PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (autis)

Posted by anharul ulum

1.    Latar Belakang
Banyak wilayah di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, di mana sebagian besar penduduknya mungkin belum mengetahui banyak informasi mengenai Autis, Down Syndrome dan retardasi mental. Para penderita gangguan ini mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Perlakuan yang tidak layak dalam konteks ini adalah mungkin dianggap ‘gila’ oleh masyarakat atau tidak mendapat perawatan yang tepat. Labeling inilah yang menghambat proses pengoptimalisasian potensi yang dimiliki anak-anak dengan gangguan mental, Autis dan Down Syndrome. Tak jarang juga keluarga penderita juga mendapat atribusi yang tidak mengenakkan dari masyarakat.
        Berkaca dari keadaan para penderita baik gangguan mental maupun Down Syndrome di luar negeri, eksistensi mereka di Indonesia pun dapat dioptimalkan. Jika di luar di negeri kita sering mendengar mereka dapat bersekolah, bekerja, bahkan di Rusia ada yang berhasil menjadi aktor, di Indonesia pun tak ada kata tidak mungkin untuk melakukannya.
        Melalui makalah ini kami mencoba untuk memberi sedikit informasi mengenai karakteristik penderita, pendidikan apa yang dapat kita ajarkan pada para penderita,  juga penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab gangguan, kami berharap dapat membawa wacana mengenai langkah preventif yang dapat dilakukan.

2.    Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Autis, Retardasi Mental, Down Syndrome?
2.    Apa penyebabnya?
3.    Bagaimana karakteristik penderitanya?
4.    Metode apa yang cocok diterapkan dalam pendidikan penderita Autis, Retardasi Mental, Down Syndrome?


3.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Autis, Retardasi Mental, Down Syndrome?
2.    Untuk mengidentifikasi apa penyebabnya?
3.    Untuk mengetahui bagaimana karakteristik penderitanya?
4.    Untuk mengidentifikasi metode apa yang cocok diterapkan dalam pendidikan penderita Autis, Retardasi Mental, Down Syndrome?

























B.    PEMBAHASAN

A.    Autis
a. Pengertian autis
Autis berasal dari kata “autos” yang artinya segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam Kamus Lengkap Psikologi, autisme didefinisikan sebagai (1) cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri, (2) menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri, menolak realitas, dan (3) keasyikan ekstrim dengan pikiran dan fantasi sendiri (Chaplin, h. 46, 2005).
Autistic disorder adalah adanya gangguan atau abnormalitas perkembangan pada interaksi social dan komunikasi serta ditandai dengan terbatasnya aktifitas dan ketertarikan. Munculnya gangguan ini sangat tergantung pada tahap perkembangan dan usia kronologis individu. Autistic disorder kadang-kadang dianggap early infantile autism, childhood autism, atau Kanner’s autism (American Psychiatric Association, h. 70, 2000).     Perilaku autistic digolongkan dalam dua jenis, yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku yang deficit (berkekurangan). Yang termasuk perilaku eksesif adalah hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menggigit, mencakar, memukul, dsb. Di sini juga sering terjadi anak menyakiti dirinya sendiri (self-abused). Perilaku deficit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku social kurang sesuai, deficit sensori sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat, misalnya tertawa-tawa tanpa sebab, menangis tanpa seba, dan melamun.
World Health Organization's International Classification of Diseases (ICD-10) mendefinisikan autisme (dalam hal ini khusus childhood autism) sebagai adanya keabnormalan dan atau gangguan perkembangan yang muncul sebelum usia tiga tahun dengan tipe karakteristik tidak normalnya tiga bidang yaitu interkasi social, komunikasi, dan perilaku yang diulang-ulang (World Health Organozation, h. 253, 1992). WHO juga mengklasifikasikan autisme sebagai gangguan perkembangan sebagai hasil dari gangguan pada system syaraf pusat manusia.
Autisme dimulai pada awal masa kanak-kanak dan dapat diketahui pada minggu pertama kehidupan. Dapat ditemukan pada semua kelas social ekonomi maupun pada semua etnis dan ras. Penderita autisme sejak awal kehidupan tidak berhuungan dengan orang lain dengan cara yang biasa. Sangat terbatas pada kemampuan bahasa dan sangat terobsesi agar segala sesuatu tetap pada keadaan semula (sama).
Delapan puluh persen anak autis memiliki IQ dibawah 70 (Davison, h. 436-437, 1998) yang bisa digolongkan juga sebagai retardasi mental. Akan tetapi autisme berbeda dengan retardasi mental. Penderita retardasi mental menunjukkan hasil yang memprihatinkan pada semua bagian dari sebuah tes inteligensi. Berbeda dengan penderita autis, mereka mungkin menunjukkan hasil yang buruk pada hal yang berhubungan dengan bahasa tetapi mereka ada yang menunjukkan hasil yang baik pada kemampuan visual-spatial, perkalian empat digit, atau memiliki long term memory yang baik. Mereka mungkin memiliki bakat besar yang tersembunyi.
    Prevalensi nya adalah 5 : 10.000 dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1. Jadi anak laki-laki memiliki kemungkinan mengidap autisme lebih esar disbanding anak perempuan.

b.    Penyebab
Menurut Bruno Bettelheim, dengan pendekatan Psikoanalisis dia berpendapat bahwa ketika seorang anak berhadapan dengan sebuah dunia yang tidak responsive yaitu yang merusak dan menyebabkan frustrasi, anak akan menarik diri darinya dan dari orang lain (Kendall, h. 514, 1998). Tapi pendapat ini tidak banyak memberikan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk mendukung teori tersebut.
Melalui pendekatan behaviorisme, Ferster mengemukakan pendapat bahwa dikarenakan ketidakpedulian orang tua, khususnya ibu, menghentikan pembangunan hubungan yang menjadi reinforcerment bagi manusia untuk bersosialisasi (Davison, h. 444, 1998).
Akan tetapi autisme tampaknya tidak disebabkan oleh tigkah laku orang tua yang dingin, tidak peduli, maupun perilaku patologis lainnya. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh David Hansen dan Irving Gottesman dapat disimpulkan bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa factor genetic tidak sepenuhnya berperan dalam perkembangan autisme (Kendall, h. 514, 1998). Memang ditemukan kelainan kromosom pada anak autis, namun kelainan itu tidak selalu pada kromosom yang sama (Handojo, h. 14, 2003).
Diyakini bahwa gangguan tersebut terjadi pada fase pembentukan organ-organ (organogenesis) yaitu pada usia kehamilan antara 0-4 bulan. Organ otak sendiri baru terbentuk pada usia kehamilan setelah 15 minggu. Pada kehamilan trisemester pertama yaitu 0-4 bulan factor pemicu autisme biasanya terdiri dari infeksi toxoplasma, rubella, candida, logam berat (Pb, Al, Hg, Cd), zat aditif (MSG, pengawet, pewarna), obat-obatan, jamu peluntur, muntah-muntah yang hebat (hiperemesis), pendarahan berat, dll (Handojo, h. 15, 2003).
Pada proses kelahiran yang lama di mana terjadi ganggua nutrisi dan oksigenasi pada janin ataupun pemakaian forsep juga dapat memicu terjadinya autisme. Sesudah lahir atau post-partum, autisme juga dapat terjadi karena pengaruh infeksi pada bayi, imunisasi MMR, dan hepatitis B, logam berat, zat pewarna, MSG, zat pengawet, protein susu sapi (kasein), dan protein tepung terigu (gluten)  (Handojo, h. 15, 2003).
 Pada sebuah studi, subjek autisme menunjukkan pengurangan aktifitas otak, otak penderita autisme sedikit lebih lebar dan berat daripada orang normal, dan syaraf-syarafnya dideskripsikan sebagai tidak berkembang dengan matang (Kendall, h. 514, 1998).
Dari penelitian yang dilakukan para pakar dari banyak Negara ditemukan beerapa fakta yaitu adanya kelainan anatomis pada lobus patietalis cerebellum dan system limbiknya. 43 % penyandang autisme mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya yang menyebabkan anak tidak peduli dengan lingkungannya. Kelainan juga ditemukan pada otak kecil yang berfungsi pada proses sensoris, daya ingat, berfikir, belajar berbahasa, dan proses atensi yaitu pada lobus ke VI dan VII (Handojo, h. 14, 2003).
Sel purkinye juga sangat sedikit sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan dopamine yang mengakiatkan terjadinya gangguan penghantaran impuls di otak. Selain itu ditemukan kelainan yang khas di dalam system limbic yang disebut hipokampus dan amigdala yang mengakibatkan gangguan fungsi control terhadap agresi dan emosi (Handojo, h. 14, 2003).
Hipokampus berpengaruh pada fungsi belajar dan daya ingat sehingga bila hipokampus terganggu maka terjadi kesulitan menyimpan informasi baru. Perilaku yang berulang-ulang, aneh dan hiperaktif juga disebabkan gangguan hipokampus (Handojo, h. 14, 2003).
Penyebab autisme menurut hasil penelitian antara lain :
a.    Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di negara maju.
b.    Televisi : Semakin maju suatu negara, biasanya interaksi antara anak - orang tua semakin berkurang karena berbagai hal. Sebagai kompensasinya, seringkali TV digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata ada kemungkinan bahwa TV bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang menjadi jarang bersosialisasi karenanya. Dampak TV tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara.
c.    Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya. Namun tidak itu saja, juga ada kemungkinan variasi-variasi lainnya. Salah satu contohnya adalah bagaimana anak-anak yang lahir dari ayah yang berusia lanjut memiliki peluang lebih besar untuk menderita autisme. (walaupun sang ayah normal / bukan autis)
d.    Makanan : Pada tahun 1970-an, Dr. Feingold dan kolega-koleganya menyaksikan peningkatan kasus ADHD dalam skala yang sangat besar. Sebagai seseorang yang pernah hidup di era 20 / 30-an, dia masih ingat bagaimana ADHD nyaris tidak ada sama sekali di zaman tersebut. Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna, dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastic
e.    Radiasi pada janin bayi : Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi kidal. Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga berperan menyebabkan autisme. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG - hindari jika tidak perlu.
f.    Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata, tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat. Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini, yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic acid - namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).

c.    Karakteristik
Menurut kriteria diagnostic dalam DSM IV karakteristik penderita adalah (American Psychiatric Association, h. 75, 2000). Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).
1.    Gangguan kualitatif dalam interaksi social yang timbal balik.
a.    Tak mampu menjalin interaksi social yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju
b.    Tak bisa bermain dengan teman sebaya
c.    Tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain
d.    Kurangnya hubungan social dan emosional yang timbal balik
2.    Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi
a.    Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b.    Bila bisa bicara, bicara tidak dipakai untuk komunikasi
c.    Sering menggunakan bahasa aneh yang diulang-ulang
d.    Cara bermain kurang variatif,kurang imajinatif, dan kurang isa meniru
e.    Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat, dan kegiatan.
f.    Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan
g.    Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tak ada gunanya
h.    Ada gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
i.    Seringkali terpukau pada bagian-bagian benda
Penderita autisme secara umum mengalami tiga jenis kesulitan, yang sering disebut the triad of impairments, yaitu :
1.    Interaksi social (kesulitan dalam menjalin hubungan social, contohnya menjauh atau bersikap dingin dan tidak menghiraukan orang lain )
2.    Komunikasi social (kesulitan dalam komunikasi baik verbal maupun non-verbal, contohnya tidak mengerti arti dari isyarat yang umum, ekspresi wajah, dan nada suara)
3.    Imajinasi social (kesulitan dalam mengembangkan permainan interpersonal dan imajinasi, seagai contoh mempunyai hanya sedikit aktifitas imajinatif, meniru, dan hanya mengulang-ulang)
Selain ketiga kesulitan tersebut, pola perilaku yang diulang-ulang (obsesif-kompulsif dan perilaku ritual, seperti jalan berjinjit-jinjit, diam seperti batu, dsb) dan menolak adanya perubahan pada hal rutin juga merupakan karkteristik penderita.
Sensori-motorik
Indikasi adanya autisme juga termasuk oversensitifitas atau kelambatan reaksi untuk menyentuh, gerakan, penglihatan, tidak merawat diri, body awareness yang rendah, perilaku verbal dan fisik yang impulsive.
Autisme
Pada usia dua tahun, anak normal biasanya sudah mampu untuk menyusun kalimat dari dua kata untuk menekspresikan pikirannya yang kompleks. Anak dengan autisme 50 % dari mereka tidak pernah belajar sama sekali. Biasanya yang mereka lakukan adalah echolalia dan pronoun reversal. Echolalia biasanya adalah pengulangan yang luar biasa dan monoton terhadap apa orang lain katakana. Misalnya mendengar siaran berita di televise, selang beberapa jam kemudian mereka ada yang bisa menirukan. Pronoun reversal adalah menyebut diri mereka sendiri dengan dia atau nama mereka sendiri (Davison, h. 440, 1998 ).
Kesendirian yang Ekstrim
Penderita autisme tidak pernah menarik diri dari masyarakat, mereka tidak pernah ikut bergabung di dalamnya. Pada usia tiga ulan anak dengan perkembangan normal sudah mempunyai perilaku kelekatan dengan ibunya, pada penderita autisme kelekatan tidak muncul bahkan menolak afeksi dari orang tua. Mereka sama sekalitidak memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang lain, sehingga tidak memberi respon. Melihat kenyataan ini orang tua sering salah mengira bahwa anak mereka tuli.


d.    Metode Pengajaran bagi Penderita Autis
Dahulu dikatakan autisme merupakan kelainan seumur hidup, tetapi kini autisme masa kanak-kanak dapat dikoreksi. Tatalaksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini mungkin. Dengan beberapa metode yang pernah dicoba, 47 % penderita autisme murni dapat menjadi normal. Berikut beberapa jenis terapi
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)    
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme.  Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik   
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat  banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam keterampilan berkomunikasi dua arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
6) Terapi Bermain 
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif  tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan intelektualnya.  Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan  bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).    

B. Gangguan Mental
a. Pengertian Gangguan Mental
Gangguan mental atau Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental.  Retardasi mental sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
1.    Lemah fikiran ( Feeble-minded);
2.    Terbelakang mental (Mentally Retarded);
3.    Bodoh atau dungu (Idiot);
4.    Pandir (Imbecile);
5.    Tolol (Moron);
6.    Oligofrenia (Oligophrenia);
7.    Mampu Didik (Educable);
8.    Mampu Latih (Trainable)
9.    Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
American Asociation on Mental Deficiency/AAMD mendefinisikan Retardasi mental sebagai kelainan:
1.    Yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes;
2.    Yang muncul sebelum usia 16 tahun;
3.    Yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
      Sedangkan pengertian Retardasi mental menurut Japan League for Mentally Retarded (1992) sebagai berikut:
1.    Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.
2.    Kekurangan dalam perilaku adaptif
3.    Terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.

b. Penyebab Retardasi Mental
Retardasi mental dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Genetik.
a. Kerusakan/Kelainan Biokimiawi
b. Abnormalitas Kromosomal (chromosomal Abnormalities)
c. Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 – 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 – 50.
       2. Pada masa sebelum kelahiran (pra-natal).
a. Infeksi Rubella (Cacar)
b. Faktor Rhesus (Rh)
       3. Pada saat kelahiran (perinatal)
Retardasi mental/tunagraita yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan lahir rematur.
4.  Pada saat setelah lahir (post-natal)
Penyakit-penyakit akibat infeksi misalnya: Meningitis (peradangan pada selaput otak) dan problema nutrisi yaitu kekurangan gizi misalnya: kekurangan protein yang diderita bayi dan awal masa kanak-kanak dapat menyebabkan retardasi mental.
5.  Faktor sosio-kultural.
Sosio kultural atau sosial budaya lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan intelektual manusia.
5.    Gangguan Metabolisme/Nutrisi.
a. Phenylketonuria. Gangguan pada metabolisme asam amino, yaitu gangguan pada enzym Phenylketonuria.
b. Gargoylisme. Gangguan metabolisme saccharide dalam hati, limpa kecil, dan otak.
c. Cretinisme. Gangguan pada hormon tiroid yang dikenal karena defisiensi yodium.
Secara umum, Grossman et al, 1973, menyatakan penyebab retardasi mental akibat dari:
1.    infeksi dan/atau intoxikasi,
2.    rudapaksa dan/atau sebab fisik lain,
3.    gangguan metabolisma, pertumbuhan atau gizi (nutrisi),
4.    penyakit otak yang nyata (kondisi setelah lahir/post-natal),
5.    akibat penyakit atau pengaruh sebelum lahir (pre-natal) yang tidak diketahui,
6.    akibat kelainan kromosomal,
7.    gangguan waktu kehamilan (gestational disorders),
8.    gangguan pasca-psikiatrik/gangguan jiwa berat (post-psychiatrik disorders),
9.    pengaruh-pengaruh lingkungan, dan kondisi-kondisi lain yang tak tergolongkan.

c. Karakteristik Anak Retardasi Mental
Karakteristik anak retardasi mental menurut Brown et al, 1991; Wolery & Haring, 1994 pada Exceptional Children, fifth edition, p.485-486, 1996 menyatakan:
1. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.
2. Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
3. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat.
4. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga retardasi mental berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala.
5. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
6. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main.
7. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dll.
     Klasifikasi Retardasi Mental
Pengklasifikasian/penggolongan Anak Retardasi mental untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut:
1. Educable
Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
2. Trainable
Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuanya untuk mendapat pendidikan secara kademik.
3. Custodial
Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.

Sedangkan penggolongan Retardasi mental untuk Keperluan Pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.    Taraf perbatasan (borderline) dalam pendidikan disebut sebagai lamban belajar (slow learner) dengan IQ 70 – 85.
2.    Retardasi mental mampu didik (educable mentally retarded) dengan IQ 50 – 75 atau 75.
3.    Tunagrahit mampu latih (trainable mentally retarded) dengan IQ 30 – 50 atau IQ 35 – 5
4.    Retardasi mental butuh rawat (dependent or profoundly mentally retarded) dengan IQ dibawah 25 atau 30
Penggolongan Retardasi mental secara Medis-Biologis menurut Roan, 1979, adalah sebagai berikut:
1. Retardasi mental taraf perbatasan (IQ: 68 – 85).
2. Retardasi mental ringan (IQ: 52 – 67).
3. Retardasi mental sedang (IQ: 36 – 51).
4. Retardasi mental berat (IQ: 20 – 35).
5. Retardasi mental sangat berat (IQ: kurang dari 20); dan
6. Retardasi mental tak tergolongkan.

Adapun penggolongan Retardasi mental secara Sosial-Psikogis terbagi 2 (dua) kriteria yaitu: psikometrik dan perilaku adaptif. Ada 4 (empat) taraf Retardasi mental berdasarkan kriteria psikometrik menurut skala inteligensi Wechsler (Kirk dan Gallagher, 1979, dalam B3PTKSM, p. 26), yaitu:
1.    Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 – 69.
2.    Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40 –54.
3.    Retardasi mental berat (severe mental tetardation) dengan IQ: 20 – 39.
4.    Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah.
5.    Penggolongan anak Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf inteligensi, tetapi berdasarkan kematangan sosial. Hal ini juga mempunyai 4 (empat) taraf, yaitu:
a.    Ringan;
b.    Sedang;
c.    Berat; dan
d.    Sangat Berat.
Tingkat Retardasi Mental
 Derajat keparahan    Perkiraan tentang IQ    Jumlah penyandang Retardasi mental dalam rentang ini.
Retardasi mental ringan (mild)    50-55 sampai sekitar 70    Kira-kira 85%
Retardasi mental sedang (moderate)    35-40 sampai 50-55    10%
Retardasi mental berat (severe)    20-25 sampai 35-40    3-4%
Retardasi mental parah (profound)    Di bawah 20-25    1-2%

Tingkat Retardasi Mental, Perkiraan Rentang IQ, dan Jenis Tingkah Laku Adaptif yang Terlihat
Perkiraan rentang skor IQ    Usia prasekolah 0-5 tahun
kematangan&perkembangan    Usia sekolah 6-21 tahun
Pelatihan dan pendidikan
Ringan 50-70    Sering terlihat tidak memiliki gangguan tetapi lambat dalam berjalan, makan sendiri dan bicara dibanding anak-anak lainnya    Menguasai keterampilan praktis serta kemampuan membaca dan aritmatika sampai kelas 3-6 SD dengan pendidikan khusus. Dapat diarahkan pada konformitas sosial.
Sedang 35-49    Keterlambatan yang nyata pada perkembangan motorik, terutama dalam bicara ; berespon terhadap pelatihan dalam berbagai aktivitas self help    Dapat mempelajari komunikasi sederhana, perawatan kesehatan dan keselamatan dasar, serta keterampilan tangan sederhana; tidak mengalami kemajuan dalam fungsi membaca atau aritmatika
Berat 20-34    Ditandai dengan adanya keterlambatan dalam perkembangan motorik, kemampuan komunikasi yang minim atau tidak ada sama sekali; dapat berespon terhadap pelatihan self help mendasar misalnya makan sendiri.    Biasanya mampu berjalan, tetapi memiliki ketidakmampuan yang spesifik; dapat mengerti pembicaraan dan memberikan respon; tidak memiliki kemajuan dalam kemampuan membaca atau aritmatika
Parah dibawah 20    Retardasi motorik kasar; kapasitas minimal untuk berfungsi pada area sensori motor; membutuhkan bantun rawat    Keterlambatan yang terlihat jelas dalam semua area perkembangan; dapat menunjukkan respon emosional dasar; mungkin berespon terhadap pelatihan keterampilan dengan menggunakan kaki, tangan, dan rahang;memerlukan supervisi/ pengawasan yang ketat

d. Metode Pengajaran bagi Penderita Retardasi Mental
Pendekatan yang dapat diberikan kepada anak retardasi mental adalah
1. Occuppasional Therapy (Terapi Gerak)
Terapi ini diberikan kepada anak retardasi mental untuk melatih gerak funsional anggota tubuh (gerak kasar dan halus).
2. Play therapy (Terapi bermain)
Terapi yang diberikan kepada anak retardasi mental dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran tentang hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.
3. Activity Daily Living (ADL) atau Kemampuan Merawat Diri
Untuk memandirikan anak retardasi mental, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.
4. Life Skill (Keterampilan hidup)
Anak yang memerlukan layanan khusus, terutama anak dengan IQ di bawah rata-rata biasanya tidak diharapkan bekerja sebagai administrator. Bagi anak retardasi mental yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan untuk dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.
5. Vocational Therapy (Terapi Bekerja)
Selain diberikan latihan keterampilan. Anak retardasi mental juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang telah dimilikinya, anak retardasi mental diharapkan dapat bekerja.

D. SINDROM DOWN (DOWN SYNDROME)
a.    Pengertian Sindrom Down
Down syndrome pertama kali dideskripsikan dan dipublikasikan oleh John Langdom Down pada tahun 1886, namun baru sekitar awal tahun 1960-an ditemukan diagnosis pastinya setelah penelitian pada kromosom penderita yang diduga mengalami down syndrome.
Ciri dan karakteristik fisik yang nampak dari penderita down syndrome antara lain bagian belakang kepala rata (flattening of the back of the head), mata sipit karena adanya tambahan lipatan kulit sepanjang kelopak mata, alis mata miring (slatning of the eyelids), telinga lebih kecil, mulut yang mungil,otot lunak, persendian longgar (loose ligament) dan tangan serta kaki mungil.
Masalah-masalah kesehatan yang sering dialami anak yang menderita down syndrome antara lain :
1.    Sakit jantung berlubang
2.    Mudah mendapat salesma, radang tenggorok, radang paru-paru
3.     Kurang pendengaran
4.    Lambat/bermasalah dalam bertutur
5.     Penglihatan kurang jelas

b. Penyebab   
Down Syndrome disebabkan adanya gangguan pada kromosom ke-21. manusia memiliki 23 pasang kromosom. Tapi pada anak down syndrome, kromosom mereka yang ke-21 tidak sepasang (dua) melainkan tiga kromosom (trisomi). Jadi dengan kata lain down syndrome adalah gangguan genetik. Jumlah seluruh kromosom mencapai 47 buah. Akibatnya, terjadi gangguan sistem metabolisme di dalam sel .
Hubungan seks (coitus) yang dilakukan saat pasangan atau salah satu pasangan stres, bisa menghasilkan keturunan (anak) yang kelak mengidap down syndrome. Hipotesa itu diungkapkan ahli penyakit down syndrome Dr. Dadang Syarief Effendi "Pada saat coitus atau hubungan seks dimungkinkan terjadi pembuahan. Namun, jika hubungan seks dilakukan dalam kondisi stres, pada saat pembuahan proses pembelahan kromosom terjadi secara tidak sempurna. Secara normal, manusia memiliki 23 pasang kromosom. Pada penderita down syndrome, kromosom nomor 21 membelah menjadi tiga bagian (trisomi). Padahal pada mutasi yang normal, kromosom tersebut seharusnya membelah menjadi dua bagian," katanya.
Selain stres, melahirkan di usia tua juga bisa menyebabkan anak yang dilahirkan mengidap down syndrome. Mutasi gen pada saat sperma dan ovum bertemu, menyebabkan hasil pembuahan terkena down syndrome.

contoh USG janin yang diprediksi mengalami Down Syndrome
c.  Karakteristik
1. Bagian belakang kepala rata (Flattening of the back of the head),
2. Mata sipit karena adanya tambahan lipatan kulit sepanjang kelopak mata,
3. Alis mata miring (slanting of the eyelids),
4. Telinga lebih kecil, sehingga mudah terserang infeksi
5. Mulut yang mungil, lidah tebal dan pangkal mulut yang cenderung dangkal. Di samping itu, otot mulut mereka juga kerap lemah, sehingga menghambat kemampuan bicara. Pertumbuhan gigi geligi mereka pun lambat dan tumbuh tak beraturan. Gigi yang berantakan ini juga menyulitkan pertumbuhan gigi permanen.
6. Otot lunak,
7. Persendian longgar (loose ligament),
8. Tangan mungil ruas jari kelingking mereka kadang tumbuh meiring atau malah tidak ada sama sekali
9. Di telapak tangan mereka terdapat garis melintang yang disebut simian crease
10. Kaki yang mungil, simian crease juga terdapat di kaki mereka, yaitu di telunjuk dan ibu jari yang cenderung lebih jauh dari pada kaki orang normal. Keadaan telunjuk dan ibu jari yang berjauhan itu disebut juga sandal foot.
11. Hidung mereka cenderung lebih kecil dan datar. Ini tak jarang diikuti dengan saluran pernapasan yang kecil pula, sehingga mereka sering kesulitan bernapas
12. Rambut mereka lemas, tipis, dan jarang
d. Metode Pengajaran bagi Penderita Sindrom Down
1. Mengajarkannya ketrampilan untuk merawat diri sehingga mereka menjadi mendiri
2. Melakukan kegiatan atau permainan bahasa yang dapat menarik perhatian mereka
3. Memilih alat permainan sesuai tahap perkembangan anak-anak
4. Senam otak adalah sejenis kegiatan therapy berbentuk senam yang ditujukan untuk memberikan kondisi relaksasi pada otak. Pada umumnya senam otak hanyalah gerakan-gerakan sederhana yang bisa dilakukan agar otak menjadi lebih rileks.













C.    PENUTUP

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Autis berasal dari kata “autos” yang artinya segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri.
Penyebab autisme menurut hasil penelitian antara lain :
a.    Vaksin yang mengandung Thimerosal
b.    Televisi
c.    Genetik
d.    Makanan
e.    Radiasi pada janin bayi
f.    Folic Acid
Metode Pengajaran bagi Penderita Autis
Dahulu dikatakan autisme merupakan kelainan seumur hidup, tetapi kini autisme masa kanak-kanak dapat dikoreksi. Tatalaksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini mungkin. Dengan beberapa metode yang pernah dicoba, 47 % penderita autisme murni dapat menjadi normal. Berikut beberapa jenis terapi
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)    
2) Terapi Wicara
3) Terapi Okupasi
4) Terapi Fisik   
5) Terapi Sosial
6) dll,
    Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental.
Retardasi mental dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Genetik.
a. Kerusakan/Kelainan Biokimiawi
b. Abnormalitas Kromosomal (chromosomal Abnormalities)
c. Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 – 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 – 50.
       2. Pada masa sebelum kelahiran (pra-natal).
a. Infeksi Rubella (Cacar)
b. Faktor Rhesus (Rh)
      3. Pada saat kelahiran (perinatal)
4.  Pada saat setelah lahir (post-natal)
5.  Faktor sosio-kultural.
Metode Pengajaran bagi Penderita Retardasi Mental
Pendekatan yang dapat diberikan kepada anak retardasi mental adalah
1. Occuppasional Therapy (Terapi Gerak)
2. Play therapy (Terapi bermain)
3. Activity Daily Living (ADL)
4. Life Skill (Keterampilan hidup)
5. Vocational Therapy (Terapi Bekerja)

Down Syndrome disebabkan adanya gangguan pada kromosom ke-21. manusia memiliki 23 pasang kromosom. Tapi pada anak down syndrome, kromosom mereka yang ke-21 tidak sepasang (dua) melainkan tiga kromosom (trisomi). Jadi dengan kata lain down syndrome adalah gangguan genetik. Jumlah seluruh kromosom mencapai 47 buah. Akibatnya, terjadi gangguan sistem metabolisme di dalam sel
Abnormalitas kromosom yang paling umum memnyebabkan retardasi mental adalah down syndrome. Anak-anak down syndrome menderita berbagai defisit dalam belajar dan perkembangan. Anak-anak ini mengalami defisit memori, khususnya untuk informasi ynag ditampilkan secara verbal. Sehingga sulit untuk belajar di sekolah. Mereka juga mengalami kesulitan mengikuti instruksi dari guru, dan mengekspresikan pemikiran dan kebutuhan mereka dengan jelas secara verbal dengan pendidikan yang tepat dan dukungan yang baik mereka dapat belajar membaca, menulis, dan mengerjakan tugas aritmatika sederhana.
Metode Pengajaran bagi Penderita Sindrom Down
1. Mengajarkannya ketrampilan untuk merawat diri sehingga mereka menjadi mendiri
2. Melakukan kegiatan atau permainan bahasa yang dapat menarik perhatian mereka
3. Memilih alat permainan sesuai tahap perkembangan anak-anak
4. Senam otak adalah sejenis kegiatan therapy berbentuk senam yang ditujukan untuk memberikan kondisi relaksasi pada otak. Pada umumnya senam otak hanyalah gerakan-gerakan sederhana yang bisa dilakukan agar otak menjadi lebih rileks.








D.    DAFTAR RUJUKAN

American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Washington DC : APA
Davison, Gerald C. 1998. Abnormal Psychology. New York : John Wiley and Sons. Inc
Down Syndrome. http://en.wikipedia.org/wiki/Down_syndrome. diakses tanggal 12 Desember 2009
Handojo, Y. 2003. Autisma : Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi untuk Mengajar Anak Normal, Autis, dan Perilaku Lain. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer
The Arc of the United States.  2004. Mental Retardation http://www.nichcy.org/pubs/factshe/fs8txt.htm. Diakses tanggal 12 Desember 2009
World Health Organization. 1992. The ICD-10 Classification of Mental and Behavioral Disorder. Genewa : WHO

{ 6 comments... read them below or add one }

shaziamumtaaz mengatakan...

Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak (PTTKA) Rumah Sahabat Yogyakarta melayani deteksi dini anak berkebutuhan khusus, terapi wicara, sensori integrasi, fisioterapi, behavior terapi, Renang& musik untuk anak berkebutuhan khusus, terapi terpadu, home visit terapi & program pendampingan ke sekolah umum dan pelatihan terapi bagi orang tua anak berkebutuhan khusus. informasi lebih lanjut hubungi 0274 8267882

Rahmi Imanda mengatakan...

postingan yang menarik, kami juga punya artikel terkait 'Anak Autisme' silahkan buka link ini
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3521/1/Jurnal%20penerimaan%20orang%20tua%20pada%20anak%20MR.1_2.pdf
semoga bermanfaat ya

Yusan Widjaja mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
HHK Gemilang mengatakan...

Kami tidak hanya khusus mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (Autism Spectrum Disorder, Down Syndrome, Cerebral Palsy, Dylexia, ADD/ADHD, Global Development Delay: Speech & Language, Sensory Integrated Disorders)

Anonim mengatakan...

sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan saya,sayakira para calon orang tua atau pasangan keluarga muda harus membekalidiri dengan pengetahuan ini, terima kasih pada penulis .

Anonim mengatakan...

tolong infonya tentang menu makanan bagi penderita retardasi mental... trimakasih

Poskan Komentar