertindak yang tampak atau dapat dilihat dan cendeung ditiru secara berulang-ulang oleh banyak orang.
2.    Tindakan batiniah adalah cara berfikir, berperasaa, dan berkehendak yang dingkapkan dalam sikap dan bertindak, dilakukan berulang kali dan di ikuti oleh banyak orang.
E. Bentuk Tindakan Sosial
1.Tindakan Sosial
Tidak semua tindakan manusia dinyatakan sebagai tindakan sosial misalnya : Seorang pemuda yang sedang mengkhayalkan gadis impiannya secara diam diam . Menurut MAX WEBER , tindakan sosial adalah tindakan seorang individu yang dapat mempengaruhi individu individu lainnya dalam masyarakat .

2.2.    Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya
Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process
Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial. Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik, adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan wacana.
Interaksi sosial memiliki aturan, dan aturan itu dapat dilihat melalui dimensi ruang dan dimensi waktu dari Robert T Hall dan Definisi Situasi dari W.I. Thomas. Hall membagi ruangan dalam interaksi sosial menjadi 4 batasan jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Selain aturan mengenai ruang Hall juga menjelaskan aturan mengenai Waktu. Pada dimensi waktu ini terlihat adanya batasan toleransi waktu yang dapat mempengaruhi bentuk interaksi. Aturan yang terakhir adalah dimensi situasi yang dikemukakan oleh W.I. Thomas. Definisi situasi merupakan penafsiran seseorang sebelum memberikan reaksi. Definisi situasi ini dibuat oleh individu dan masyarakat.

Syarat terjadinya interaksi adalah :
1.    Adanya kontak sosial
Kontak social memiliki memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
Kontak social bisa bersifat positif dan bisa negative. Kalau kontak social mengarah pada kerjasama berarti positif, kalau mengarah pada suatu pertentangan atau konflik berarti negative.
Kontak social dapat bersifat primer dan bersifat skunder. Kontak social primer terjadi apa bila peserta interaksi bertemu muka secara langsung. Misanya kontak antara guru dengan murid dsb. Kalau kontak skunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui perantara. Missal percakapan melalui telepon, HP dsb.
2.    Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak kepihak yang lain dalam rangka mencapai tujuan bersama. Ada lima unsure pokok dalam komunikasi yaitu :
a.    Komunikator yaitu orang yang menyampaikan informasi atau pesan atau perasaan atau pemikiran pada pihak lain.
b.    Komunikan yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, informasi.
c.    Pesan yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.
d.    Media yaitu alat untuk menyampaiakn pesan
e.    Efek/feed back yaitu tanggapan atau perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah mendapat pesan dari komunikator.
Kontak Sosial yang dilakukan menurut cara pihak � pihak yang berkomunikasi . Cara kontak sosial itu ada 2 macam yaitu :
a.    Kontak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada pihak komunikan .
b.    Kontak Tidak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan pesannya kepada pihak komunikan melalui perantara pihak ketiga .

2.3.    Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat terbagi atas bentuk kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama individu dengan individu atau kelompok-kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan. Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, di mana terjadi keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok manusia berkaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Usaha-usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan. Sedangkan Asimilasi merupakan suatu proses di mana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok.
Bentuk interaksi yang berkaitan dengan proses disosiatif ini dapat terbagi atas bentuk persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan merupakan suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan. Bentuk kontravensi merupakan bentuk interaksi sosial yang sifatnya berada antara persaingan dan pertentangan. Sedangkan pertentangan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.
Untuk tahapan proses-proses asosiatif dan disosiatif Mark L. Knapp menjelaskan tahapan interaksi sosial untuk mendekatkan dan untuk merenggangkan. Tahapan untuk mendekatkan meliputi tahapan memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating) dan mempertalikan (bonding). Sedangkan tahapan untuk merenggangkan meliputi membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating).
Pendekatan interaksi lainnya adalah pendekatan dramaturgi menurut Erving Goffman. Melalui pendekatan ini Erving Goffman menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi sosial. Konsep-konsepnya dalam pendekatan ini mencakup tempat berlangsungnya interaksi sosial yang disebut dengan social establishment, tempat mempersiapkan interaksi sosial disebut dengan back region/backstage, tempat penyampaian ekspresi dalam interaksi sosial disebut front region, individu yang melihat interaksi tersebut disebut audience, penampilan dari pihak-pihak yang melakukan interaksi disebut dengan team of performers, dan orang yang tidak melihat interaksi tersebut disebut dengan outsider.
1. Bentuk Interaksi sosial menurut jumlah pelakunya .
a. Interaksi antara individu dan individu.
Individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan\Stimulus kepada individu lainnya. Wujud interaksi bisa dalam dalam bentuk berjabat tangan, saling menegur, bercakap-cakap mungkin bertengkar.
b. Interaksi antara individu dan kelompok
Bentuk interaksi antara individu dengan kelompok: Misalnya : Seorang ustadz sedang berpidato didepan orang banyak. Bentuk semacam ini menunjukkan bahwa kepentingan individu berhadapan dengan kepentingan kelompok .
c.    Interaksi antara Kelompok dan Kelompok
Bentuk interaksi seperti ini berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain . Contoh : Satu Kesebelasan Sepak Bola bertanding melawan kesebelasan lain .
Bentuk-bentuk Interaksi sosial (association processes)
a.    kerja sama :suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok uintuk mencapai tujuan bersama.
Bentuk kerjasama antara lain kerja sama spontan yaitu kerjasama yang terjadi secara serta-merta. kerja sama langsung yaitu kerja sama sebagai hasil dari perintah atasan kepada bawahan atau pengusaha teerhadap rakyatnya. Kerja sama kontrak yaitu kerja sama atas dasar syarat-syarat ketetapan tertentu yang disepakati bersama.
b.    Akomodasi
Akomodasi yaitu proses penyesuaian diri dari orang-perorangan . Bentuk akomodasi antara lain.
1.    koersi : suatu bentuk akomodasi yang terjadi melalui pemaksaan kehendak pihak tertentu terhadap pihak lain yang lebih lemah .contoh sistem pemerintahan totalitarian.
2.    kompromi : suatu bentuk akomodasi ketika pihak-pihak yang terlibat perselisihan saling mengurangi tuntutan agar tercapai suatu penyelesaian.
c.    Asimilasi
Pada dasarnya merupakan perubahan yang dilakukan secara sukarela,yang umum pada dimulai dari penggunaan bahasa. Syarat asimilasi antara lain terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda. terjadi pergaulan antaindividu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama. Faktor pendorong asimilasi antara lain :
1.    Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan. kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi.
2.    kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya.
3.    Faktor penghalang asimilasi antara lain kelompok yang terisolasi atau tersaing (biasanya kelompok minoritas). kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi.
d.    Akulturasi
proses penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asing.
1.    persaingan (competition) : merupakan suatu proses sosial ketika ada dua pihak atau lebih saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Fungsi persaingan antara lain Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang sama-sama menuntut dipenuhi,padahal sulit dipenuhi semuanya secara serentak.
e.    Konflik
persilisihan sederhana. Faktor penyebab konflik yaituperbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. perbedaan kepentingan anatara individu dan kelompok diantaranya menyangkut bidang ekonomi,politik,dan sosial.
Macam konflik antara lain Konflik antara atau dalam peranan sosial,misalnya antar peran dalam keluarga dan profesi. Konflik antara kelompok-kelompok sosial Akibat konflik antara lain Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
Akibat konflik antara lain meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang mengalami konflik dengan kelompok lain. keretakan hubungan antara anggota kelompok,misalnya akibat konflik antarsuku.

























BAB III
PENUTUP
3.1.    Kesimpulan
Arti Interaksi Sosial artinya melibatkan kedua belah pihak..
Faktor-faktor interaksi sosial antara lain
a.    Imitasi : tindakan sosial meniru sikap,tindakan,tingkah laku atau penampilan fisik seseorang secara berlebihan.
b.    Sugesti : pemberian pengaruh atau pandangan dari satu pihak kepada pihak lain.
c.    Identifikasi : kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan oranglain. Simpati : suatu proses dimana seseorang merasa tertarik dengan orang lain. Syarat-syarat interaksi sosial antara lain
kontak :kata kontak berasal dari con atau cum yang artinya bersama-sama dan kata tango yang artinya menyentuh.jadi secara harfiah kontak berarti saling menyentuh. Wujud kontak sosial dibedakan menjadi tiga antara lain
a.    kontak antar individu contoh kontak antara anak dan orang tuanya,kontak antara siswa dan siswa lainnya.
b.    kontak antar kelompok contoh kontak antara dua perusahaan dalam hubungan bisnis.
c.    Kontak antara individu dan suatu kelompok contoh kontak antara seorang calon anggota dan para anggota organisasiyang akan dimasukinya.
3.2. Saran

Dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak akan lepas dari kehidupan masyarakat, maka kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakan harus menyadari bahwa kita hidup tidak mungkin sendirian.

Untuk itu marilah kita menjadi warga masyarakat yang baik dengan berinteraksi antar individu dengan individu lain, antar individu dengan kelompok, bahkan kelompok dengan kelompok agar terjalin persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007) . Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi. Bandung : Yasindo Multi Aspek
Hermawan, Ruswandi dan Kanda Rukandi. (2007). Perspektif Sosial Budaya. Bandung: UPI PRESS
Hermawan, Ruswandi dkk. (2006) . perkembangan masyarakat dan Budaya. Bandung : UPI PRESS
Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga Serangkai

More aboutReview Makalah Interaksi Sosial

REVIEW ARTIKEL TENTANG WEWENANG PENDIDIKAN

Posted by Rumah Subsidi Malang

Menurut, Lubis Secara etimologis, istilah kewenangan berasal dari kata wewenang. Sedang menurut Bagir Manan istilah wewenang dengan kekuasaan Macht itu berbeda. Kekuasaan menurutnya hanya digambarkan hak untuk berbuat atau tidak berbuat. Sedangkan wewenang memiliki pengertian yang lebih luas meliputi hak dan kewajiban. Secara teoritik, mengenai kewenangan dapat dilihat pendapat H.D.Stout (Ridwan HR 2006), yang mengatakan:”Wewenang merupakan pengertian yang berasal dari hukum organisasi pemerintahan, yang dapat dijelasakan sebagai keseluruhan aturan-aturan yang berkenan dengan perolehan dan penggunaan wewenang pemerintahan oleh subjek hukum publik di dalam hubungan hukum public”.
Pandangan yang melihat lebih jauh pada sisi tindakan yaitu ungkapan P. Nicolai dalam bukunya,mengatakan:” Bahwa Kemampuan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengakibatkan akibat hukum, dan mencakup mengenai timbul dan lenyapnya akibat hukum. Hak berisi kebebasan untuk melakukan atau tindakan melakukan tindakan tertentu, atau menuntut pihak lain untuk melakukan tindakan tertentu, sedangkan kewajiban memuat keharusan untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan”.

B.    FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baik secara pribadi kontinuitas, maupun seluruh umat manusia.

Fungsi dari pendidikan islam adalah antara lain: 1). Penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan-peranan masa hadapan dan pemindahan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan peranan-peranan tersebut. 2). Pemindahan pengetahuan kepada generasi muda. 3). Pemindahan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi muda. 4). Mendidik anak didiknya beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya di akhirat.

More aboutREVIEW ARTIKEL TENTANG WEWENANG PENDIDIKAN

mengidentifikasi seberapa besar respon sosial mahasiswa terhadap pengemis

Posted by Rumah Subsidi Malang

BAB I
 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi negara Indonesia beberapa tahun terakhir ini sangat memperihatinkan. Begitu banyak permasalahan yang menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia. Bermula dari krisis moneter, anjlognya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyebabkan munculnya krisis ekonomi. Sektor-sektor perekonomian yang banyak tergantung pada bahan baku import menjadi collapse. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Negara tetangga, Malaysia dan Thailand, juga mengalami hal serupa, bahkan terjadi lebih awal. Namun perlahan-lahan mereka dapat mengatasinya karena politik negara stabil.
            Beda halnya dengan Indonesia, krisis ekonomi yang terjadi diikuti dengan situasi politik internal yang sedang bergejolak semakin memporak-porandakan kehidupan masyarakat. Terlalu banyak agenda pemerintah, yang masing-masing menuntut untuk segera diselesaikan, namun kemampuan pemerintah tampak kurang memadai. Akibatnya hingga sekarang pemulihan perekonomian tak kunjung tiba yang berakibat pada kian merosotnya daya beli masyarakat. Badai krisis yang tak kunjung padam ini menyebabkan PHK secara besar-besaran.
            Kesulitan pemerintah Indonesia dalam menghadapi sejumlah persoalan krisis ini menyebabkan kurangnya perhatian terhadap masyarakat. Keadaan krisis ini diberitakan meningkatkan jumlah orang miskin hingga mencapai 80 juta orang di Indonesia. Semakin banyak jumlah anak usia sekolah dasar yang terlihat baik di jalanan atau di pasar tradisional pada waktu sekolah,  menunjukkan bahwa mereka tidak menghadiri sekolah lagi. Mereka ada yang berlaku sebagai pengamen, pengemis dan juga tenaga kasar di pasar.
Tampaknya, dengan semakin merajalelanya jumlah pengemis di Indonesia menjadikan mereka tidak hanya memanfaatkan pasar atau tempat-tempat keramain saja sebagai lahan untuk mencari nafkah. Bahkan di kampus-kampus yang fungsi dasarnya sebagai tempat menuntut ilmupun kini tidak pernah sepi darinya. Begitu juga dengan apa yang bisa kita lihat di Universitas Islam Negeri Malang. Setiap hari, kita bisa menyaksikan keberadaanya di sepanjang pintu masuk kampus.
Ada satu hal yang menarik dari fenomena ini. Yaitu apabila kita mau mengamatinya, ternyata pengemis yang “mangkal” di UIN Malang adalah orang yang sama dari hari ke hari. Entah karena faktor apa, sehingga menjadikan pengemis-pengemis itu merasa betah untuk mencari nafkah di kampus kita. Asumsi saya, hal ini sangatlah berkaitan dengan respon sosial mahasiswa terhadap mereka. Sehingga, saya memilih tema ini sebagai bahan observasi.

B. Rumusan Masalah
            Untuk memfokuskan permasalahan-permasalahan pada observasi ini kami susun beberapa rumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana respon sosial mahasiswa UIN terhadap pengemis?
2.      Bagaimana pengaruh keberadaan kampus terhadap penghasilan pengemis?
3.      Apa dampak tersebarnya pengemis di lingkungan kampus terhadap pribadi mahasiswa dan dari segi keindahan ?





    C. Tujuan
            Adapun tujuan dari observasi ini antara lain :
1.      Untuk mengidentifikasi seberapa besar respon sosial mahasiswa terhadap pengemis
2.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh keberadaan kampus terhadap penghasilan pengemis
3.      Untuk mengetahui lebih terperinci lagi dampak yang terjadi akibat tersebarnya pengemis di sekitar kampus terhadap pribadi mahasisiwa maupun keindahan kampus  




















BAB II
REVIEW TEORI IBD

A. Pengertian keindahan
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mepunyai sifat indah adalah yang mempunyai hasil seni. Setiap manusia memiliki kecendrungan untuk menghadirkan keindahan dalam hidupnya. Itu dapat kita amati dalam kehidupan kita sehari-hari. Pakaian yang kita dapati, penataan interior dan eksterior rumah rumah kita, tempat kerja kita, sampul ilmiah buku sastra, juga bacaan pop, segala jenis majalah, kampus, tempat ibadah, tempat rekreasi, semuanya ditata dengan keindahan.
Keindahan bagi manusia merupakan sesuatu yang sangat penting, yang menunjukan bahwa manusia itu memiliki perasaan yang halus, lembut, serta menghargai kualitas. Ada keindahan dalam arti luas dan ada pula keindahan dalam arti sempit, ada pula keindahan dalam arti estetik murni, kontemplasi, ekstese, nilai estetis karya seni dan lain-lain. Keindahan dalam arti luas mengandung arti kebaikan. Plato menyebutnya sebagai watak yang indah dan hokum yang indah. Sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang juga menyenangkan.
Pengertian keindahan dalam arti estetik murni adalah pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan sesuatu yang diserapnya. Adapun pengertian keindahan dalam arti terbatas, hanya benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yaitu berupa keindahan bentuk dan warna. Keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai, seperti halnya nilai moral, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang tercakup dalam pengertian keindahan yang disebut nilai estetis. Para filosof mendefinikan keindahan sebagai suatu kesatuan hubungan yang formal pengamatan yang menimbulkan rasa senang.
B. Sifat-sifat keindahan
Untuk mengatakan sesuatu itu indah atau tidak, berikiut ini akan diungkapkan sifat-sifat keindahan. Atas dasar sifat ini, juga akan dikemukakan beberapa tanggapan mengenai keindahan.
1. keindahan itu kebenaran
Kebenaran artinya bukan tiruan, nyata, sebenarnya. Oleh karena itu, lukisan Monalisa tiadk indah karena pada dasarnya tidak benar. Mana yang indah gadis cantik atau lukisan gadis cantik itu.
2. keindahan itu abadi
Abadi artinya tidak pernah dilupakan, tidak pernah hilang dan susut. Contohnya : Karya musik Iwan Fals hingga kini masih banyak yang suka menyanyikan lagunya, karana indah. Dan menurut Jons Keats menyatakan bahwa sesuatu yang indah adalah abadi, sedangkan yang tidak abadi itu tidak indah.
3. Keindahan itu mempunyai daya tarik
Daya tarik artinya memikat perhatian orang lain, menyenangkan dan tidak mebosankan. Misalnya. Desi ratnasari menyenangkan orang lain karana dia mempunyai daya tarik tersendiri, sehingga menuirut Jons Keats keindahan itu selain abadi juga mempunyai daya tarik yang selalu bertambah.
4. Keindahan itu universal
Universal artinya tidak terikat dengan selera perseorangan, waktu dan tempat.
5. Keindahan itu wajar
Wajar artinya tidak berlebihan dan tidak pula kurang atau menurut apa adanya. Misalnya, foto berwarna yang dicetak lebih indah daripada warna aslnya, justru tidak indah karena berlebih-lebihan. Penyanyi yang berteriak-teriak dan berjingkrak-jingkrak ketika membawakan sebuah lagunya sehingga melebihi kewajaran, justru tidak indah.
6. Keindahan itu kenikmatan
Kenikmatan artinya kesenangan yang meberikan kepuasan. Menonton film atau pertunjukan tari-tarian yang tidak menyenangkan dikataka tidak indah. Apabila pencipta suatu karya seni memperoleh kenikmatan atau kepuasan apabila karyanya itu dikatakan indah. Contohnya : Cintaku di Kampus Biru oleh Ashadi Siregar menyebabkan si pengarang merasa puas karena keindahan karyanya.
7. keindahan dan kebiasaan
Kebiasaan artinya dilakukan berulang-ulang. Yang tidak bisa menjadi biasa karena dilakukan berulang-ulang. Yang tidak biasa tidak indah namun karena dilakukan berulang-berulang sehingga menjadi biasa dan indah. Contohnya : merokok, meroko itu tidak enak, bahkan merusak. Akan tetapi karena sering dilakukan maka menjadi indah.

C. Manusia, keindahan dan yang mendorong manusia menciptakan keindahan
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Oleh karena itu akal dan budi manusia ini memiliki kehendak dan keinginan. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal budi, sedangkan kehendak keinginan pada hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itupun bersifat demikian, jumlah tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan yang memuaskan hatinya.
Persepsi keindahan yang muncul dari akal dan budi dapatlah disebut sebagai keindahan dalam arti yang sebenarnya, sedangkan keindahan yang muncul dari dorongan nafsu merupakan keindahan semu.
D. Pengertian dan hakikat cinta kasih
Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsure karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih dan kemesraan, belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, manusia dengan lingkungannya dan antara manusia dengan Tuhan.
Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan, kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan dan kebahagian.
Dalam kehidupan manusia, cinta kasih menampakan diri dalam berbagai bentuk, dari seseorang yang mencitai dirinya, istrinya, anak-anaknya, hartanya dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia, potensi dan frekuensi berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Apabila cinta seseorang telah tumbuh berarti orang itu mengandung hikmah yang menuntun dirinya kepada kebenaran, kebajikan dan pengorbanan.

E. Macam-macam cinta kasih
1. Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia yang paling benung, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah SWT dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian dan doa’nya saja tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkan kehidupannya dan menundukan semua bentuk kecintaan lainnya.
Cinta ini juga akan membuatnya menjadi seseorang yang cinta kepada sesame manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta. Karena dalam pandangannya semua wujud yang ada disekelilingnya mempunyai manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan krinduan-keriduan spiritualnya dan harapan qalbunya.
2. Cinta kepada rasul
Cinta kepada rasul yang diutus Allah sebagai rahamat bagi seluruh alam semesta, untuk memberi petunjuk dan membersihkan hati manusia. Cinta kepada rasul adalah cinta kedua setelah Allah, karena rasulullah merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral maupun berbagai sifat luhur lainnya. Maka kita wajib mengikuti tauladan rasul dan menjauhi larangannya.
3. Cinta kepada orang tua
Tuhan mentakdirkan cinta kasih dan kasih saying kepada anak sebagai bagian sifat kemanusiaan yang dibawa sejak lahir. Tuhan juga menanamkan perasaan yang agung tersebut sedemikian kuatnya dalam sanubaru orang tuanya. Atas dasar inilah maka semua perintah dan kewajiban yang diberian Tuhan ditunjukan kepada anak agar anak memperlakukan orang tuanya dngan penuh kasih saying dan hormat. Perintah ini merupakan perintah yang teramat mulia karena menyadarkan kepada manusia bahwa hubungan famili, perasaan kasih sayaan dan hormat kepada orang tua memberikan makna yang dalam akan kehadiran manusia di dunia.
4. Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya denga dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya dan mengaktualisasikan diri. Ia juga mencintai segala sesuatu yang menatangkan kebaikan, ketentraman dan kebahagian pada dirinya. Al-qur’an telah menjelaskan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecendrungan untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagib dirinya. Diantara gejala lain yang menunjukan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah permohonan yang terus-menerus agar dikarunia harta, kesehatan dan kebahagian hidup di dunia.
5. Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup denga penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak dia harus membatasi cintanya pada dirinya sendiri dan egoismenya. Juga hendaknya menyeimbangkan cintanya itu dengan denga cinta dan kasih saying kepada orang lain, bekerja sama denga memberikan bantuan kepada orang lain.
Secara sederhan cinta bisa dikatakan sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang diantara pria dan wanita saja akan tetapi bisa juga antara pria dengan pria dan wanita dengan wanita

F. Kasih sayang
Kasih sayang bisa diartikan pula sebagai perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Kasih saying tidak menuntut adanya dua pihak yang terlibat didalamnya, yaitu seseorang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang, cinta dan suka itu sendiri. Pengalaman hidup sehari-hari memaksa kita untuk mengakui bahwa bagaimanapun hidup kita akan memperoleh arti apabila telah bisa kita peroleh perhatian dari orang lain. Dan perhatian itu pada dasarnya merupakan salah salah satu unsure dasar dari cinta kasih. Perhatian tersebut bisa saja datang dari orang tua, saudara, suami atau istri, kawan atau kelompok. Hidup akan terasa lebih indah, bahagia dan mengesankan apabila telah mampu memahami berbagai perhatian orang lain.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S Purwodaminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka pada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagian. Kaish sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu.

G. Belas Kasihan
Dalam surat yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta. Pertama cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan yang ditenangkan pada kegiatan belajar. Kedua, cinta philia ialah cinta kepada bapak, ibu dan saudara. Ketiga, cinta eros atau amor ialah cinta antara pria dan wanita. Cinta sesame ini diberikan istilah “Belas Kasihan” karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaan.
Perbuatan atau sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Dari surat Al-Qalam ayat 4 maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.
Belas kasihan dapat menimbulkan daya kreatifitas yang berarti orang dapat berbuat, berkarya, mencipta, mencari, menemukan dan lain-lain. Berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi. Ada yang memberikan uang, barang, pakaian, makanan dan sebagainya.


BAB III
LAPORAN HASIL OBSERVASI

1. Setting Lingkungan Sosial
            Universitas Islam Negeri (UIN) Malang merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang bertempat di Jl. Gajayana No. 50 Dinoyo Malang. UIN Malang juga salah satu perguruan tinggi negeri yang memiliki gedung perkuliahan yang megah disertai pilar yang kokoh. Bahkan pada saat sekarang ini semua gedung-gedung termasuk gedung rektorat sudah selesai dibangun sehingga menjadikan kampus ini sebagai “The Blue Campus”. Dilengkapi dengan taman yang indah serta tanaman hias yang beraneka ragam yang menjadikan kampus UIN Malang ini semakin indah. Oleh karena itu tidak megherankan apabila pada tahun ajaran baru ini mahasiswa-mahasiswi yang melanjutkan ke Univesitas ini semakin bertambah.
Selain itu, yang menjadikan UIN Malang ini berbeda dengan yang lain adalah adanya Ma’had Bilingual/ Pondok Pesantren dua bahasa. Ma’had yang ada di UIN Malang, tidak hanya berfungsi sebagai asrama, tetapi lebih jauh lagi Ma’had/Pondok tersebut berfungsi sebagai tempat menggembleng mahasiswa menuju pengembangan spiritual dan keintelektualan, dengan motto “Mencetak Kader yang Professional Ulama”. Di Ma’had tersebut/ Ma’had Sunan Ampel Al-‘Ali mengembangkan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.
           Disisi lain UIN Malang merupakan satu-satunya kampus yang mengizinkan pengemis-pengemis untuk mangkal di lingkungan kampus, oleh karena itu tidak mengherankan apabila kita bisa melihat pengemis-pengemis yang bersebaran di sekitar kampus UIN Malang. Dengan keberadaan pengemis-pengemis ini justru mahasisiwa-mahasiswi yang menunutut ilmu di kampus UIN Malang tidak merasa terganggu, walaupun ada sebagian dari mereka yang merasa terganggu bahkan tidak senang, akan tetapi kebanyakan dari mereka memiliki respon sosial yang tinggi terhadap pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampus. Dari respon sosial mahasiswa yang tinggi inilah salah satu faktor yang meyebabkan pengemis-pengemis semakin hari  semakin bertambah.

2. Permasalahan Yang Terjadi
            Dari semakin terkenalnya UIN Malang, semakin megah bangunannya serta akhlak dari mahasiswanya yang memiliki budi pekerti yang baik, ramah tamah dan tidak suka menghina bahkan memiliki respon yang tinggi kepada pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampusnya sendiri. Jusrtu memberikan peluang bagi pengemis untuk berdatangan ke lingkungan kampus UIN dan mangkal disana.
            Karena hasil dari observasi yang telah saya lakukan, para pengemis yang meminta-minta di sekitar kampus UIN memperoleh penghasilan yang cukup banyak dibandingkan dengan tempat yang lainnya, yaitu sekitar Rp.20000,00/hari. Sehingga dari faktor inilah yang menyebabkan semakin merebaknya pengemis di lingkungan kampus. Kita dapa melihat dengan mata kepala kita sendiri di setiap sudut jalan ketika kita menuju gerbang arah selatan yang berdekatan dengan Jln. sumbersari. Disekitar itu kita dapat melihat ada banyak pengemis yang mangkal disetiap sudut, kurang lebih sekitar 5 keatas. Sebagian dari mereka ada yang cara meminta-mintanya sambil berdiri, duduk, membawa anak kecil, dan ada pula yang menggunakan alat abantuan seperti tongkat untuk berjalan.



3. Bentuk-Bentuk Permasalahan Sosial
            Dengan semakin merebaknya pengemis di lingkungan kampus pada kenyataannya   menjadikan semakin banyak  permasalahan-permasalahan sosial yang timbul. Adapun bentuk-bentuk permasalahan itu antara lain :
1.      Banyak kendaraan dosen, karyawan dan mahasiswa yang sulit keluar-masuk kampus akibat banyaknya anak-anak pengemis yang berlarian di tengah jalan.
2.      Banyak mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung sedikit memaksa
3.      Banyak penduduk sekitar yang merasa risih akibat keberadaan pengemis yang setiap hari mangkal.

4. Penyebab Timbulnya Masalah Sosial
Berdasarkan hasil interviu yang telah saya lakukan dengan beberapa pengemis, saya dapat menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab mereka memilih profesi menjadi pengemis, diantara faktor tersebut yaitu:
1.      Desakan ekonomi
            Penghasilan ekonomi yang rendah, serta tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dan harga bahan pokok semakin hari semakin melonjak tinggi.  Sehingga pada aat sekarang ini orang rela berbuat apapun demi memenuhi kebutuhannya, walaupun perbuatan tersebut sesungguhnya sangat tidak baik dimata manusia. Begitu pula yang dialami pengemis-pengemis, menurut pengakuan mereka, mereka memilih berprofesi menjadi pengemis semata-mata karena terpaksa. Mereka sebenarnya tidak menginginkan profesi tersebut apalagi bercita-cita menjadi pengemis. Karena tidak ada seorangpun yang menginginkan dalam hidupnya sengsara, miskin, dan hina dimata orang lain.

2.   Sempitnya lapangan kerja
Di zaman sekarang ini lowongan untuk mencari kerja sangat sulit sekali, jangankan yang lulusan SMP bahkan lulusan sarjanapun banyak yang menganggur. Faktor ini pula yang sesungguhnya dialami oleh pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampus. Menurut pengakuan mereka, sebelum berprofesi sebagai pengemis mereka pernah berusaha untuk mencari pekerjaan yang selayaknya.. Seperti : melamar menjadi pembantu rumah tangga, petugas kebersihan jalan. Akan tetapi mereka tidak diterima sehingga mereka memilih alternatif terakhir yaitu berprofesi menjadi pengemis. Ada salah satu dari mereka yang pernah bekerja sebagai ibu rumah tangga, tetapi tidak bertahan lama, hanya beberapa bula saja.
3.  Rendahnya Skill Yang Dimiliki
Kemampuan/skill seseorang merupakan faktor yang urgen untuk membawa seseorang menuju pintu kesuksesan. Apabila skill yang dimiliki seseorang itu tinggi maka banyak orang membutuhkannya. Tetapi sebaliknya apabila skill yang dimiliki rendah apalagi sampai tidak menemukan apa skill yang dimilikinya maka niscaya tidak ada orang yang membutuhkannya. Jadi skill ini sangat diperlukan sekali dalam kehidupan kita di dunia ini. Rendahnya skill yang dimiliki merupakan sebuah masalah besar, karena ketika seseorang tidak mempunyai skill yang bisa membawa hidupnya lebih baik maka permasalahan yang sangat besar akan menghadapinya.
Faktor ini pula yang menyebabkan mereka memlih berprofesi menjadi pengemis. Karena berdasarkan pengakuan mereka, sebelumnya mereka pernah berusaha untuk membuka usaha seperti : berjualan kue, membuat mainan dari bambu. Dikarenakan keterbatasan kemampuan mereka sehinggga mereka tidak berhasil melakukannya. Walaupun mereka pernah menggelutinya, tetapi hanya beberapa bulan saja.
4. Rendahnya jenjang pendidikan yang ditempuh
            Pada zaman sekarang ini ijazah sangat diperlukan sekali sebagai wasilah dalam memperoleh pekerjaan. Namun bukan berarti ijazah adalah segalanya, karena pada kenyataannya banyak orang yang memiliki ijazah bahkan sampai  ijazah SI tetapi tidak memperoleh pekerjaan. Berdasarkan hasil interviu yang telah saya lakukan dengan beberapa pengemis yang berada di lingkungan kampus. Menurut pengakuan mereka, mereka hanya tamat SD bahkan ada yang tidak tamat.
             Faktor ini pula yang menyebabkan mereka memlih berprofesi menjadi pengemis. Karena pada awalnya mereka juga pernah berusaha untuk melamar pekerjaan ke pabrik-pabrik, akan tetapi dikarenakan rendahnya jenjang pendidikan yang mereka tempuh sehingga mereka tidak diterima di pabrik-pabrik tersebut tersebut. Walaupun ada sebagian dari mereka yang pernah bekerja di pabrik-pabrik akan tetapi hanya beberapa tahun saja.

4. Dampak Riil masalah sosial dalam kehidupan sosial masyarakat
            Dari hasil observasi yang telah saya lakukan lewat interviu dengan beberapa pengemis, disini saya dapat menemukan beberapa dampak rill yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Adapun dampak rill yang terjadi yaitu antara lain sebagai berikut :
A.     Ejekan, Hinaan dan Cemoohan
Berdasakan pengakuan mereka, mereka pernah dihina, diejek, dan dicemooh oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Entah dengan alasan apa mereka berbuat seperti itu, akan tetapi menurut Ibu Mariyanah yang pernah mengalaminya.mereka berbuat seperti itu dikarenakan mereka jijik dengan penampilan yang dikenakan. Sehingga setiap kali Ibu Maryanah pergi untuk meminta-minta, Ibu Maryanah selalu mencari tempat yang jauh dari tempat tinggalnya agar tidak diejek, dihina, dicemooh orang lagi.
B.     Dijauhi Dalam Pergaulan
Menurut pengakuan mereka, ketika masyarakat sekitar mengetahui profesi yang dilakukannya. Hari demi hari mereka merasa masyarakat sekitar menjauhi mereka khususnya tetangga dekat. Sehingga setiap kali mereka ingin meminta tolong dan ngobrol selayaknya orang lain kepada penduduk sekitar, seolah mereka enggan untuk menaggapinya. Perkara itu pula yang dialami oleh Ibu Maryanah, menurut pengakuannya, Ibu Maryanah pernah mengalaminya kurang lebih beberapa bulan.
C. Diusir dari Kontrakan
            Ketika saya melakukan interviu kepada beberapa pengemis ternyata mereka sangat terbuka sekali, bahkan mereka mengeluarkan keluhan-keluhan mereka yang terkait dengan dampak rill yang terjadi dimana mereka tinggal. Ada salah satu pengemis yang pernah diusir dari kontrakannya karena telat bayar kontrakan, tetapi menurutnya hal itu bukan penyebab utama pemilik kontrakan mengusirnya. Akan tetapi akibat buah bibir masyarakat yang selalu terdengar ditelinganya. Sehingga pemilik kontrakan tersebut dengan tega hati mengusirnya.

 










BAB IV
PEMBAHASAN, ANALISA DAN SOLUSI

A. Pembahasan
1. Respon Mahasiswa UIN Terhadap Pengemis
Dari hasil observasi yang telah saya lakukan dengan meyebarkan angket kepada mahasiswa-mahasiswi yang berjumlah 50,  saya memperoleh data yang sekiranya ini akan menjadikan acuan buat saya pribadi untuk mengidentifikasi seberapa jauh tingkat respon mahasiswa UIN terhadap pengemis di lingkungan kampus. Selain dengan angket saya juga melakukan interviu secara langsung kepada beberapa mahasiswa, baik semester II, semester VI, semester VI maupun semester VIII. Kemudian disertai bukti yang otentik yakni berdasarkan pengakuan pengemis-pengemis ketika saya lakukan interviu.
Pertanyaan yang saya ajukan sebenarnya hampir sama dengan angket yang saya sebarkan kepada beberapa mahasiswa, hanya saja kalau angket berupa tulisan sedangkan interviu berupa lisan. Dari hasil observasi yang telah saya lakukan, baik dari hasil interviu maupun penyebaran angket, disini saya dapat mengidentifikasi bahwa respon sosial mahasiswa UIN ternyata cukup tinggi.
Adapun data yang saya peroleh, sebagai berikut :
1. Bagaimana perasaan anda ketika melihat pengemis-pengemis di sekitar kampus ?
Jawaban
Kasihan
Biasa saja
Benci
Prosentase
70 %
25 %
5 %



2. Apakah anda merasa terganggu dengan keberadaan pengemis di kampus kita ?
 Jawaban
Terganggu
Tidak terganggu
Prosentase
85 %
15 %

3. Apakah anda selalu memberikan santunan kepada pengemis itu ?
Jawaban
Iya
Jarang
Tidak pernah
Prosentase
40 %
55 %
5 %

4. Bagaimana perasaan anda ketika memberikan santunan kepadanya?
Jawaban
Seneng
Biasa aja
Sebel
Prosentase
70 %
 25 %
5 %

5. Apakah anda merasa dirugikan oleh pengemis yang berda di kampus kita?
Jawaban
Iya
Tidak
Prosentase
85 %
15 %

6. Menurut anda apakah keberadaan pengemis mengurangi keindahan kampus ?
Jawaban
Iya
Tidak
Prosentase
75 %
25 %

Adapun nama-nama mahasiswa yang saya telah wawancarai adalah sebagai berikut :
Nama
Jurusan
Semester
HairulAnwar
Pendidikan agama islam
II
Rohmat. H
Matematika
IV
Sofyan Hadi
Matematika
VIII
Romlah
Pendidikan agama islam
VI
Tri pendra
Matematika
II
Hisby
Psikologi
IV
Ali Mustafa
Bahasa Arab
II
Angga
Pendidikan Agama Islam
II
M. Roki’in
Pendidikan Agama Islam
II
Ma’ruf
Fisika
II
Zamrodi
Kimia
II
Muhib
Matematika
IV
Andri Setyo
Teknik Informatika
VIII
Chairul Anas
Biologi
VIII
Syamsudin
Teknik Informatika
VI
Sahibul Wafa
Teknik Informatika
VI
Qamarudin
Teknik Arsitek
VI



Sedangkan data dari hasil interviu saya dengan beberapa pengemis yaitu sebagai berikut :
·        Pengahasilan Rp. 20000,00/hari.
·        Sekolah anak-anak mereka dibiayai oleh salah satu mahasiswa UIN.
·        Ada beberapa mahasiswa UIN yang sering berkunjung ke rumah untuk memberikan santunan.

2. Pengaruh Keberadaan Kampus Terhadap Pengahasilan Pengemis
Beberapa minggu yang lalu saya telah melakukan interviu secara langsung kepada beberapa pengemis yang salah satunya yaitu : Ibu Maryanah, Ibu Sumiarti dan lain-lain. Kemudian saya mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan judul observasi saya. Walhasil saya memperoleh penjelasan atau data dari interviu saya dengan beberapa pengemis mulai dari awal hingga akhir. Adapun data yang saya peroleh sebagai berikut :
Nama Ibu Maryanah, umur 40 tahun, sebelum berprofesi sebagai pengemis awalnya Ibu Maryanah adalah seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Sawunggaling I. Beliu pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, penjual kue keliling. Ibu Maryanah mempunyai dua anak laki-laki, anak pertama bernama Muhammad Asy’ari, umur 13 tahun. Sekarang tinggal di Pondok gading bersama salah satu mahasiswa UIN dan anak kedua bernama Muhammad Endra, umur 7 tahun, sekarang sedang “Griya Baca”. Yang diasuh oleh mahasiswa UIN.
Ibu maryanah sebelumnya mempunyai suami yang berprofesi sebagai tukang becak, tetapi sekarang sudah bercerai. Suaminya bernama Pak Samuri, berusia 45 tahun. Pada awalnya kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja, tetapi setelah suaminya menikah lagi dan suaminya tidak pernah memberikan nafkah lagi kepada anak-anaknya sehingga ibu Maryanah terpaksa berprofesi menjadi pengemis. Dan profesi ini baru dilakukannya selama 1 ½ tahun.
Sedangkan data dari pengemis yang lain sebagai berikut : nama Ibu Sumiarti, umur 45, sebelum berprofesi sebagai pengemis awalnya Ibu Sumiarti adalah seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di jalan Karang Ploso. Ibu Sumiarti sebelumnya pernah bekerja sebagai buruh pabrik, dikarenakan di PHK sehingga IBu Sumiarti tidak punya pekerjaan lagi. Ibu Sumiarti mempunyai satu anak perempuan, bernama Hanum, umur 21 tahun. Sekarang tinggal entah dimana, IBu Sumiarti juga tidak mengetahuinya, tetapi menurut Ibu Sumiarti dia sudah tidak pernah berkunjung kerumahnya selama 6 Tahun lebih. Dan dengan kepergian anak satu-satunya itu membuat Ibu Sumiarti sedih
Adapun suami Ibu Sumiarti bernama Pak Sutris, berusia 52 tahun. Sekarang sudah meninggal dunia akibat sakit-sakitan. Pada awalnya suami Ibu Sumiarti berprofesi sebagai kuli bangunan, akan tetapi karena sakitnya yang berkepanjangan sehingga Pak Sutris tidak mampu bekerja lagi. Akhirnya biaya kehidupan sehari-hari diperoleh dari istrinya. Kehidupan rumah tangga mereka pada awalnya baik-baik saja, tetapi setelah Ibu Sumiarti di PHK dan suaminya tidak mampu bekerja lagi ditambah penyakit yang dideritanya memakan uang ukup banyak. Sehingga Ibu Sumiarti terpaksa berprofesi menjadi pengemis. Profesi ini Ibu Sumiarti lakukan selama 2 tahun lebih.
Kemudian setelah itu saya menanyakan kembali tentang seberapa besar pengaruh keberadaan kampus terhadap pengahasilan Ibu? Menurut pengakuannya, mereka mengatakan bahwa keberadaan kampus sangat berpengaruh sekali terhadap pengahasilannya. Karena dengan kampus yang besar, megah dan mahasiswanya banyak justru pengahsilannya bisa bertambah. Akan tetapi menurut mereka hanya UIN saja yang memiliki pengaruh besar sedangkan Kampus lain tidak begitu berpengaruh bahkan tidak berarti apa-apa.
Karena salah satu dari mereka pernah mangkal disalah satu perguruan negeri  yang lain seperti UNIBRAW, UNMU, ITN, UNMER dan lain-lain. Hasilnya mereka tidak memperoleh apapun selain hinaan bahkan diusir dari lingkungan kampus. Ini membuktikan bahwa keberadaan kampus UIN sangat berpengaruh terhadap penghasilan pengemis.

C.     Dampak Tersebarnya Pengemis di Lingkungan Kampus
Kita telah ketahui bersama bahwa setiap sebab pasti ada akibatnya. Dari semakin merebaknya pengemis-pengemis yang ada di lingkungan kampus, justru pengaruh yang timbul akibatnya sangat besar sekali. Adapun dampak yang timbul akibat merebaknya pengemis di lingkungan kampus antara lain sebagai berikut :

1. Terhadap Pribadi Mahasiswa
Dari hasil penyebaran angket yang telah saya sebarkan kepada mahasiswa-mahasiswi, ada beberapa problem yang secara psikis menyangkut pribadi mahasisiwa akibat merebaknya pengemis di lingkungan kampus. Disatu sisi ada beberapa mahasiswa merasa dirugikan dengan keberadaan pengemis yang setiap hari meminta terus. Disisi lain juga ada sebagian mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung memaksa, sehingga tidak mengherankan apabila ada salah seorang mahasiswa yang ketika dipinta uluran tangannya bersikap acuh tak acuh.
2. Terhadap Keindahan Kampus
            Pada saat sekarang ini kita sudah ketahui bersama bahwa UIN yang pada mulanya hanya kampus biasa, sekarang sudah berubah menjadi kampus yang memiliki gedung yang sangat megah disertai pilar yang kokoh. Kemudian dihiasi taman yang begitu indah serta ditanami berbagai macam tanaman yang nampak memperindah. Akan tetapi keindahan tersebut semakin menurun akibat tersebarnya pengemis di lingkungan kampus.
Dari hasil observasi baik berupa penyebaran angket maupun interviu langsung kepada mahasiswa. Semuanya sepakat bahwa merebaknya pengemis di lingkungan kampus sangat berpengaruh sekali terhadap keindahan kampus, tetapi ada sebagian yang tidak sepakat. Berdasarkan komentar mereka, cara berpakain pengemis saja sudah compang-camping, ditambah terkadang pengemis-pengemis itu membawa tiker, karung untuk beristirahat. Sehingga apabila dilihat, kita merasa tidak nyaman dan keberadaannya tersebut sangat mengurangi keindahan kampus yang semula indah dipandang mata.


B. Analisa
            Disini, insya Allah saya akan mencoba menganalisis sedikit tugas observasi saya yang berudul “Analisis Deskriptif Respon Sosial Mahasiswa UIN Terhadap Pengemis di Lingkungan Kampus”. Menurut analisis saya berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan bahwa respon sosial mahasiswa UIN terhadap pengemis di lingkungan kampus cukup tinggi, mengapa saya katakan demikian. Apabila dilihat dari bagan diatas, mahasiswa yang senantiasa memberikan santunan tatkala dipinta uluran tangannya kurang lebih 45 %, jarang 55 % dan yang tidak sama sekali 5 %. Keterangan diatas membuktikan bahwa Respon Sosial Mahasiswa UIN Terhadap Pengemis di Lingkungan Kampus cukup tinggi.
Bukti ini juga diperkuat dengan pengakuan pengemis bahwa mahasiswa UIN lebih tinggi respon sosialnya daripada mahasisiwa perguruan tinggi yang lain. Adapun pengaruh keberadaan kampus terhadap pengahasilan pengemis, menurut analisis saya, pengaruhnya besar sekali. Karena berdasarkan keterangan diatas, mereka mengatakan  dengan keberadaan kampus yang terkenal, megah dan mahasiswanya banyak justru pengahsilannya bisa bertambah. dan mereka mengalami pengaruhnya hanya di kampus UIN saja. Karena di kampus lain mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali hanya hinaan, ejekan, cemooh bahkan diusir dari kampus. Dari keterangan diatas membuktikan bahwa keberadaan kampus UIN sangat berpengaruh terhadap penghasilan pengemis.
Sedangkan dampak tersebarnya pengemis di lingkungan kampus terhadap pribadi mahasiswa dan keindahan kampus, menurut analisis saya, dampaknya sangat besar sekali. Karena dengan merebaknya pengemis  di lingkungan kampus, disatu sisi membuat beberapa mahasiswa merasa dirugikan dengan keberadaan pengemis yang setiap hari meminta terus-menerus. Disisi lain juga ada sebagian mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung memaksa. Dan yang lebih parahnya lagi dengan tersebarnya pengemis di lingkungan kampus menjadikan keindahan kampus semakin berkurang.

C. Solusi
Adapun solusi dari saya yang sekiranya dapat dijadikan acuan agar pengemis yang ada di lingkungan kampus UIN Malang tidak merebak kembali atau bahkan berkurang hari demi hari antara lain sebagai berikut :
·        Mengajukan permohonan kepada pihak birokrasi agar pengemis yang berada di lingkungan kampus dipekerjakan sebagai petugas kebersihan atau pencabut rumput dan lain sebagainya.
·        Mendirikan sebuah organisasi yang didalamnya menampung sebuah wadah untuk mengembangkan bakat yang ada pada diri pengemis, sehingga pengemis tersebut mempunyai keterampilan untuk kelangsungan hidupnya.
·        Melaporkan kepada pihak birokrasi untuk menindak lanjuti pengemis-pengemis yang ada disekitar kampus agar tidak mangkal kembali dengan konsekuensi mereka diberikan jaminan hidup walupun hanya sekedar makan sehari-hari saja.









BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
             Dari pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Dari semakin terkenalnya UIN Malang, semakin megah bangunannya serta akhlak dari mahasiswanya yang memiliki budi pekerti yang baik, ramah tamah dan tidak suka menghina bahkan memiliki respon yang tinggi kepada pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampusnya sendiri. Jusrtu hal ini memberikan peluang bagi pengemis untuk berdatangan ke lingkungan kampus UIN untuk meminta-minta.
            Akan tetapi justru dengan kehadiran pengemis tersebut, respon sosial yang diberikan mahasiwa cukup tinggi, bahkan ada sebagian mahasiswa yang rela berkorban waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk menolong anak pengemis tadi agar bisa membaca dan menulis. Dan apabila kita telusuri ternyata keberadaan kampus UIN sangat berpengaruh sekali terhadap pengahasilan pengemis, karena berdasarkan hasil observasi pengahsilan merka selama mengemis di UIN sekitar Rp. 20000,00/hari.
            Disatu sisi, dengan merebaknya pengemis di lingkungan kampus, dampak atau pengaruh yang timbul sangat besar sekali. Khususnya pengaruh bagi diri pribadi mahsisiwa UIN dan keindahan kampusnya. Karena pada kenyataannya ada sebagian mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung memaksa dan dari cara berpakaian pengemis serta peralatan yang dibawanya yang sangat mengurangi keindahan kampus. Sehingga setiap kali orang melihatnya merasa tidak nyaman.


DAFTAR PUSTAKA

Ali Akbar, DR. H, Merawat Cinta Kasih, Pustaka Antara, Jakarta, 1981.

Budi Dharma, Keindahan Pandangaan Romantis, Dalam Ilmu Budaya, Konsorsium Antar Bidang, Depdikbud, Jakarta, 1982.

Habib Mustopo dan Kawan-Kawan, Ilmu Budaya Dasar, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.

Mahmud bin As-Syarif, Nilai Cinta Dalam Al-Qur’an, Terjemah, Drs. As’ad Yasin, Cv. Pustaka Mantik, Solo, 1993.

Munandar Sulaiman MS, IR, M, Ilmu Budaya Dasar, Suatu Pengantar, PT. Eresco, Bandung, 1992.

Notowidagdo Rohiman, Drs. H, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, Rajawali Pers, Jakarta, 1996.


untuk melihat identifikasi mahasiswa yang lain bisa dilihat disini
More aboutmengidentifikasi seberapa besar respon sosial mahasiswa terhadap pengemis