Metode Pembelajaran Ideal dan Efisien

Posted by anharul ulum

BAB II Kajian Teori
1.        Pengantar
Bahan-bahan pustaka yang memuat tentang masalah yang berhubungan dengan penulisan ini cukup banyak, dalam penulisan makalah ini hanya dibatasi dengan beberapa pertimbangan yaitu hanya masalah-masalah yang relevand dengan pembahasan tersebut.
2.        Masalah-masalah yang akan ditarik pada kajian teori
2.1.   Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam mengajar sutuan pelajaran atau urutan materi pelajaran dengan memusatkan pada keseluruhan proses belajar untuk mencapai proses belajar.
Metode dalam pembelajaran banyak jenisnya, karena metode ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya faktor tujuan, faktor peserta didik, faktor pengajar, faktor situasi, dan faktor fasilitas yang sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya.


2.2.   Macam-macam metode dalam pembelajaran
2.2.1.  Ceramah
Metode ceramah sering kali disebutmetode kuliah (The Lecture Methot). Dapat pula disebut dengan metode deskripsi. Metode ceramah merupakan metode yang memberikan penjelasan atau memberikan deskripsi lisan secara sipihak (oleh seorang pengajar) tentang suatu materi pembelajaran tertentu. Tujuannya adalah agar peserta didik mengetahui dan memahami materi pembelajaran tertentu dengan jalan menyimak dan mendengarkan. Peran pengajar dalam metode ceramah sangat aktif dan dominan sedangkan mahasiswa hanya duduk dan mendengarkan saja. (H.Sudiyono,2006:120)
Biasanya pengajar mencapai tujuan instruksionalnya dengan menggunakan kata-kata. Bagaimanakah ia mengorganisasikan kegiatan verbalnya itu sebaik-baiknya agar menolong peserta didiknya belajar? Salah satu cara yang dapat digunakan oleh seorang pengajar yaitu ceramah. Setiap penyajian informasi secara lisan dapat disebut ceramah baik yang formaldan berlangsung selama 45 menit, maupung yang informal yang hanya berlangsung selama 5 menit. Ceramah tidak dapat dikatakan baik buruk; ceramah harus dinilai munurut tujuan penggunaanya. Meskipun sudah demikian jelas, toh masih banyak pengajar yang takut sekali menggunakan bentuk ceramah. Mereka mencemoohkannya dengan dalih: “ceramah tidak sesuai dengan tingkat usia, dengan pokok bahasan, dan seterusnya”.
Walaupun ada kelemah-kelemahannya yang menyolok misalnya, tidak dapat memberi peserta didik kesempatan untuk mempratekkna perilaku yang relevan (selain mencatat) caramah masih dapat bermanfaat bagi peserta didik, berapapun usianya. Tujuan utama suatu ceramah ialah menyajikan ide. Bentuk penyajian lain misalanya karangan tertulis mungkin memadai dalam banyak situasi. Meskipun demikian, suatu ceramah yang baik mengadung suatu sifat yang nyaris tak terkatakan. Ceramah memungkinkan si pengajar menyampaikan topik dengan perasaan; dapat lewat penyampaiannya, dapat dengan intonasi tertentu, dengan tekan suaranya, ataupun dengan gerak gerik tangannya. Topik yang menarik dapat dibuat menarik; atau sebaliknya, yang menarik dapat membosankan.(W.James Popham, 2005:79)





2.2.2  Diskusi
Diskusi merupakan metode yang biasanya dipergunakan dalam sistem pembelajaran, kalau dalam metode caramah halnya terjadi satu arah, maka dalam metode diskusi terjadi banyak arah. Dengan demikian pada dasarnya metode diskusi adalah mengemukakan pendapat dan gagasan. Tujuan diskusi pada umunya adalah mencari pemecahan permasalah. (H.Sudiyono,2006:124)
Kedudukan pengajar dalam pengajaran non-direktif lebih mirip dengan kududukan dengan pemimpin kelompok yang enggan mimimpin. Salah satu kesukaran dalam menggunakan pengajaran non direktif dan diskusi pada umumnya ialah dalam hal memilih jenis topik nyang cocok. Jika topiknya menurut penilaian, atau menyangkut penafsiran dan pilihan, maka diskusi adalah cara yang tepat.
Diskusi juga berguna sekali untuk mengubah perilaku efektif peserta didik secara kongkret. Dalam hal sikap atau nilai, perubahan sukar sekali diadan jika siswa tidak diberi kesempatan menyatakan perasaannya. Penggunaan diskusi secara terampil memungkinkan pembentukan suatu sikap dalam suatu kelompok. Maka, dalam memilih diskusi sebagai suatu tehnik pengajar di kelas, perlu sekali dipertimbangkan tujuannya. Jika hendak mengubah perilaku kognitif pada taraf pengetahuan kiranya metode diskusi bukanlah metode yang efisien. Jika tujuanya pada taraf evaluasi atau pada perilaku efektif, maka penggunaan metode diskusi pada proses pengajaran agaknya tepat.
Diskusi selalu membutuhkan banyak waktu; karenanya, topiknya seharusnya cukup penting sehingga penggunaan waktu dapat dipertanggungjawabkan. (W.James Popham, 2005:84)



2.2.3  Demontrasi
Ceramah dan diskusi memerlukan tambahan. Untuk itu Pengajar sering mengadakan demonstrasi di kelas. Secara kecil-kecilan juga digunakan untuk menyajikan representasi nyata atau skematis dan hubungan-hubungan tertentu dipapan tulis. Jelas kiranya bahwa ilustrasi yang didemonstrasikan ada kalanya jauh lebih efisien daripada verbal.
Selama demonstrasi berlangsung, kiranya berguna jika peserta didik diberi pertanyaan-pertanyaan spesifik untuk mengecek apakah mereke tahu atau tidak akan apa yang sedang berlangsung. “apakah kalian mengerti?” bukan pertanyaan yang tepat. Juga, jika anda mendemonstrasikan suatu prosedur tertentu, jangan lupa memberikan petunjuk yang sama. Bolehkah pengajar meresa puas jika peserta didik dapat meleksanakan tugas itu juga.
Seorang pengajar mungkin keranjingan demonstrasi(biasanya kegiatan-kegiatan itu menyenangkan; kemahiran si pengajar menjadi pusat perhatian) sehingga ia begitu sering menggunakannya.Tidak ada buruknya mengadakan demonstrasi, tetapi ada kecenderungan aktivitas peserta didik berkurang, dan barang kali aktifitas belajar mereka. Sebulum mengadakan demonstrasi yang komplek, pengajar seharusnya bertanya pada diri apakah tujuan instruksionalnya dapat dipertanggungjawabkan atau tidak? Seperti dalam diskusi, peserta didik seharusnya diminta membuat laporan tertulis setelah demonstrasi berakhir agar perhatian dan sikap responsif mereka meningkat.     (W.James Popham, 2005:87)





2.2.4    Curah pendapat (Brainstorming)
Adalah sebuah metode umum yang digunakan dalam suatu pembelajaran untuk membantu peserta didiknya memikirkan sebanyak mungkin ide dan gagasan. Selama berlangsungnya curah pendapat peserta didik didorong untuk menghasilkan pendapat, gagasan secepat mungkin tanpa memikirkan nilai dari pada pendapat itu. Tekanannya ialah pada kuantitas, dan bukan kualitas.
Tidak dibenarkan adanya kritik terhadap pendapat-pendapat (pendapat anda sendiri maupun orang lain) karena orang orang akan merasa lebih bebas untuk membicarakan imajinasi-imajinasi mereka untuk berjalan dan untuk memberikan sumbangsih secara bebas/ leluasa jika mereka tidak merasa kuatir tentang apa yang akan dipikirkan orang lain tentang kontribusi-kontribusi mereka. Masing-masing individu bebas untuk memberikan sebanyak mungkin saran seperti yang dia inginkan. Seorang juru catat mencatat setiap kontribusi pada sebuah papan tulis atau di atas lembaran kertas dan semua peserta didik didorong untuk mengembangkan pendapt-pendapat orang lain. Samgat sering terjadi bahwa suatu pendapat yang nampaknya tidak berguna atau lucu akan memicu pendapat orang lain yang ternyata menjadi sangat bernilai tinggi.
Setelah  dilakukan curah pendapat, seluruh peserta didik kemudian dapat mengadakan evaluasi terhadap saran-saran tersebut dan melakukan pembahasan. (H.Sudiyono,2006:120)






2.2.5    Tanya-Jawab
Cara lain yang lazim digunakan di kelas yaitu pengajar bertanya kepada peserta didik. Pengajar menyukai haknya yang istimewa ini, dan berasumsi bahwa pertanyaan akan dapat jawaban. Selama ceramah, demontrasi, dan tentu saja selam diskusi, pertanyaan dapat menjadi alat ukur pengajar untuk merangsang kegiatan berfikir peserta didik. Pengajar juga dapat menggunakan jawaban peserta didik untuk mengecek efektifitas pengajaranya yang sedang berlangsung. Tentu saja,  pertanyaan dapat diajukan secara lisan maupun tertulis kiranya bersifat lebih formal, dan pada umunya lebih mirip dengan latihan yang sama daripada tanya jawab lisan yang berlangsung cepat.  Bagaimanapun pertanyaan-pertanyaan hendaknya disusun menurut urutan urutan yang berarti. Satu pertanyaan yang kurang relevan dapat merusak nilai serangkain pertanyaan yang baik. Peserta didikpun akan mengalami kesukaran menjawab jika rangkaian tanya jawab itutidak diurutkan dengan baik.dalam pengajaran berprogamprosedur demikian disebut “urutan penolong”, yaitu jawaban-jawaban yang dahulu  memudahkan peserta didik menemukan jawaban untuk pertanyaan tertentu. (W.James Popham, 2005:89)
Pertanyaan “ya dan tidak” sebaiknya dicegah. Mengenai menyusun pertanyaan yang berisi berbagai taraf perilaku kognitif. Dapat diperkirakan bahwa banyak pertanyaan yang dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak” hanya mengukur kognitif tarap rendah. Pertanyaan hipotesis “apakah yang akan terjadi, jika...?” atau pertanyaan kondisional “bagaimanakah sekiranya...” Bagaimanakah mungkin...” tentu menuntut taraf yang lebih tinggi.
Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar yang serupa ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah :
metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode itu terletak dalam :
1) Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru.
Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.
2) Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa
Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.
Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab. (Sofa : 2008 )
Pertanyaan juga dapat berfungsi sebagai “pengatur”. Pertanyaan yang diajukan sebelum ceramah atau demonstrasi dimulai dapat membantu peserta didik memusatkan perhatiannya pada hal-hal terpenting. Bentuk pertanyaan hendaknya berpedoman pada tujuan yang hendak dicapainuya. Jika tujuannya memilih alternatif jawaban, maka bentuk pertanyaan hendaknya memungkinkan tercapainya tujuan itu.
Pengajar seharusnya mendorong peserta didiknya agar menjawab dengan suara nyaring, dan tidak mengulangi jawaban peserta didik yang lain kecuali jika memang perlu atau jika peserta didik tersebut meriupakan kasus khusus (misalnya, seoranga yang kiranya membutuhkan dukungan).
Jika jawaban peserta didik salah, maka seharusnya (demi prinsip tahu hasil) diberitahukan bahwa itu salah. Tetapi harus bijaksana jiaka ia menginginkan mereka berani menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Demikian juaga dengan jawaban yang tidak gramatial atau yang menggunakan jawaban bahasa yang jelek. Kesalahan-kesalahan tersebut perlu dikoreksi, meskipun isi pokok jawabannya benar. Tetapi, perlu diperhitungkan faktor si pembuat kesalah tersebut : kepribadiannya (pemarah atau pendiam), ragam bahasanya (baku atau dialek). Pada hakekatnya pengajar harus menentukan tujuannya, yaitu apa yang akan dinilainya : isi pokoknya ataukah bentuknya ataukah keduanya. Jika jawaban yang dianggap lebih penting daripada jawaban yang paling benar, maka seharusnya ia hanya mengoreksi kesalahan gramatikal yang parah, yang menghambat komunikasi. Pertanyaan-pertanyaan yang direncanakan dengan baik dan dipakai secara tepat dapt menjadi sumber kesenangan mengajar. (W.James Popham, 2005:89)







2.2.6     Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah merupakan suatu metode mengajar yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, yang biasa disebut dengan metode pemberian tugas. Biasanya pengajar memberikan tugas itu sebagai pekerjaan rumah. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pekerjaan rumah dan pemberian tugas seperti halnya yang dikemukakan : Roestiyah dalam bukunya “Didaktik Metodik” yang mengatakan : “ Untuk pekerjaan rumah, Pengajar menyuruh membaca dari buku dirumah, dua hari lagi memberikan pertanyaan dikelas. Tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh membaca. (wijaya kusuma : 2009)
Dengan pengertian lain tugas ini jauh lebih luas dari pekerjaan rumah karena metode pemberian tugas diberikan dari guru kepada siswa untuk diselesaikan dan dipertanggung jawabkan. Peserta didik dapat menyelesaikan di sekolah, atau dirumah atau di tempat lain yang kiranya dapat menunjang penyelesaian tugas tersebut, baik secara individu atau kelompok. Tujuannya untuk melatih atau menunjang terhadap materi yang diberikan dalam kegiatan intra kurikuler, juga melatih tanggung jawab akan tugas yang diberikan. Lingkup kegiatannya adalah tugas guru bidang studi di luar jam pelajaran tatap muka. Tugas ditetapkan batas waktunya, dikumpulkan, diperiksa, dinilai, dan dibahas tentang hasilnya. Dalam memberikan tugas keadaan Peserta didik, pengajar harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
Memberikan penjelasan mengenai
1.      Tujuan penugasan
2.      Bentuk pelaksanaan tugas
3.      Manfaat tugas
4.      Bentuk Pekerjaan
5.      Tempat dan waktu penyelesaian tugas
6.      Memberikan bimbingan dan dorongan
7.      Memberikan penilaian
BAB 3 Penutup
3.1         Kesimpulan
Dari uraian di atas penulis mengemukakan teori-teori tersebut berdasarkan pengetahuan yang penulis peroleh yaitu tentang metode pembelajaran sastra dalam mata pelajaran bahasa indonesia
Adapun tujuan penulisan ini agar sebagai pendidik dalam melaksanakan tugas pembelajaran salalu menggunakan metode-metode yang relevan dengan materi yang diajarkan demi tercapainya suatu tujuan secara optimal.















Daftar Pustaka
1.      Popham, W. James. Baker, Eva L. 2005. Teknik Mengajar Secara Sistematik. Jakarta: Rineka Cipta.
2.      H. Sudiyono. Supriyatno, Triyo.Padil, Moh. 2006. Strategi Pembelajaran Partisipatori di Perguruan Tinggi.Malang:Uin-Malang Press.
3.      Sofa, moh. http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-tanya-jawab-dalam-pembelajaran, di akses pada tanggal 27-12-2010
4.      Wijaya kusumah. http://umum.kompasiana.com/2009/06/12/metode-pemberian-tugas/, di akses pada tanggal 27-12-2010

{ 0 comments... read them below or add one }

Posting Komentar