PROBLEMATIKA PESERTA DIDIK USIA SEKOLAH MENENGAH DAN SOLUSINYA

Posted by anharul ulum

A.    PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Permasalahan bagi manusia akan semakin kompleks ketika mereka menginjak usia remaja usia dimana mereka masih berada di jenjang pendidikan usia sekolah menengah, pada masa remaja itulah mereka mulai mengenal lingkungan atau masyarakat yang lebih luas yang selalu dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang yang lebih rumit yang memerlukan penenganan yang sangat serius.
Permasalahan bagi peserta didik usia sekolah menengah timbul baik dari intern ataupun ekstern yang kesemuanya sangat mengganggu pada proses belajar dan pembelajaran peserta didik di usia seperti itu. Keingin tahuan pada usia sekolah menengah sangatlah besar karena pada masa itu mereka masih mencari jati diri dan figur yang di idolakan oleh mereka. Bagi seorang pendidik haruslah tahu keadaan peserta didiknya dan harus bisa mengarahkan pada hal-hal yang positif  sehingga peserta didik pada usia sekolah menengah tersebut akan terarah pada hal-hal yang positif, pendidik juga harus mengetahui gejala-gejala yang terdapat pada peserta didik usia tersebut dan bisa memberikan solusi yang terbaik dalam menghadapi keadaan peserta didik seperti itu.
Dalam makalah ini, kami akan membahas problemetika yang terjadi pada peserta didik usia sekolah menengah dan solusi yang tepat bagi pendidik dalam menghadapi problematika yang dialami oleh peserta didiknya, hususnya pada usia sekolah menengah.
2.    Rumusan Masalah
1.    Bagaimana kondisi peserta didik usia sekolah menengah ?
2.    Apa saja problematika peserta didik usia sekolah menengah ?
3.    Bagaimana solusi problematika peserta didik usia sekolah menengah ?
3.    Tujuan
1.    Mengetahui kondisi peserta didik usia sekolah menengah
2.    Mengetahui problematika peserta didik usia menengah
Mengetahui bagaimana solusi problematika peserta didik usia sekolah menengah
B.    PEMBAHASAN
1.    Pengertian Peserta Didik Usia Sekolah Menengah
    Penggunaan istilah peserta didik usia sekolah menengah tidak jauh beda dengan istilah remaja, untuk menghindari kesimpangsiuran dan kesalah pahaman istilah peserta didik usia sekolah menengah/remaja maka dalam makalah ini akan dijelaskan istilah peserta didik usia sekolah menengah/remaja. Istilah asing yang sering digunakan dalam istilah peserta didik usia sekolah menengah/remaja antara lain :
1. Puberteit yang dimaksud adalah usai kedewasaan atau masa pertumbuhan rambut di daerah tulang
2. Adolestensia maksudnya adalah masa muda usia antara 12 – 22 Tahun.
Pubertas dan adolestensia akhir-akhir ini diartikan sama Karena sulitnya  membedakan proses psikis pada pubertas dan awal proses psikis pada adolestensia.
3. Youth
    Remaja sangat sulit diartikan secara mutlah, dibawah ini pengertian remaja menurut berbagai pandangan :
1. Remaja menurut Hukum
    Dalam undang-undang perkawinan no. 1/1974 pasal 7 menjelaskan usia minimal untuk suatu perkawinan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun bagi pria, walaupun undang-undang tidak menyebutkan anak yang berusia di atas yang disebutkan tadi bukan anak-anak lagi dan juga tidak bisa dianggap sebagai orang dewasa penuh karena dalam usia tersebut mereka masih dianjurkan meminta izin dulu pada orangtua mereka.
2.Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik
    Dalam ilmu kedokteran istilah remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita (mulai umur 9 tahun) atau anak pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu tidur/kira-kira usia 15 tahun) yang pertama, masa ini disebut masa pubertas.
3. Batasan remaja Menurut Who
    Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
a. indifidu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya saat ia mencapai kematangan seksual.
b. indifiu mengalami perkembangan psikologi dan pola indentifikasi ari kanak-kanak menjadi dewasa
c. terjai peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif  lebih mandiri (muangman, yang dikutip oleh sarlito, 1991:9)
4. Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis
    Salah satu cirri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah: “ perkembangan psikologis dan pada  identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditanai dengan adanya proses perubahan dari kondisi “entropi” yaitu keadaan di mana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi, ke kondisi “negen-tropi” yaitu keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.(sarlito, 1991:11)
5. Definisi remaja menurut masyarakat Indonesia
    Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:
a. usia 11 tahun adalah usia yang pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (criteria fisik)
b. kebanyakan masyarakat Indonesia menganggap usia11 tahun sudah akil balik, baik menurut aat atau agama (criteria sosial)
c. pada usia 11 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity: Erik Erikson), tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif (piaget) maupun moral (Khohlberg).
d. usia 24 adalah batas maksimal, member peluang bagi mereka yang masih menggantungkan pada orang lain (secara tradisi), golongan ini masih banyak terdapat di Negara Indonesia.
e. status pernikahan, seorang yang telah menikah di usia berapapun di anggap dan diperlakukan sebagai seorang dewasa penuh, baik secara hukum, maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan keluarga.

Kondisi Peserta Didik Usia Sekolah Menengah
    Pembahasan tentang kondisi peserta didik pada usia sekolah menengah ini banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat kultural, oleh karena itu pembahasan peseta didik usia ini hendaknya dibarengi dengan membahas studi tentang kultur. Semua manusia, baik anak-anak, remaja, ataupun dewasa merasakan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, ingin memiliki pengalaman-pengalaman baru, ingin memperoleh pengenalan atau pengakuan, ingin menjadi seorang yang berdiri sendiri, dan ingin memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah. Dan pada masa remaja kebutuhan diatas lebih intensif.
    Pada masa remaja perubahan yang terjadi sangat mencolok dan jelas sehingga bisa mengganggu keseimbangan yang sebelumnya telah terbentuk. Perilaku mereka mendadak susah ditebak dan sering kali agak berlawanan dengan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu masa ini sering disebut “masa negatif”. Pada saat irama pertumbuhan sudah sedikit lambat dan perubahan tubuhnya telah sempurna, maka akan terjadi keseimbangan kembali.
    Di usia sekolah menengah ini peserta didik sangat membutuhkan bimbingan orang dewasa, karena pada usia yang labil seperti mereka bisa saja mereka salah dalam memilih orang yang ingin ia jadikan teladan, maka tugas guru menuntun mereka pada jalan yang benar dan menunjukkan tanpa mrasa dipaksa, dan juga merupakan tugas orangtua untuk mendukung mereka dan mengarahkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang kurang baik diluar lingkungan keluarga. Pengawasan guru dan orang tua sangat dibutuhkan pada masa remaja ini.
    Psikologi objektif selalu menekankan bahwa pertumbuhan adalah suatu yang berlangsung terus menerus dan bersifat bertahap demi setahap. Keunikan remaja terletak pada individualitasnya bukan pada masa remajanya, tampak jelas bahwa para remaja dari satu keluarga akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dalam hal berat badan, intelegensinya, minat, bakat, dan sifat sosialnya. Perubahan indifiu itu tidak serta merta berubah sekaligus menjadi orang dewasa tetapi perubahan itu bertahap dan banyak dipengaruhi keadaan sekelilingnya, baik keluarga ataupun amasyarakat sekitar.
    Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menuju ke jenjang kedewasaan, ke butuhan hidup seseorang mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan sosial psikologi semakin banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik, karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin semakin luas, kebutuhan itu timbul disebabkan dorongan-dorongan (motif). Dorongan adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (sumadi, 1971:70, Lefton, 1982:137). Dorongan dapat berkembang karena kebutuhan psikologi atau karena tujuan-tujuan kehidupan yang semakin kompleks. Lebih lanjut Lefton (1982) menyatakan bahwa kebutuhan dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami goncangan atau ketidakseimbangan. Munculnya kebutuhan tersebut untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
    Perkembangan kepribadian individu bersifat inklusif. Ada tiga factor utama yang berpengaruh terhadap karakteristik dan tingkah laku individu yang sedang berkembang seperi peserta didik usia sekolah menengah ini yaitu factor-faktor biologis, lingkungan cultural, dan latar belakang pribadi individu yang bersangkutan seperti pengalamannya dengan benda-benda yang berada disekitarnya atau interaksinya dengan sesama manusia. Pada masa adolesen ini akan terjadi pengintegrasian identifikasi kekanak-kanakan dengan dorongan biologis, native indowment, dan kesempatan dalam pran-peran sosial, sedangkan pada masa dewasa awal seorang individu akan mengalami perkembangan intimasi dalam dirinya dan dalam diri orang lain.
Masa remaja merupakan masa “storm and stress” hal ini diungkapkan oleh Hall (dalam liebert dan kawan-kawan,1974:478), hal ini disebabkan selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja berupaya menemukan jati dirinya (identitas)-kebutuhan aktualisasi diri. Usaha penemuan jati diri remaja dilakukan dengan berbagai cara pendekatan agar ia dapat mengaktualisasikan diri secara baik. Aktualisasi merupakan salah satu bentuk kebutuhan untuk mewujudkan jati dirinya. Klasifikasi bentuk kebutuhan remaja dibagi menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan organic, yaitu makan, minum, bernapas, seks, dll   
2. Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapat simpati dan pengakuan dari pihak lain, dikenal denga n’Aff
3. Kebutuhan berprestasi atau need of achievement (yang dikenal dengan n’Ach), yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikofisis
4. Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis .
Kebutuhan-kebutuhan diatas sangat mempengaruhi tercetaknya remaja yang jadi dambaan bangsa, kebutuhan diatas merupakan fitrah bagi manusia usia sekolah menengah seperti mereka, jika kebutuhan-kebutuhan diatas tidak dapat mereka gapai maka ddampaknya akan fatal bagi mereka baik segi fisiologis ataupun psikologis mereka
  C. Problematika Peserta Didik Usia Sekolah Menengah dan solusinya
Permasalahan yang dialami manusia tidak akan pernah putus sampai ajal menjemput, permasalahan manusia akan semakin memuncak ketika mereka menginjak usia transisi dimana keingin tahuan yang sangat tinggi dengan semangat yang menggebu-gebu akan sia-sia tanpa bimbingan yang terarah, perkiraan usia transisi manusia yaitu ketika mereka berada di jenjang sekolah tingkat menengah, ketika mereka menginjak remaja dan dewasa awal, mereka lebih tenar dengan istilah ABG (anak baru gede).
      Dalam buku karangan Prof.Dr.H.Sunarto dan Dra.Ny.B.Agung Hartono dalam bukunya perkembangan peserta didik, menerangkan beberapa permasalahan remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutukannya sebagai berikut:
1. Upaya untuk dapat mengubah sikap dan prilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan prilaku dewasa, tidak semuanya dapat dicapai dengan mudah oleh mereka. Pada masa ini remaja menghadapi tugas-tugas besar , sedang dipihak lain harapan ditumpukan pada meraka untuk dapat meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan mengatasi ketidak puasan ini dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat lebih lanjut dapat mengakibatkan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam, atau kurang harga diri.
2. Sering kali remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan fisiknya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi, walau hal ini tidak terjadi pada semua remaja.
3. perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering salah tingkah dan perilaku yang menentang norma (bagi remaja laki-laki) serta berperilaku mengurung diri (bagi remaja perempuan).
4. dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kmandirian dalam artian menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan menghadapi berbagai macam permasalahan, terutama masalah penyesuaian emosional. Kehidupan bermasyarakat menuntut mereka untuk banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi semuanya tidak selaras dengan kenyataan. Dalam hal ini terjadi ketidak selarasan antara pola hidup masyarakat dan perilaku yang menurut remaja baik, remaja merasa selalu disalahkan dan akibatnya meraka frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
5. harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara sosial ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan berbagai jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi oleh remaja.
6. berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja, sedang dipihak remaja merasa memilki norma dan  nilai kehidupan yang dirasa lebih sesuai dari pada nilai dan norma dikalangan masyarakat luas.
Sejak bertahun-tahun lamanya telah dilakukan banyak usaha untuk mengetahui penyebab siswa yang mengalami ketidak puasan di sekolah. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Jakson dan Getzel dengan penelitian ilmiahnya terhadap dua siswa yang merasa puas terhadap pengalaman sekolahnya dengan yang tidak merasa puas menyatakan siswa yang mengalami kegagalan dan putus sekolah karena rendahnya moral sebagai akibat kurang efektifnya sekolah yang menimbulkan ketidak puasan siswa. Perubahan-perubahan anak dalam aspek nilai-nilai dan identifikasi sejalan dengan pertumbuhannya yang tampak dalam bermacam-macam perilaku.
Dengan adanya semua masalah yang terjadi pada siswa pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok yang bisa menyebabkan kehidupannya tetap tegar (survival), hal ini sangat dipengaruhi oleh actor ekonomi terutama perekonomian keluarga. Dengan tidak terpenuhinya kebutuhan remaja ini maka akan mengakibatkan terpengaruhnya pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial seorang individu.
Sekalipun kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut factor lain untuk diperhatikan dalam pemenuhannya.
 Dan untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakatdan mengenalkan berbagai norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan.
Permasalahan secara garis besar itu timbul atas dua factor yang sangat mempengaruhi proses perkembangan mereka, dua factor itu adalah:
1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
Permasalahan intern siswa ini mencakup semua permasalahan yang timbul dari diri siswa dari berbagai aspek yang pengaruhi diri siswa itu sendiri.
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa dalam dirinya, yakni:
1.    Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelegensi siswa.
Dari pengalaman sehari-hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa-apa yang kita alami dan kita pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal menurut teori kognitif apapun yang kita alami dan yang kita pelajari, kalau memang sistem akal kita dalam hal mengolahnya dengan cara yanag memadai, semuanya akan tersimpan dalam subsistem akal permanen kita, akan tetapi kenyataan yang kita alami terasa bertolak belakang dengan teori itu, apkali yang telah kita pelajari dengan tekun justru sukar diingat kembali dan mudah terlupakan.
Lupa ialah: hilangnya kemampuan untuk menyebut kembali atau memperoduksi kembali apa-apa sebelumnya yang telah kita pelajari. Menurut Gulo (1982), dan Reber (1988), mendefisinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang telah dipelajar. Dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
    Faktor-faktor penyebab lupa
Pertama, lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam system memori siswa. Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila mteri pelajaran lama yang telah disimpan dalam suibsistem akal prmanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru, peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi poelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang sudah dikuasai dalam jangka waktu yang pendek. Sebaliknya, seorang siswa akan mengalami gangguan reproaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran yang telah lebih dahulu tersimpan.
Kedua, lupa dapat terjdi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ad, baik sengaja maupun tidak, penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan Yaitu: karena item informasi yang diterima kurangf menyenangkan, karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang telah ada, jadi sama dengan fenomena retroaktif, karena item informasi yang diproduksi tertekan kealam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.
Ketiga, lupa dapat terjadi pada siswa karena prubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dan wktu mengingat kembali (Andeson 1990)
Keempat, lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terahadap proses dan situasi belajar tertentu, jadi meskipun seorang siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan sereius, tetapi Karena suatu hal minat dan si[kap siswa tersebut menjadi sebaliknya maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.
    Kiat mengurangi lupa dalam belajar
Sebagai seorang calon guru dapatkah anda mencegah peristiwa lupa yang sering dialami oleh para siswa ?. Lupa itu manusiawi dan mungkin anda tidak mungkin bisa mencegahnya. Namun sekedar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa yang sering dialami oleh para siswa dapat anda lakukan dengan berbagai kiat diantaranya sebagai berikut:
a. Overlewarning (belajar lebih)
     Artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu, overlearning terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan, diantara contohnya ialah pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin yang memungkinkan ingatan siswa pada P4 lebih kuat
b. Extra study time ( tambhan waktu belajar)
Ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau frekuensi aktifitas belajar atau juga bisa disebut penambahan jam waktu belajar. Misalnya dari satu jam menjadi satu setengah jam, dari satu kali sehari menjadi dua kali dalam sehari
c. Menemonic device (muslihat memori)
Ialah kiat khusus yang dijadikan alat pengait mental untuk memasukkan item-item informasi kedalam sistem akal siswa. Muslihat ini beragam caranya diantaranya ialah dengan bentuk not yang dijadikan sebagai nyanyian anak-anak TK, atau juga dengan singkatan huruf-huruf tau nama-nama istilah yang harus diingat oleh siswa.
2. Yang bersifat afektif (ranah Rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
Yang termasuk dalam ranah rasa adalah rasa jenuh, secara harfiah arti kejenuhan ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun, selain itu jenuh juga dapat berarti jemu atau bosan. Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988). Sorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentan waktu tertentu saja 
Seorang siswa yang sedang dalam keadaan jenuh sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi dan pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan diam ditempat. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motifasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai ketingkat keterampilan berikutnya.
Faktor penyebab dan cara mengatasi kejenuhan belajar
Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum siswa tertentu sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Selain itu kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaninya karena bosan dan keletihan. Namun, penyebab kejenuhan yang paling umum adalah keletihan yang melanda siswa, karena keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada siswa yang bersangkutan.
Menurut Cross dalam bukunya the psychology of learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:
1.    Keletihan indra siswa
2.    Keletihan fisik siswa
3.    Keletihan mental siswa
Keletihan fisik dan keletihan indra pada umumnya dapat dikurangi lebih mudah setelah siswa beristirahat cukup dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, sebaliknya keletiha mental tidak dapat diatasi dengan cara yang mudah, itulah sebabnya keletihan dipandang sebagai faktor utaam penyebab utama munculnya kejenuhan belajar
Sedikitnya ada empat faktor yang menyebabkan keletihan mental siswa. Antara lain: 
1.    Karena kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri
2.    Karena kecemasan siswa terhadap standar keberhasilan bidang-bidang studi tertentu yang dianggap terlalu tinggi terutama ketika siswa merasa bosan.
3.    Karena siswa berada pada situasi kompetitif yang ketat dan menuntut untuk lebih kerja keras
4.    Karena siswa mempercayai konsep kerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya sendiri hanya berdasarakan ketentuan yang ia bikin sendiri
Selanjutnya, kiat-kiat untuk mengatasi keletihan mental yang menyebabkan kejenuhan belajar antara lain:
1.    Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi
2.    Mengubah jadwal belajar yang memungkinkan siswa belajar lebih giat
3.    Mengubah atau menata kembali lingkungan belajar siswa yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih menyenangkan
4.    Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk lebih giat dalam belajar
5.    Siswa harus berbuat nyata atau tidak pantang menyerah dengan cara belajar dan belajar lagi
3. Yang bersifat psikomotor (ranah rasa), antara lain seperti terganggunya alat-alat penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
•    Pemecahan masalah kesulitan belajar
1. Diogonis kesulitan belajar
Dalam melakukan diagonis diperlukan adanya prosedur yang terdiri dari langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami oleh siswa. Menurut prosedur Weener dan Senf adalah suatu contoh langkah diaknotis yang sangat baik antara lain:
    Melakukan observasi kelas unutk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran
    Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa yang diduga sebagai faktor dalam mengalami kesulitan belajar
    Mewawancarai wali murit untuk mengetahui hal-hal berkenaan dengan kesulitan belajar siswa
    Memberikan tes diaknotis bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakekat kesulitan belajar yang dialami oleh siswa
    Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ)
2. Analisis hasil diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh oleh guru melalui diagnosis kesulitan belajar perlu dianalisis sedemikian rupa sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami sisiwa yang berprestasi rendah dapat diketahui secara pasti.
3. Menentukan kecakapan bidang bermasalah
Berdasarkan hasil analisis guru dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam yaitu bidang kecakapan bermasalah yang ditangani oleh guru, bidang kecakapan yang ditangani oleh guru dan orang tua dan bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani oleh guru maupun orang tua.
4. Menyusun program perbaikan
Dalam hal menyususn program pengajaran perbaikan (Remedial Teaching) guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:
a.    Metode pengajaran Remedial
b.    Alokasi waktu pengajaran Remedial
c.    Evaluasi kemajuan siswa setelah Tujuan pengajaran Remedial
d.    Materi pengajaran Remedial
e.    mengikuti program pengajaran Remedial
5. Melaksanakan program perbaikan
Pada prinsipnya program pengajaran perbaikan (Remedial) lebih cepat dilaksanakan tentu akan lebih baik, tempat pelaksanaannya bisa dimana saja asalkan dapat memungkinkan siswa mengkonsentrasikan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai alternatif lain untuk memcahkan masalah kesulitan belajar siswa.
    Dalam buku Psikologi belajar dan mengajar karangan Dr, Oemar hamalik dijelaskan tentang anjuran yang berasal dari studi tentang remaja sebagai gejala cultural dan biologis, sebagian lagi berasal dari praktek-praktek konvensional maupun inovatif ci sekolah menengah yaitu:
1. belajar para remaja akan dipermudah apabila ada keseimbangan antara pembatasan dan kebebasan.
2. belajar disekolah akan dipermudah apabila para remaja diperlukan sebagai pribadi dan bukan sebagai benda
3. belajar akan dipermudah apabila para remaja tahu bahwa suaranya didengar dan sungguh-sungguh diperhitungkan
4. belajar akan dipermudah apabila seseorang tahu bahwa ia diterima, dikenal, atau diakui oleh kelompoknya, dan kehadirannya menimbulkan perbedaan tertentu
5. belajar akan dipermudah serta perkembangan kepribadian yang seimbang akan meningkat apabila personel sekolah mengenal berbagai inteligensi dan berbagai gaya belajar.
6. belajar akan dipermudah apabila kapasitas para pemuda untuk mempercayai dirinya diterima dan mereka diberima dan mereka diberi semangat
7. mempelajarikonsep-konsep yang terpilih dan konsep diri yang sehat akan dipermudah bila para remaja memahami dirinya sendiri dan “ kebudayaan remaja”
8. belajar akan dipermudah apabila angka-angka dihilangkan.
9. lingkungan belajar mengajar akan menjadi baik bila para guru mengetahui dan menerima beban serta tantangan terhadap dirinya sebagai pusat perhatian remaja dan sebagi model. 
2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Hal ini meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, faktor ini dapat dibagi tiga macam
1.    Lingkungan keluarga, kemerosotan dalam hubungan keluarga, baik itu berupa kurang perhatiannya orangtua atau konflik yang terjadi dalam lingkungan keluarga sangat mengganggu proses pembelajaran seorang siswa yang masih mencari jati diri yang sesuai dengan karakternya, ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu sangatlah menghambat kesakssan pendidikannya,  dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga juga sangat mempengaruhi terbentuknya penerus bangsa yang berpendidikan tinggi.
2.    Lingkungan perkampungan/masyarakat, masyarakat adalah bagian keluarga besar bagi para remaja yang tidak ingin mengetahui keadaan anaknya dan menuntunnya kejalan yang benar jika mereka tersesat, justru seorang anak harus mengetahui dan menjaga keadaannya sendiri dengan berbagai macam karakter anggaota keluarga yang berbeda-beda. wilayah perkampungan kumuh (slum area) sangat mempengaruhi perkembangan moral peserta didik, dan teman sepermainan (peer grup) yang nakal lebih cepat mempengaruhi masa remaja, karena tidak bisa dipungkiri perbuatan baik lebih sulit untuk dilaksanakan, sedangkan perbuatan jelek lebih cepat penyebarannya dan lebih mudah untuk dilakukan.
3.    Lingkungan sekolah, kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar sangat mmgganmggu sekali pada proses pendidikan yang dilaksanakan oleh pserta didik usia sekolah menengah, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah juga mengganggu terlaksananya pendidikan seorang siswa.
Selain faktor yang bersifat umum diatas ada faktor-faktor  lain yang menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor khusus yang dapat dipandang adalah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar). Sindrom (syindrom) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1998) yang menimbulkan kesulitan belajar.
Akan tetapi siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memeilki potensi IQ yang normal, bahkan diantaranyaa ada yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Oleh karenanya kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal Brain Disfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988)
Problematika atau masalah yang bersifat ekstern itu timbul dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada usia sekolah menengah peserta didik menginginkan sesuatu kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Mereka ingin selalu diakui sebagai pribadi, ia ingin bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, pada usia ini orang tua tidak terlalu mengekang terhadap kebebasan atau bahkan meniadakan kebebasannya. Jadi, dalam hal ini orang tua harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusannya sendiri mengenai hal-hal yang akan dilakukannya.
Pada usia sekolah menengah peserta didik sudah mulai memikirkan tentang hal-hal yang benar dan yang salah serta tentang norma-norma untuk membimbing tingkah lakunya. Ia mulai memperhatikan konsep-konsep mengenai hal-hal yang benar dan yang salah, ia tidak mau begitu saja menerima pendapat-pendapat dari orang lain. Selain itu, masalah yang lebih penting lagi adalah apa yang disebut dengan kesenjangan generasi antara peserta didik dengan orang tua, kesenjangan ini sebagian disebabkan karena adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar prilaku yang biasanya terjadi dalam setiap perubahan budaya yang pesat, sebagian juga disebabkan karena dalam masa remaja lebih banyak memiliki kesempatan untuk pendidikan sosial budaya yang lebih besar.
Hubungan orang tua dengan anak akan membaik ketika orang tua mulai menyadari bahwa anak-anak mereka bukan anak kecil lagi. Mereka memberi banyak keistimewaan dan sekaligus bertanggung jawab serta prestasi belajar yang lebih baik. Untuk mengembangkan kepribadian anak secara sempurna maka ada beberapa hal yang harus diterapkan oleh orang tua pada usia sekolah menengah antara lain:
a.    Bersiakap tidak membedakan
Salah satu cara yang salah yang sering dilakukan oleh orang tua yang membuat anak menjadi jahat adalah sikap membedakan. Sebagian orang tua kadang lebih condong pada anak laki-lakinya dan juga sebaliknya lebih condong pada anak perempuan. Sikap membedakan yang demikian ini akan meninggalkan pengaruh negatif pada kejiwaan anak, pengaruk negatif ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan kedewasaannya yang kemudian akan mengantar anak pada kehancuran bahkan tidak jarang sikap negatif ini menular pada anak cucu mereka.
b.    Perhatian dan pengarahan yang baik
Salah satu sarana untuk menghindarkan anak dari sikap jahat adalah dengan pendekatan psikologis, orang tua harus bersikap lebih mengerti pada kondisi anak. Ketika hendak membenarkan sesuatu yang salah pada anak orang tua tidak boleh menggunakan kekerasan dan meluapkan emosi. Orang tua harus berbicara dengan lemah lembut yang disertai dengan nasenat-nasehat. Sesuai dengan firman Allah dalam surat At-Thoha ayat 44 yang artinya “maka berbicaralah kamu keduanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah dia ingat atau takut”
c.    Menanamkan taqwa dalam jiwa anak
Seluruh dosa sebenarnya adalah sifat-sifat yang hina, untuk menyelamatkan diri dari hal tersebut jalan keluarnya adalah menanamkan ketaqwaan pada jiwa anak. Apabila tangkai-tangkai pohon kejahatan itu layu dan daun-daunnya rontok berjatuhan, maka akar-akarnya akan tumbang dan mati, artinya dalam kehidupan sosial sifat-sifat jelek yang ada pada diri manusia seperti kikir, takabur, suudzon dan lain-lain. Jika seseorang dapat menahan dari segala sifat-sifat buruk tersebut maka dia akan terlepas dari dosa-dosa, begitu juga pada anak, pendidikan seperti ini perlu ditanamkan oleh orang tua demi kebaikan jiwa pada diri anak.












C.    KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas jelas sekali kondisi peserta didik sangat labil, yang  memerlukan bimbingan orang yang lebih dewasa dan petunjuk mereka atas masalah-masalah yang belum bisa mereka pecahkan, perubahan kondisi peserta didik pada usia sekolah menengah ini banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat cultural.
Problematika remaja secara garis besar terdapat dua faktor yaitu faktor intern (dari dalam diri remaja itu sendiri) dan faktor ekstern (dari luar diri). Yang sangat menonjol dari problematika remaja adalah yang berhubungan kultural dan psikososial.
Solusi yang sangar tepat bagi remaja atas apa yang menimpa mereka adalah usaha mereka sendiri untuk bisa menerapkan kiat-kiat supaya mereka tidak terlena dengan masalah-masalah yang menimpa mereka, dan melaksanakan anjuran-anjuran yang telah dijelaskan diatas. Perhatian orang lain juga sangat membantu mereka untuk memecahkan masalah yang menimpa.

















DAFTAR RUJUKAN
Ernest, R.H. Pengantar Psikologi, Erlangga, Jakarta: 1983.
Gunarsa, S. Psikologi Anak  Bermasalah, Gunung Mulia, Jakarta:1987.
Hurlock, Elisabet B. Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta: 1980.
Mazhariri. Pintar Mendidik Anak, Centera, Jakarta: 2000
Rifa’I, S. Psikologi Perkembangan Remaja, Bina Aksara, Bandung: 1984
Susilowindradini. Psikologi Perkembangan, Usaha Nasional, Surabaya: 1980.
Samsunuwiyati Mar’at, Psikologi perkembangan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung:2006
Sunarto.H, Agung Hartono.B, Perkembangan Peserta Didik, PT Rineka Cipta, Jakarta:1999
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, CV Sinar Baru, Bandung:1990
Baharuddin.H, Psikologi Pendidikan, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta: 2007

{ 0 comments... read them below or add one }

Poskan Komentar