Perkembangan Emosi Peserta Didik Remaja

Posted by anharul ulum


  1. Pengertian Perasaan dan Emosi
Perasaan sulit untuk didefinisikan secara persis. Menurut (Chaliplin,1989:163) perasaan sebagai pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh perangsang eksternal maupun bermacam- macam keadaan jasmani. (Max Scheber,1990:79) membagi perasaan menjadi empat kelompok,yaitu:
    1. Perasaan Pengindraan, yaitu yang berhubungan denngan pengindraan, misalnya rasa panas, dingin, dll.
    2. Perasaan Vital, yaitu yang dialami seseorang yang berhubungan keadaan tubuh, misalnya rasa lelah, lesu, segar, dll.
    3. Perasaan Psikis, yaitu perasaan yang menyebabkan perubahan- perubahan psikis, misalnyarasa senang, sedih, dll.
    4. Perasaan Pribadi, yaitu perasan yang dialami seseorang secara pribadi, misalnya terasing, suka, tidak suka.
Perasaan merupakan bagian dari emosi, tidak terdapat perbedaan yang jelas antara perasaan dan emosi. Emosi bersifat lebih intens dari perasaan, lebih ekspresif, ada kecenderungan untuk meletus, da emosi dapat timbul dari kombinasi beberapa perasaan, sehingga emosi mengan dung arti yang lebih kompleks dari perasaan.



  1. Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku
Teori yang membahas mengenai hubungan antara emosi dan gejala- gejalanya kejasmanian termasuk di dalam tingkah lakunya.
    1. Teori Sentral
Bedasarkan teori yang dikemukakan oleh W.B. Cannon gejala kejasmanian timbul akibat dari emosi yang dialami oleh individu. Sehingga, individu mengalami emosi lebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan- perubahan dalam jasmaninya.
    1. Teori Perifir
Teori ini dikenal dengan teori James-Lange karena W. James dan C. Lange dalam waktu yang hampir bersamaan menemukan teori tentang emosi yang mirip. Mereka berpendapat bahwa perubahan psikologis yang terjadi dalam emosi disebabkan oleh karena adanya perubahan fisiologis. perubahan  fisiologi ini menyebabkan perubahan psikologis yang disebut emosi. Menurut teori ini orang susah karena menangis, orang senang karena tertawa bukan tertawa karena senang.
    1. Teori Kedaruratan Emosi
Teori ini dikenal dengan teori Cannon-Bard karena teori W.B.Cannon diperkuat oleh P.Bard. teori ini menyatakan bahwa emosi merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergensi atau darurat (Bimo,1910:137, Singgih, 1992:131-135).
Dari teori di atas semakin memperjelas hubungan antara emosi dan gejala kejamanian atau tingkah laku. Dari kajian mengenai perilaku sehat dapat dijelaskan bahwa keadaan marah, takut cemas atau akeadaan terangsang lainnya menyebabkan tubuh memproduksi zat adrenalin. Sehingga, dalam waktu yang lama produksi adrenalin akan berlebihan yang mempengaruhi kerja sisitem tubuh. Tekanan darah meningkat, jantung berdetak lebih cepat, pernafasan terganggu, pencernaan berhenti sementara, dsb. Dalam kondisi kronis secara terus- menerus kesehatan menjadi terganggu, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi. Keduanya memicu timbulnya penyakit jantung dan stroke.
Emosi dapat berfungsi sebagai motif yang memotivasi atau menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu berbuat atau bertingkah laku. Tingkah laku yang ditimbulkan oleh emosi tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Hal ini dapat ditemui dalam kehidupan sehari- hari misalnya:
1)      Ketika kita mengetahui saudara kita tertimpa bencana, timbul rasa haru, simpati, kemudian kita tergerak untuk memberikan sumbangan.
2)      Sekelompok seporter sepakbola yang menyaksikan tim kesebelasan favorit kalah, timbul perasaan kecewa, jengkel, marah, lalu bertindak brutal dengan merusak stadion.
3)      Pelajar saling mengolok- olok kemudian timbul kemarahan, sakit hati, atau dendam, yang akhirnya menyebabkan perkelahian atau tawuran antar pelajar.
Emosi dapat menimbulkan akibat positif maupun negatif. Sebaiknya kita dapat mengelola emosi agar tidak menimbulkan dampak negative yang tidak diinginkan.



3. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang pesat mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi. Pada masa ini dipercaya merupakan masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga dan lingkungannya.
Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja juga menyebabkan adanya perubahan psikologis. Hurlock (1973: 17) disebut sebagai periode heightened emotionality, yaitu suatu keadaan dimana kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih intens dibandingkan dengan keadaan normal. Emosi yang tinggi dapat termanifestasikan dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi berkobar-kobar atau mudah meledak, bertengkar, tak bergairah, pemalas, membentuk mekanisme pertahanan diri. Emosi yang tinggi ini tidak berlangsung terus-menerus selama masa remaja. Dengan bertambahnya umur maka emosi yang tinggi akan mulai mereda atau menuju kondisi yang stabil.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
  1. Perubahan jasmani atau fisik
Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa puber menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi kondisi prikis remaja. Tidak setiap remaja siap menerima perubahan yang dialami, karena tidak semuanya menguntungkan. Terutama perubahan tersebut mempengaruhi penampilannya. Hal ini menyebabkan rangsangan didalam tubuh remaja yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkembangan psikisnya, khususnya perkembangan emosinya.
  1. Perubahan dalam hubungan orang tua
Orang tua yang mendidik anaknya yang sedang beranjak dewasa dengan cara apa yang dianggap baik oleh orang tua, misal cara yang otoriter, penerapan disiplin yang terlalu  kaku, terlalu mengekang dapat menimbulkan ketegangan antara orang tua dan anak, yang akan mempengaruhi perkembangan emosinya. Kemudian jika penerapan hukuman dilakukan dengan cara yang tidak bijak dapat menyebabkan ketegangan yang lebih berat sehingga dapat menimbulkan pemberontakan pula, karena pada dasarnya ada kecenderungan remaja untuk melepas diri dari orang tua.

  1. Perubahan dalam hubungan dengan teman-teman
Pada awal remaja biasanya mereka suka membentuk gang yang biasanya pula memiliki tujuan yang positif untuk memenuhi minat bersama mereka, namun jika diteruskan pada masa remaja tengah atau remaja akhir para anggota mungkin membutuhkannya untuk melawan otoritas atau untuk melakukan yang tidak baik. Yang paling sering mendatangkan masalah adalah hubungan percintaan antar lawan jenis dikalangan remaja. Percintaan dikalangan remaja juga terkadang manimbulkan konflik dengan orang tua, karena ada kekhawatiran dari pihak orang tua kalau terjadi hal-hal yang diluar batas sehingga mereka melarang anaknya pacaran.
  1. Perubahan dalam hubungannya dengan sekolah
Menginjak remaja mungkin mereka mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk kehidupan dimasa mendatang. Hal ini sedikit banyak dapat menyebabkan kecemasan sendiri bagi remaja. Lebih lanjut berkaitan dengan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus.
  1. Perubahan atau penyesuaian dengan lingkungan baru.
1)      Perubahan yang radikal menyebabkan perubahan terhadap pola kehidupannya.
2)      Adanya harapan sosial untuk perilaku yang lebih matang.
3)      Aspirasi yang tidak realistis.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, kiranya masih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja atau peserta didik. Namun dari yang telah diuraikan diatas rasanya telah cukup banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja.



5. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Emosi
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja individu. Kepribadian, lingkungan, pengalaman, kebudayaan, pendidikan, pendidikan, merupakan variabel yang sangat berperan dalam perkembangan emosi individu. Perbedaan individu juga dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kondisi atau keadaan individu yang bersangkutan, antara lain yaitu:
a)      Kondisi dasar individu
Berkaitan dengan struktur pribadi individu. Misalnya, ada yang mudah marah, ada juga yang susah marah.
b)      Kondisi psikis individu pada suatu waktu
Misalnya, saat sedang kalut, seseorang mudah tersinggungdibanding dalam keadaan normal.
c)      Kondisi jasmani individu
Pada saat sedang sakit biasanya lebih mudah perasa atau lebih mudah marah.


6. Upaya Mengembangkan  Emosi Remaja dan Implikasinya dalam Pendidikan
Telah diketahui bahwa pada masa remaja individu mengalami masa dimana kondisi emosinya meningkat. Peran orang tua, sekolah, dan masyarakat sangat diharapkan dalam rangka membantu para remaja untuk mengontrol dan mengelola emosinya kepada penyaluran yang positif.
  1. Orang tua
Orang tua diharapkan dapat memberikan lingkungan yang kondusif terhadap perkembangan emosi remaja.memberikan perhatian dan kasih Sayang, meningkatkan komunikasi dua arah, siap menerima keluhan dan mencarikan jalan keluar terhadap permasalahan yang dialami remaja akan memberikan suasana yang sejuk bagi remaja.
Tidak membrerikan tuntutan yang berlebihandan menghindari larangan yang tidak terlalu penting serta memberikan pengawasan dan perngarahan secukupnya merupakan hal yang menyanangkan bagi remaja. Pembatasan dan tuntutan terhadap remaja hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan remaja. Memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisinya.
Penegakan disiplin dilakukan dengan bijaksana. Penerapan disiplin yang mendidik disertai dengan suatu pengertian terhadap makna disiplin tersebut merupakan pilihan yang baik. Disiplin yang terlalu kaku atau keras, disertai hukuman badan dapat menimbulkan penolakan atau bahkan pemberontakan dari remaja. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan semua pihak.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah sikap konsisten dari orang tua. Ketidakkonsistenan orangtua dapat menimbulkan kebimbangan remaja dalam perilakunya. Remaja akan mengalami kesulitan dalam menarik simpulan atau mengambil pelajaran dari apa-apa yang yang telah diajarkan oleh orangtuannya. Selain itu diperlukan pula sikap yang tenang, berwibawa, dan arif bijaksana dalam menghadapi luapan emosi oleh para orangtua maupun pendidik.
b. Sekolah
Sekolah , tempat dimana remaja menghabiskan sebagian waktunya juga diharapkan dapat menyediakan tempat untuk mentransfer lmu penetehuan, sekolah diharapkan mampu menjadi tempat yang menyenangkan bagi remaja dengan menyediakan fasilitas yang bersifat rekreatif dan positif, sehingga remaja dapat menyalurkan aktifitasnya. Demikian juga pembuatan peraturan-peraturan dan penegakan disiplin di sekolah diharapkan dapat dilakukan dengan bijaksana sehingga mendapat tanggapan yang positif dari para peserta didiknya.tak ketinggalan peran para guru di sekolah.  Guru diharapkan mampu menjadi orangtua kedua di sekolah. Di samping memberikan ilmu pengetahuan juga memberikan teladan yang baik. Membina hubunga yang baik dengan peserta didik, sabar, pengertian, siap membantu peserta didik yang mengalami kesulitan atau permasalahan, tidak arogan dan sewenang-wenang merupakan sikap yang didambakan oleh para peserta didik untuk melakukan tugas dan kewajibannya dalam rangka mencapai prestasi yang tinggi.
c. Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat menjadi wahana yang baik bagi perkembangan emosi remaja. Menyediakan fasilitas untuk penyaluran emosi remaja secara positif dan memberi contoh yang baik atau memberikan norma-norma dalam mengontrol atau mengelola emosi.


B. Perkembangan Intelek Peserta Didik
Intelek atau intelegensi dalam dunia pendidikan dan pengajaran menempati posisi yang sangat strategis. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar.
1.      Pengertian Intelek Peserta Didik
Istilah intelak berasal dari kata intellect ( bahasa inggris ) yang berarti proses kognitif berpikir, daya menghubungkan, serta kemampuan menilai dan mempertimbangkan. Masyarakat umum mengenal intelegensi sebagai istilah yng menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem. Pandangan masyarakat umum tersebut waalaupunbelum memberikan arti yang jelas mengenai intelegensi, namun tidak berbeda jauh dari makna inelegensi sebagaimana yang didefinisikan oleh para ahli.
Banyak pengertian intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli. L.M Terman menyatakan bahwa intelegensi adalah kesanggupan untuk belajar secara abstrak. Terman membedakan antara kemampuan ( ability ) yang berhubungan dengan hal-hal yang konkret dan ability yang berrhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Orang dikatakan intelegen jika orang tersebut dapat berpikir abstrak dengan baik ( Azwar, 1996:5; Patty F. 1982:128 )
Sedangkan D. Wechsler, pencipta tes intelegensi yang masih populer sampai sekarang mendefinisikan intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak terarah atau bertujuan, berpikir secara rasional, serta dapat menghadapi lingkungannya dengan efektif. Selain itu masih banyak lagi ahli intelegensi dengan berbagai macam definisi mereka.
Berdasarkan definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli inelegensi, dapat dijelaskan pula bahwa yang dimaksud intelegensi adalah kemampuan relatif untuk melakukan berbagai macam fungsi mental, meliputi penelaran emahaman, mengingat, mengaplikasikan gambar( Furhman 1990:286 ).
Dalam mengkaji intelegensi, paling tidak ada dua pendekatan yang biasa dipakai, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif atau perkembangan. Pendekatan kuantitatif sebagaimana telah diuraikan secara singkat diatas, lebih menitikberatkan pembicaraan mengenai intelegensi dari sisi psikometris dan struktur intelegensi. Pendekatan psikometris memandang intelegensi sebagai sesuatu yang statis, yaitu serangkaian kemampuan yang dapat diukur. Sedangkan pendekatan perkembangan menekankan perbedaan secara kualitatif dalam proses berpikir didasarkan pada pengaruh kematangan dan lingkungan ( Furhman, 1990: 286 ). Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Jean Piaget.
Prinsip dari teori piaget menyatakan bahwa daya pikir atau kemampuan mental individu yang berbeda usia akan berbeda secara kualitatif. Piaget tidak melihat intelegensi sebagai sesuatu yang dapat didefinisikan secara kuantitatif, sebagaimana umumnya dicermnkan oleh banyak jawaban benr pada suatu tes intelegensi. Oleh karena itumenurut piaget masalah utama dalam mebahas intelegensi adalah masalah cara mengungkapkan berbagai metode berpikir yang digunakan oleh individu dari berbaga tingkatan usia.
Piaget terkenal dengan teori mengenai perkembangan kognisi. Kognisi dapat dijelaskan sebagai pengertian yang luas, mengenai berpikir dan mengamati, atau tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian ataupun yang dibutuhkan untuk menggunakan pengertian ( Monks,dkk, 1999:208 ). Kognisi merupakan proses psikologis yang terlihat dalam memperoleh, menyusun dan menggunakan pengetahuan merangkap kegiatan belajar, memecahkan persoalan dan sebagainya.
Dalam menyusun teorinya piaget banyak dipengaruhi oleh ilmu biologi dan epistimologi. Piaget beranggapan bahwa setiap organisme mempunyai dua kecenderungan pokok, yaitu kecenderungan adaptasi dan organsasi. Adaptasi adalah kecenderungan bawaan dari organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecenderungan adaptasi ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungan disesuaikan dengan dirinya sendiri. Misalnya bila orang mau makan maka pencernaannya tidak perlu berubah, yang berubah adalah makanannya agar sesuai dengan struktur pencernaannya. Sedangkan akomodasi kecenderungan organisme untuk mengubah dirinya agar sesuai dengan lingkungannya. Misalnya seorang bayi akan meraih sesuatu maka bayi tersebut harus menyesuaikan pengamatan, posisi dan gerakannya agar dapat meraih benda tersebut.
Kecenderungan organisasi digambarkan sebagai kecenderungan bawaaan organisme untuk mengintegrasikan proses-proses yang berdiri sendiri menjad sistem yang koheren. Hubungan antara adaptasi dan organisasi yang bersifat komplementer. Bila organisme mengadakan organisasi maka ia akan mengasimilasi kejadian baru pada struktur yang sudah ada dan mengakomodasi struktur yang sudah ada untuk situasi baru. Selain itu piaget juga mengemukakan prinsip equilibrium atau keseimbangan. Prinsip ini menjaga agar perkembangan berjalan dengan teratur. Proses asimilasi dan akomodasi yang komplememter menyebabkan seseorang selalu mencapai keadaan yang seimbang. Keseimbangan di sini menunjuk pada relasi antara individu dengan lingkungan, terutama relasi antara struktur kogitif individu dengan struktur keliling.
Dalam bahasa piaget dapat dikatakan intelegensi adalah seluruh kemungkinan koordinasi yang memberi struktur kepada tingkah laku suatu organisme sebagai adaptasi mental terhadap situasi-situasi baru.
Dalam arti sempit intelegensi didasarkan pada intelegensi operasional, termasuk pada taraf-taraf bercirikan intelegensi tertentu(Piaget,1986:277)
Selanjutnya menurut piaget perkembangan kognisi dapat dibagi menjadi beberapa stadium. Hal ini berarti fungsi kognitif pada umur yang berbeda akan jelas dibedakan satu sama lain. Stadium yang berurutan ini menunjukan kemungkinan kognitif baru yang sebelumnya belum ada ( Monks,1999:217 ).
Stadium atau tahap perkembangan kognisi tersebut adalah :
a.       Tahap sensomotorik/ instingtif ( 0-2 tahun )
Tahap ini merupakan masa dimana segala tindakan tergantung melalui pengalaman indrawi. Anak melihat dan meresapkan apa yang terjadi,tetapi belum mempunyai cara untuk mengkategorikan pengalaman itu.
b.      Tahap pra-operasional / intuitif ( 2-7 tahun )
Dalam tahap ini individu tidak ditentukan oleh pengamatan inderawi saja,tetapi juga oleh intuisi.Anak mampu menyimpan kata-kata serta menggunakannya,terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan mereka.Pada masa ini anak siap untuk belajar bahasa,membaca,menyanyi.Menggunakan bahasa yang benar untuk berbicara pada anak akan mempunyai akibat yang baik bagi perkembangan bahasa mereka.Cara belajar yang memegang peran pada tahap ini adalah intuisi ( gerak hati). Pada tahap ini anak suka berkhayal. Intuisi membebaskan mereka dan semaunya berbicara, tanpa menghiraukan pengalaman konkrit dan paksaan dari luar. Sering kita lihat anak berbicara sendiri dengan benda-benda yang ada disekitarnya, misalnya pohon,anjing, kucing,dansebagainya yang menurut mereka benda-benda tersebut dapat mendengar dan berbicara. Peristiwa semacam ini baik untuk melatih diri anak untuk menggunakan kekayaan bahasanya. Piaget menyebut tahapan ini sebagai tahap “collective monolog”. Pembicara yang egosentris dan hubungan dengan orang yang sedikit sekali.
c.        Tahap konkrit operasional(7 -11 tahun)
            pada tahap ini anak sudah memahami hubungan fungsional, karena mereka sudah menguji coba suatu permasalahan. Cara berfikir anak masih konkrit belum menangkap yang abstrak. Dalam hal ini sering terjadi kesulitan antara orang tua dan guru. Misalnya orang tua ingin menolong anak mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi memakai cra yang berbeda dengan cara yang dipakai oleh guru, sehingga anak tidak setuju. Akibatnya cara yang ada tidak dimengerti semua.
d.       Tahap formal operasional (11 tahun keatas)
pada tahap ini individu mengembangkan pikiran formalnya. Mereka bisa mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan khiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan mereka yang lebih positif. Misalnya puisi lebih menguntungkan dari pada menonton. Praktek lebih baik atau lebih menguntungkan dari pada teori
2. Hubungan intelejensi dan tingkah laku
Orang yang mempunyai intelejensi tinggi adalah orang yang memiliki dan dapat menggunakan intelejensi atau kognisinya dengan baik.
 Sehubungan dengan hal tersebut  orang yang mempunyai intelejensi tinggi diharapkan dapat menampilkan tingkah laku intelejensi yang tercermin dari cara berfikir yang logis, cepat, mempunyai kemampuan abstraksi yang baik, mampu mendeteksi, menafsirkan, menyimpulkan, mengevaluasi,
 dan mengingat, menyelesaikan masalah dengan baik, bertindak terarah sesui dengan tujuan,
 dapat menyesuikan dengan tuntutan lingkungan yang baru, dan sebagainya. Atau dengan kata lain orang yang berintelejensi tinggi dapat bertindak efektif, cepat, dan tepat.
            Apabila dikaitkan dengan prestasi belajar, maka intelejensi merupakan salah satu faktor yang menentukan prestasi. Individu yang memiliki intelejensi yang tinggi diharapkan akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, karena intelejensi merupakan modal potensial yang memudahkan seseorang dalam belajar. Maka tidak salah kalau muncul anggapan bahwa intelejensi merupakan faktor yang menunjang prestasi belajar yang baik. Bahkan ada sebagian masyarakat yang menempatkan intelejensi melebihi porsi yang seharusnya. Mereka menganggap hasil tes intelejensi yang tinggi merupakan jaminian kesuksesan belajar seseorang sebaliknya intelejansi yang rendah merupakan vonis akhir bagi individu bahwa dirinya tidak mungkin mencapai prestasi belajar yang baik anggapan semacam ini tidaklah tepat, karena masih banyak faktor yang ikut menentukan prestasi. Anggapan yang tidak tepat tersebut bisa berdampak tidak baik bagi individu karena dapat melemahkan motifasi siswa untuk belajar yang justru dapat menjadi awal dari kegagalan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
            Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hubungan yang sistematis antara intelegensi dan prestasi belum dapat dinyatakan secara konklusif atau pasti beberapa temuan tidak secara konsisten memperlihatkan korelasi yang signifikan.hal ini mengisyaratkan bahwa pada situasi tertentu memang prestasi belajar ditentukan oleh faktor intelegensi,namun masih banyak faktor lain yang juga ikut berperan (Azwar,1996: 170)
            Belum lama ini ada issue hangat yang cukup menarik perhatian masyarakat dengan munculnya emotional intellegence atau kecerdasan emosi.

Sebelumnya banyak orang yang masih mempunyai keyakinan bahwa tingkat intelegensi (biasa dinyatakan dalam bentuk IQ atau intellegence quotient)yang tinggi akan menjamin kesuksesan di masa mendatang.tetapi pada kenyataannya tidak semua individu dengan ber-IQ tinggi bisa mencapai sukses di masa dewasanya. Sebaliknya individu dengan IQ rata-rata justru bisa lebih berhasil dari teman-temannya yang ber-IQ tinggi.menurut sebagian ahli halini disebabkan oleh IQ hanya mempengaruhi sebagian kecil atau menyumbang 20% dari faktor-faktor yang menentukan keberhasilan.
3. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Beberapa ciri pada tahap ini adalah :
a.       Individu mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak.
b.      Individu mampu melakukan introspeksi diri, sehingga kesadaran diri sendiri tercapai.
c.       Individu mulai mampu untuk membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa.
d.      Individu mulai mampu untuk menyadari dan memperhatikan kepentingan massyarakat di lingkungannya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
a.       Faktor Bawaan ( hereditas )
 Individu membawa gen-gen dari ayah dan ibunya. Sebagian dari gen tersebut memiliki sifat yang akan menurun. Jadi secara potensial individu telah membawa kemungkinan apakah dia akan mempunyai kemampuan normal, di bawah normal, atau di atas normal.
b.      Faktor Lingkungan
1)      Lingkungan Prenatal
Kondisi prenatal yang tidak baik dapat menganggu perkembagan individu. Malnutrisi dan kekurangan gizi yang dialalmi ibi pada saat hamil dapat mengakibatkan kerusakan otak pada janin.
2)      Lingkungan Pasca Natal
a)      Keluarga
Keluarga merupakan sumber pengalaman dan informasi. Disamping itu keluarga juga menjadi tumpuan anaj untuk dapat memuaskan segala kebutuhan baik fisik maupun psikis.
b)      Sekolah
Sekolah merupakan lembaga formal yang memberi tanggungjawab untuk meningkatkan perkembangan anak, termasuk perkembangan intelektualnya.
5. Perbedaan Individu dalam Perkembangan/Kemampuan Intelektual
Individu membawa gen-gen yang diwarisi dari ayah ibunya.dengan demikian mereka telah membawa kemungkinan-kemungkinan tertentu dalam perkembangan intelektual mereka.hal ini berarti bahwa individu telah memiliki potensial untuk memiliki kemampuan pada tingkat normal,di atas normal,atau di bawah normal.namun sejauh mana potensial tersebut berkembang akan bergantung juga pada lingkungan.hereditas dan lingkungan saling berinterksi dalam mempengaruhi performansi.dengan kata lain hereditas menentukan apa yang dapat kita lakukan,sedangkan lingkungan menentukan apa yang dapat kita lakukan.dengan demikian perbedaan individu akan terjadi karena adanya variasi dari faktor hereditas dan variasi dari lingkungan
            Adanya perbedaan individu tersebut juga dapat dilihat dalam kemampuan menyerap pelajaran dan kecepatan belajar.ada siswa yang mudah menyerap pelajaran,ada yang sulit,ada yang cepat dalam memnyerap pelajaran ada yang membutuhkan waktu yang lama.perbedaan individual ini mungkin juga akan nampak dalam sikap dalam belajar,keterampilan belajar,proses belajar,dan dalam hasil belajar yang di capai.
           


6. Usaha –usaha Membantu Mengembangkan Kemampuan Intelektual Remaja dalam Proses  pembelajaran
            Salah satu tugas pendidikan yang mulia adalah  memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik untuk peserta didik sehingga mereka mendapat kesempatan untuk mewujudkan potensinya dalam hal ini adalah potensi intelektual secara optimal.intuk mewujudkan hal tersebut perlu diadakan upaya-upaya yang sungguh-sungguh dan terpadu dari berbagai pihak. Usaha-usaha tersebut dapat dilakukan oleh:
a.       Orang tua
1.      Orang tua diharapkan memberi stimulasi mental yang cukap. Merangsang dan memuaskan dorongan keingin tahuan anak.
2.      Memberi dorongan, semangat, serta meningkatkan perasaan mampu anak.
3.      Menyediakan sarana dan prasarana belajar yang memadai.
4.      Menciptakan situasi rumah yang kondusif untuk belajar.
5.      Memberikan gizi yang cukup.
b.      Sekolah
1.      Menyediakan sarana dan prasarana atau fasilitas belajar mengajar yang memmadai.
2.      Menerapkan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, tarmasuk didalamnya mempertimbangkan adanya perbedaan individual paserta didik.
3.      Memberi kesempatan peserta didik untuj learning by doing (belajar sambil mengerjakan) atau praktek nyata, tidak hanya diberi penjelasan teoritis saja.




4.      Menciptakan situasi belajra mengajar yang membuat peserta didik mempunyai kebebasan dan keamanan psikologis. Disini peran guru sangat besar untuk menciptakan hal tersebut. Guru dapat memberikan kebebasan dan kesempatan peserta didik untuk mengungkapkan ide, pendapat. Guru memberikan penerimaan yang tulus, penuh pengertian, empati, dan menciptakan situasi yang tidak membuat peserta didik merasa terancam atau terteka. Guru memberikan semangat dan dorongan serta perasaan mampu bagi peserta didik.
c.       Pemerintah .
1.      Adanya  sistem pendidikan yang berkualitas dan relatif stabil, karena sisitem pendidikan yang berubah-ubah akan berdampaka tidak baik bagi pendidik maupun peeseta didik dan bisa mengakibatkan underachiever.
2.      Menetapkan kurikulum yang tidak terlalu sarat muatan, karena dapat menimbulkan akibat buruk bagi peserta didik, seperti : stress, tak bergairah dan motifasi menurun.

{ 5 comments... read them below or add one }

Obat Stroke Tradisional mengatakan...

teteretetetess

Anonim mengatakan...

bagus

deny achmad mengatakan...

mas maaf sebelumnya kenapa g bisa di copy ya materi di blognya
kalo memang g boleh di copas saya minta ijin kirimin dalam bentuk ms.word boleh gak??

kalo boleh kirim ke alamat email aja di deaz_caemz@yahoo.com
terima kasih

danil mengatakan...

makasih sharenya :)

berita beda mengatakan...

great sharing posting

Poskan Komentar