Tampilkan postingan dengan label Sejarah kebudayaan islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kebudayaan islam. Tampilkan semua postingan

Historiografi, Kebudayaan Islam Dan Perkembangan Masuknya Islam Ke Indonesia

Posted by Rumah Subsidi Malang

Definisi Historiografi :

Sejarah memiliki banyak ma’na secara bahasa maupun istilah. Secara : Bahasa inggris (history) yang berarti : sejarah, Bahasa belanda (historie) yang berarti : sejarah, Bahasa arab (sajratun) yang berarti menunjukkan arti pohon. Apabila digambarkan secara sistematik, sejarah hampir sama dengan pohon, memiliki cabang dan ranting, bermula dari sebuah bibit, kemudian tumbuh dan berkembang lalu layu dan tumbang. Seirama dengan kata sejarah adalah silsilah, kisah, hikayat yang berasal dari bangsa arab.

   Jadi definisi historiografi yaitu penulisan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh manusia yang terjadi pada masa lampau. Yang mana dituliskan kembali oleh para ahli dengan penulisan yang rinci dah mudah dipahami. Sebelum melakukan penulisan sejarah maka penulis harus melakuka penggalian sejarah yang pada umumnya menggunakan metode lisan, observasi, dokumenter, buku-buku sejarah dan lain sebagainya.

·           Definisi kebudayaan islam :

Di dalam Kamus Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.

Uraian :

Hubungan Islam dan Budaya Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakan dinamika ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasi diri dari roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dalam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakan keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakan pemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan.

·           Konsep kebudayaan islam :

Nabi Muhammad S.A.W merupakan teladan yang baik sekali dalam melaksanakan kebudayaan seperti dilukiskan dalam Al-Quran, bahwa bagaimana rasa persaudaraannya terhadap seluruh umat manusia dengan cara yang sangat tinggi dan sungguh-sungguh itu dilaksanakan. Saudara-saudara Nabi di Mekah semua sama dengan beliau sendiri dalam menanggung duka dan sengsara. Bahkan Nabi sendiri yang lebih banyak menanggungnya. Sesudah hijrah ke Madinah, dipersaudarakannya orang-orang Muhajirin dengan Anshar sedemikian rupa, sehingga mereka berada dalam status saudara sedarah. Persaudaraan sesama orang-orang beriman secara umum itu adalah persaudaraan kasih-sayang untuk membangun suatu sendi kebudayaan yang masih muda waktu itu. Yang memperkuat persaudaraan ini ialah keimanan yang sungguh-sungguh kepada Allah dengan demikian kuatnya sehingga dibawanya Nabi Muhammad kedalam komunikasi dengan Tuhan, Zat Yang Maha Agung.

·           ANALISIS :

Dari definisi dan uraian diatas dapat diungkapkan sejarah merupakan peristiwa yang terjadi dimasa lalu, sekarang dan masa depan yang berawal dari satu peristiwa sehingga muncul beberapa peristiwa lainnya yang diceritakan  secara berurutan baik berupa kemunduran maupun kemajuan, seperti diibaratkan sebuah pohon.

Historiografi  dibuat dengan metode periodesasi yang mana peristiwa-peristiwa yang terjadi masa lampau diceritakan secara berurutan. Contonya pada sejarah Masuknya Kebudayaan Islam di Nusantara yang mana dalam penulisannya melihat dari kapan dan siapa pembawanya, jalur apa yang dilalui, kota yang disinggahi oleh pembawa hingga menyebar diseluruh nusantara, dan seterusnya.

·           KESIMPULAN

Sejarah berasal dari beberapa bahasa yang memiliki persamaan makna, dari bahasa inggris berupa history, dari bahasa Belanda historie dan dari bahasa Arab sajaratun dan tarikh. Sedangkan istilah secara umum merupakan gambaran peristiwa yang telah dicatat/didokumentasikan oleh para ahli sehingga dapat dipelajari dan diketahui oleh semua orang.

Kebudayaan merupakan hasil karya, karsa, cipta manusia baik berupa karya seni, sastra, ukir dan sebagainya. Konsep dari kebudayaan Islam menganut dari Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW.  Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

MASUK DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA DAN JUGA TEORI-TEORI MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

·           Perkembangan Masuknya Islam Di Indonesia Secara Makro :

Agama Islam berasal dari tanah Arab dan dari tanah Arab berkembanglah agama Islam kemana-mana, diantaranya ke Gujarat (India) dan Persia. Demikian pula berangsur-angsur meluas kearah timur hingga Semenanjung Malaka. Mengenai masuknya Islam ke Indonesia tidak diketahui secara pasti.

a.      Teori Mekah

Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilainilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.

b.      Teori Gujarat

Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke-7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda,Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.

c.       Teori Persia

Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitik beratkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi.

Berikut beberapa sumber sejarah yang menjadi bukti masuknya Islam ke Indonesia.

1.         Perkampungan Islam yang terdapat disekitar Selat Malaka pada abad ke-7 dan ke-8

2.         Batu bersurat pada sebuah makam seorang wanita muslim di Leran Gresik Jawa Timur, atas nama Fatimah binti Ma'imun, berangka tahun 475 H (1082 M)

3.         Catatan kisah perjalanan Marcopollo (Musafir Venesia) yang singgah di Perlak Aceh Utara tahun 1292 M

4.         Batu nisan makam Sultan Malik al-Saleh, raja Samodra Pasai yang berangka tahun 1345 M

·           Analisa :

Melihat dari beberapa teori yang telah dikemukakan tentang masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia masih belum bisa dipastikan melalui apa dan dari mana sebenarnya awal mula Islam di Indonesia ini. Dari ke 3 teori yang ada dapat dikemukakan masuknya Islam melalui 3 pandangan yang berbeda, ada yang mengatakan Islam masuk melalui perdagangan, melihat kebudayaan yang sama dengan kebudayaan Persia, dan ada juga yang melihat dari batu nisan yang sama dengan wilayah Arab. Proses masuknya Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan, dan pendidikan

·           Kesimpulan :

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masuk dan berkembangnya islam di Nusantara adalah berdasarkan tiga teori ( teori mekkah, persia dan gujarat) dan melalui tiga proses yaitu pernikahan, perdagangan dan pendidikan. Dan terbukti dengan adanya beberapa perkampungan islam pada abad ke-7, adanya kesamaan budaya indonesia dengan persia dan adanya kemiripan batu nisan yang terdapat di indonesia dan di mekkah.

RUANG LINGKUP KEBUDAYAAN ISLAM DAN KEDUDUKAN MATA KULIAH SPI DALAM KURIKULUM PRODI PAI SECARA MIKRO

·           Ruang Lingkup

Karena Islam lahir di Arab, maka isi dari sejarah kebudayaan Islam membahas tentang riwayat Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu Tuhan.

1.      Sebelum Nabi dilahirakan yakni apa saja yang berkembang menjelang Rasulullah lahir yang dipengaruhi oleh budaya bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih awal maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut melalui beberapa jalur :

a.       Hubungan dagang dengan bangsa lain, seperti bangsa Syiria,Persia, Mesir dan Romawi yang telah mendapat pengaruh Hellenisme ( kebudayaan Yunani dulu yang mempengaruhi perkembangan fikir ).

b.      Melalui kerajaan protektorat, seperti kerajaan Hirah dibawah perlindungan Persia dan kerajaan Ghassa dibawah perlindungan Romawi.

c.       Masuknya misi Yahudi dan Kristen, tapi meski agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke Arab, bangsa Arab kebanyakan masi menganut agama asli mereka yakni menyembah berhala.

2.      Riwayat Rasulullah dilahirkan sampai beliau wafat, yakni sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad dari kelahirannya dalam keadaan yatim menjadi yatim piatu sampai beliau mendapat wahyu dari Tuhan dan berdakwah menyebarkannya hingga beliau wafat.

3.      Kemajuan Islam yang diteruskan oleh para sahabat seperti masa khulafaurrasyidin, bani Umayyah, dan bani Abbasiyah.

4.      Masa disentrigasi yakni adanya dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari kekuasaan bani Abbasiyah.

5.      Masa kemunduran yakni masa dimana adanya persaingan antar bangsa, kemerosotan ekonomi, koflik keagaman dan lain-lain.

6.      Penyebaran Islam di belahan dunia barat dan lainnya, seperti Islam di Spanyol dan pengaruhnya di Eropa, di Asia dan lainnya.

·      Kedudukan SPI dalam Prodi PAI

Mata kuliah ini didesain untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara komprehensif hakikat sejarah kebudayaan Islam di Indonesia dan tujuan umum mempelajari sejarah kebudayaan Islam sebagai nilai dan ajaran Islam yang diambil baik langsung maupun tidak langsung dari sumber Al-Qur’an dan As-Sunnah melalui pemikiran tindakan dan interaksi umat Islam dengan budaya lokal (Indonesia) serta mampu mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa sejarah dan mampu mengkaitkan relevansinya dengan problem dan tantangan kontemporer yang dipahami umat Islam dan kemanusiaan secara global. Serta untuk mempersiapkan mahasiswa para calon pendidikan PAI dalam mata pelajaran SKI agar lebih siap untuk mengajar para siswa-siswa khususnya di lingkungan Madrasah Aliyah.

·         Analisis

Ruang lingkup sejarah kebudayaan Islam diawali ketika Nabi Muhammad SAW hidup- wafat, para sahabat, dinasti Umayyah dan Abasiyyah sampai penyebaran Islam di wilayah Eropa hingga ke seluruh penjuru dunia. Pentingnya mahasiswa jurusan PAI fakultas Tarbiyah UIN MALIKI Malang untuk mempelajari SKI II guna membekali diri tentang pengetahuan sejarah kebudayaan Islam agar lebih siap ketika terjun ke sekolah langsung dalam lingkup Madrasah Aliyah.

·           Kesimpulan

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwasannya mata kuliah SKI II merupakan kurikulum khusus Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang dengan target mempersiapkan mahasiswa untuk lebih siap terjun menjadi pendidik di lingkup madrasah Aliyah.

Ruang lingkup pembelajaran SKI yakni di mulai dari sejarah Nabi Muhammad serta peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa lampau hingga perkembangan islam di seluruh penjuru dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Karim, Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Jogjakarta: Pustaka Book Publisher.

Mubarok, Jaih. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Islamika.

Yatim, Badri. 2005. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Saifullah. 2010. Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.1.

Munir Amin, Samsul. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Wonosobo: PT. Amzah
More aboutHistoriografi, Kebudayaan Islam Dan Perkembangan Masuknya Islam Ke Indonesia

Review Masa Kejayaan Abbasiyah

Posted by Rumah Subsidi Malang



Masa pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kejayaan islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada zaman itu umat islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan baik aqli (rasional) ataupun yang naqli mengalami kemajuan dengan pesatnya. Pada zaman pemerintahan daulah abbasiyah, proses pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara penterjemahan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa-bangsa yunani, romawi, dan Persia, serta sumber dari berbagai naskah yang ada dikawasan timur tengah dan afrika, seperti Mesopotamia dan mesir.
Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalifah ja`far al Mansur, setelah ia mendirikan kota Baghdad (144 H/ 762 M) dan menjadikannya sebagai ibu kota Negara. Ia menarik banyak ulama dan para ahli diberbagai daerah untuk tinggal di Baghdad. Ia merangsang usaha pembukuan ilmu agama seperti fiqh, tafsir, tauhid atau ilmu-ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah. Akan tetapi yang lebih mendapat perhatian adalah penerjemahan ilmu yang berasal dari luar. Namun begitu secara garis besar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncak kejayaan pada masa Harun al Rasyid dan putranya al Makmun.
Di antara banyak ahli yang berperan dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan adalah kelompok Mawali, seperti orang-orang Persia. Pada masa itu, pusat-pusat kajian ilmiah bertempat dimasjid-masjid, misalnya masjid basrah. Di masjid ini terdapat kelompok study yang disebut halaqat al jadl, halaqat al fiqh, halaqat at tafsir wal hadits, halaqat al riyadiyat, halaqat lil syi`ri wal adab, dan lain sebagainya. Banyak orang dari berbagai suku bangsa yang dating kepertemuan itu, dengan demikian berkembanglah kebudayaan dan ilmu pengetahuan dalam islam.


A.    Kemajuan Ilmu Agama Pada Masa Bani Abbas
Dibidang ilmu-ilmu agama, era abbasiyah mencatat dimulainya sistemasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits, dan Fiqh. Khususnya sejak tahun 143 H. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sistematis baik dibidang ilmu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqh.
Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah ibnu juraij (w.150 H) yang menulis kumpulan hadisnya dimekah, Malik Ibn Anas (w.171 H) yang menulis al muwatta` nya di madinah, Al Awza`I di wilayah syam, Ibn Abi Urubah dan Hammad Ibn salamah di Basrah, Ma`mar di Yaman, Sufyan Al Tsauri di kufah, Muhamad Ibn Ishaq (w.175 H) yang menulis buku sejarah (Al Maghazi) Al Layts Ibn Sa`ad (w.175 H) serta Abu Hanifah.
Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari Naqli (Al Quran dan Hadits), yaitu ilmu yang berhubungan dengan agama Islam. Ilmu-ilmu itu diantaranya :
1.    Ilmu Tafsir
Al Quran adalah sumber utama dalam agama islam. oleh karena itu semua perilaku umat islam harus berdasarkan kepadanya, hanya saja tidak semua bangsa Arab memahami arti yang terkandung di dalamnya. Maka bangunlah para sahabat untuk menafsirkan.
Ada dua cara penafsiran, yaitu : yang pertama, tafsir bi al ma`tsur, yaitu penafsiran Al Quran berdasarkan sanad meliputi Al Quran dengan Al Quran, Al Quran dengan AL Hadits. Yang kedua, tafsir bi ar ra`yi, yaitu penafsiran Al Quran dengan mempergunakan akal dengan memperluas pemahaman yang terkandung didalamnya.
Ahli tafsir bi al ma`tsur dipelopori oleh As Subdi (w.127 H), Muqatil bin Sulaiman (w.150 H), dan Muhamad Ishaq. Sedangkan tafsir bi ar ra`yi banyak dipelopori oleh golongan Mu`tazilah. Mereka yang terkenal antara lain Abu Bakar al Asham (w.240 H), Abu Muslim al Asfahani (w.522 H) dan Ibnu Jarwi al Asadi (w.387 H).
2.    Ilmu Hadits
Hadis adalah sumber hukum islam yang kedua setelah Al Quran. Karena kedudukannya itu, maka setiap muslim selalu berusaha untuk menjaga dan melestarikannya. Pada masa Abbasiyah, kegiatan pengkodifikasian/ pembukuan Hadits dilakukan dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Sejarah penulisan hadis-hadis Nabi memunculkan tokoh-tokoh seperti Ibn Juraij, Malik ibn Anas, juga Rabi` ibn Sabib (w.160 H) dan ibn Al Mubarak (w.181 H).
Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga, muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. Di antara tokoh yang menulis musnad, antara lain Ahmad ibn Hanbal, ~Ubaydullah ibn Musa al `Absy al Kufi, Musaddad ibn Musarhad al Basri, Asad ibn Musa al Amawi dan Nu’aim ibn Hammad al Khuza’I, perkembangan penulisan hadits berikutnya, masih pada era Abbasiyah, yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga, muncul ternd baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan Hadits, yaitu munculnya kecenderungan penulisan Hadits yang di dahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan hadits-hadits sahih dari yang dha’if sebagaimana dilakukan oleh al Bukhari (w.256 H), Muslim (w.261 H), Ibn Majah (w.273 H), Abu Dawud (w.275 H), Al Tirmidzi (w.279 H), serta Al Nasa’I (w.303 H), yang karya-karya haditsnya dikenal dengan sebutan kutubu al sittah.
3.    Ilmu Fiqh
Ilmu fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting, dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazhab fiqh hidup pada era tersebut, yaitu Abu Hanifah (w.150 H), Malik ibn Anas (w.179 H), Al Shafi’I (w.204 H), dan Ahmad ibn Hanbal (w.241 H). dari sini memunculkan dua aliran yang berbeda dalam metode pengambilan hukum, yaitu ahli Hadits dan ahli Ra`yi. Ahli hadits dalam pengambilan hukum, metode yang dipakai adalah mengutamakan hadits-hadits nabi sebagai rujukan dalam istinbat al ahkam. Pemuka aliran ini adalah Imam Malik dengan pengikutnya, pengikut imam Syafi’I, pengikut Sufyan, dan pengikut Imam Hanbali. Sedangkan ahli ra’yi adalah aliran yang memepergunakan akal dan fikiran dalam menggali hukum. Pemuka aliran ini adalah Abu Hanifah dan teman-temannya fuqaha dari Iraq.
4.    Ilmu Tasawuf
Ilmu tasawuf yaitu ilmu syariat. Inti ajarannya ialah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan atau menjauhkan diri dari kesenangan dan perhiasan dunia. Dalam sejarahnya sebelum muncul aliran Tasawuf, terlebih dulu muncul aliran Zuhud. Aliran ini muncul pada akhir abad I dan permulaan abad II H, sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar Negara sebagai akibat kejayaan yang diperoleh setelah islam meluas ke Syria, mesir, Mesopotamia, dan Persia.
Aliran zuhud mulai nyata kelihatan di kufah. Sedangkan dibasrah sebagai kota yang tenggelam atas kemewahan, aliran zuhud mengambil corak yang lebih ekstrim. Zahid yang terkenal disini adalah Hasan al Bisri dan Rabi’ah al Adawiyah.
Bersamaan dengan lahirnya ilmu tasawuf muncul pula ahli-ahli dan ulama-ulamanya, antara lain adalah al Qusyairy (w.465 H), kitab beliau yang terkenal adalah ar risalatul Qusy Airiyah; Syahabuddari, yaitu abu Hafas Umar ibn Muhammad Syahabuddari Sahrowardy (w.632 H), kitab karangannya adalah Awwariffu Ma’arif; Imam Ghazali (w.502 H), kitab karangannya antara lain : al Basith, Maqasidul, mFalsafah, al Manqizu Minad Dhalal, Ihya Ulumuddin, Bidajatul Hidayah, Jawahirul Quran, dan lainsebagainya.
5.    Ilmu Bahasa
Pada masa bani Abbasiyah, ilmu bahasa tumbuh dan berkembang dengan suburnya, karena bahasa Arab semakin dewasa dan menjadi bahasa internasional. Ilmu bahasa memerlukan suatu ilmu yang menyeluruh, yang dimaksud ilmu bahasa adalah : nahwu, sharafi, ma’ani, bayan, bad’arudh, qamus, dan insya’.
Di antara ulama yang termasyhur adalah :
a. Sibawaihi (w.153 H).
b. Muaz al Harro (w.187 H), mula-mula membuat tashrif.
c. Al Kasai (w.190 H), pengarang kitab tata bahasa
d. Abu Usman al Maziny (w.249 H), karangannya banyak tentang nahwu.

B.    Kemajuan Filsafat Pada Masa Bani Abbasiyah
Banyak golongan pemikir lahir pada zaman ini, banyak diantara mereka bukan islam dan bukan arab muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya kesusastraan yunani dan hindu, dan ilmu zaman pra islam kepada mmasyarakat Kristen eropa.
Penerjemahan buku-buku yunani adalah salah satu factor dalam gerakan intelektual ytang dibangkitkan dalam dunia islam abad ke 9, dan terus berlanjut sampai abad ke 12. Memang ada juga terjemahan-terjemahan lain, terutama buku-buku india yang sebelumnya diterjemahkan dalam bahasa pahlevi. Tetapi rangsangan awal berasal dari bahasa yunani. Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat yunani yaitu aristoteles terkenal di eropa.
Namun penting untuk memandang pengaruh yunani dalam perspektif yang benar. Setelah kitab-kitab filsafat yunani diterjemahkan kedalam bahasa arab pada masa pemerintahan khalifah Harun al Rasyid dan Al Ma’mun, kaum muslimin sibuk mempelajari ilmu filsafat, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran islam. oleh sebab itu, lahirlah filsafat islam yang akhirnya menjadi bintangnya dunia filsafat.
Bagi orang arab, filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran dalam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu bisa dipahami oleh pikiran manusia secara khusus, nuansa filsafat mereka berasal dari nuansa tradisi filsafat yunani, yang di modifikasi dengan pemikiran para penduduk diwilayah taklukan, serta pengaruh-pengaruh timur lainya, yang disaesuaikan dengan nilai-nilai islam, dan diungkapkan dengan bahasa Arab.
Filosof pertama adalah Al Kindi atau Abu Yusuf Ibn Ishaq, ia memperoleh gelar “filosof bangsa arab”, dan ia memang merupakan representasi pertama dan yang terakhir dari murid Aristoteles di dunia timur yang murni keturunan Arab. System pemikirannya beraliran ekletisisme, namun al Kindi menggunakan pola Neo Platonis untuk menggabungkan pemikiran Plato dan Aristoteles, serta menjadikan matematika Neo Phytagoren sebagai landasan ilmu.
Proyek harmonisasi antara filsafat yunani dengan islam, yang dimulai oleh al Kindi, seorang keturunan Arab, beliau menganut aliran Mu’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Al Nadim dan al Dafthi menyebutkan karangan al Kindi sebanyak 238 buah yang berisi filsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, ilmu politik, optic, ilmu matematika, dan lain sebagainya. Kemudian dilanjutkan oleh al Farabi, seorang keturunan Suriah. Di samping sejumlah komentar terhadap Aristoteles dan filosof yunani lainnya, al Farabi juga menulis berbagai karya tentang psikologi, politik, dan metafisika. Salah satu karya terbaiknya adalah Risalah Fushsush al Hakim (Risalah Mutiara Hikmah) dan Risalah fi Ara Ahl al Madinah al Fadhilah (Risalah tentang pendapat penduduk kota ideal)

C.    Kemajuan Sains Pada Masa Bani Abbasiyah
Kemajuan yang dicapai oleh umat islam di era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama dan filsafat, melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains. Bahkan jika dicermati, kemajuan sains di dunia islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era abbasiyah. Hal ini bisa jadi buah dari kecenderungan bangsa arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzat al atsar al maddi fi hayatihim) di banding buku-buku olah piker (filsafat).
Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahuan masa kini. Dalam bidang matematika misalnya, ada Ibn Muhammad Musa al Khawarizmi, swang pencetus ilmu algebra. Algoritma, salah satu cabang matematika bahkan juga di ambil dari namanya.
Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslimin era abbasiyah yang di dukung langsung oleh khalifah Al Mansur yang juga sering disebut sebagai astronom. Penelitian dibidang astronomi oleh kaum muslimin di mulai pada era Al Mansur ketika Muhamad Ibn Ibrahim al fazari menerjemahkan buku “siddhanta” (yang berarti pengetahuan melalui matahari) dari bahasa sanskerta ke dalam bahasa Arab.
Seorang ahli astronomi lainnya yang terkenal pada masa itu adalah Abu al Abbas Ahmad al Farghani dari Farghana Transoxiana, karya utama al Farghani adalah, al Mudkhil ila Ha ‘ilm Haya’ah Al Aflak diterjemahkan dalam bahasa latin oleh john dari Seville dan Gerard dari Cremona. Dalam versi bahasa Arab, buku itu ditemukan dengan judul yang berbeda. Abu Abdullah Muhammad Ibn Jabir al Battani, seorang sabi’in dari Harran, dan seorang ahli astronomi bangsa saba yang terbesar pada masanya, bahkan yang terbesar pada masa islam, telah melakukan berbagai observes dan kajian raqqah.
Al Battani adalah seorang peneliti kawakan. Ia mengoreksi beberapa kesimpulan ptolemius dalam karya-karyanya, dan memperbaiki perhitungan orbit bulan. Juga beberapa planet, ia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cincin. Menentukan sudut ekliptik bumi dengan tingkat keakuratan yang lebih besar, dan mengemukakan berbagai teori orisinal kemungkinan munculnya bulan baru.
Pada era harun al Rasyid dan al Makmun, sejumlah teori-teori astronomi kuno dari yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada masa era abbasiyah antara lain Al Khawarizmi, Ibn Jabir al Battani (w.929 H), Abu Rayhan al Biruni (w.1048 H), serta Nasir al Din al Tusi (w.1274 H)
Sedangkan ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn al Haytsam atau yang dikenal dibarat dengan sebutan Alhazen. Beliau pula yang mengembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiah melalui eksperimen. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics, Ibn al Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic, serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana.
Di bidang ilmu kimia di era abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jabir ibn Hayyan (atau geber di barat) yang menjadi pioneer ilmu kimia modern. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al Razy yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alcohol. Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke eropa dan Isaac Newton banyak belajar.
Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti Al Kindi yang pertamakali mendemontrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Atau ada juga Al Razi yang menemukan penyakit cacar (smallpox). Al Khawarizmi, Ibnu Sina dan Lain-lain. Disebutkan pula, sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah, bahwa pada zaman khalifah Al Muqtadir Billah (907-932 M/295-390 H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi sebagai dokter.
Di samping itu kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, umat islam era abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi, geografi, arsitektur, dan lainnya yang tidak penulis jelaskan seluruhnya dalam makalah ini. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa sains pada era abbasiyah memang begitu berkembang meskipun mulai periode kedua sudah mulai mengalami kemunduran, khususnya dalam bidang politik dan kekhilafahan.
Era keemasan bani abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia. Salah satu di antaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa cina berhasil dikembangkan oleh umat muslim era abbasiyah, setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari cina yang berhasil di tangkap setelah meletusnya perang talas.
Setelah itu kaum muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid buku untuk membuat buku. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemudian menyebar hingga fez dan akhirnya masuk ke eropa melalui Andalusia pada abad ke 13 M.


Sumber Artkel
Musripah, Susanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta) : Kencana, 2002)
Faksain M Fa`al, Sejarah Kekuasaan Islam, (Jakarta : Artha Rivera,1998)

More aboutReview Masa Kejayaan Abbasiyah

Perkembangan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Posted by Rumah Subsidi Malang

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW status sebagai Rasulullah tidak dapat diganti oleh siapapun (khatami al-anbiya’ wa al-mursalin), tetapi kedudukan beliau yang kedua sebagai pimpinan kaum muslimin harus segera ada gantinya. Orang itulah yang dinamakan “Khalifah” artinya yang menggantikan Nabi menjadi kepala kaum muslimin (pimpinan komunitas Islam) dalam memberikan petunjuk ke jalan yang benar dan melestarikan hukum-hukum Agama Islam. Dialah yang menegakkan keadilan yang selalu berdiri diatas kebenaran.Maka setelah Nabi Muhammad SAW wafat, pemuka-pemuka Islam segera bermusyawarah untuk mencari pengganti Rasulullah SAW.[1]
Khalifah Ar-Rasyidin atau Khulafa'ur Rasyidin adalah empat khalifah pertama dalam tradisi Islam Sunni, sebagai pengganti Muhammad, yang dipandang sebagai pemimpin yang mendapat petunjuk dan patut dicontoh. Mereka semuanya adalah sahabat dekat Nabi Muhammad SAW, dan penerusan kepemimpinan mereka bukan berdasarkan keturunan, suatu hal yang kemudian menjadi ciri-ciri kekhalifahan selanjutnya.[2]
Khilafah Rasyidah merupakan pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang demokratis.[3] keempat khalifah memimpin umat islam masing-masing selama::
1. Abu Bakar Ash-Shidiq ra ( 11-13 H / 632-634 M)
2. Umar bin Khatab ra (13-24 H /634-644 M)
3. Utsman bin Affan ( 24-36 H / 644-656 M )
4. Ali bin Abi Thalib
[1] .......Islam Masa Khulafaur Rasyidin......
[2] Anonim. Khulafaur Rasyidin. dari Wikipedia Bahasa Indonesia.www.wikipedia.co.id/khulafaur rasyidin [3] Yanwar. Sejarah Pemikiran Islam. http://one.indoskripsi.com/category/mata- kuliah/sejarah-pemikiran-islam.
More aboutPerkembangan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

MEMAHAMI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA KHULAFAURRASYIDIN

Posted by Rumah Subsidi Malang

https://www.facebook.com/anharul.ulum/posts/429988317070744 -->
Kopetensi Dasar :
1.      Menceritakan berbagai prestasi yang di peroleh oleh Khulafaurrasyidin.
2.       Mengambil hikmah dari prestasi Khulafaurrasyi dikaitkan  dengan perkembangan kondisi sekarang.
3.      Meneladani gaya kepemimpinan Khulafaurrasyidin.
A.    Pengantar
Sebelum kami memaparkan kompetensi dasar di atas, perlu kita ketahui terlebih dahulu siapakah khulafaurrasyidin, mengapa dinamakan Khulafaurrasyidin, bagaimana perjalanan hidup Khulafaurrasyidin, dan berada dimana kepemimpinan  Khulafaurrasyidin.
Pada saat Nabi Muhammad meninggal, beliau tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik Islam setelah beliau wafat. Beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh muhajirin dan anhsar berkumpul di Balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Mereka musyawarahkan siapa yang akan dipilih  menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik muhajirin maupun anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. namun semangat ukhuwah islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar, terpilih. Rupanya, semangat kegamaan Abu Bakar mendapat penghargaan tinggi dari umat Islam. setelah Abu Bakar meninggal dia kemudian mengangkat Umar  sebagai penggantinya, setelah Umar meninggal dia, tidak menunjuk satu orang untuk menggantikannya tetapi meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantara 6 orang sahabatnya itu. kemudian Utsman ditunjuk oleh masyarakat pada saat itu. Utsman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa kepada kepemimpiannya itu. setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaikat. Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah pada tanggal 20 Ramadhan  40 H. (660). Ali terbunuh oleh salah seorang anggota khawarij. Dengan demikian berakhirla apa yang disebut dengan masa khulafaur Rasyidin dan dimulailah kekuasaan Bani Umayah dalam sejarah politik Islam.

Pengertian
Khalifah Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam
Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi'ah meyakini bahwa Muhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam, mereka merujuk kepada salah satu Hadits Ghadir Khum.
Secara resmi istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah pertama Islam, namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di atas, tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah seorang yang oleh kesepakatan banyak ulama dapat diberi gelar khulafaur rasyidin adalah Umar bin Abdul-Aziz, khalifah Bani Umayyah ke-8.
Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.
Dalam sejarah Islam, sempat orang pengganti nabi yang pertama adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelematkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari nabi bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar “yang mendapat bimbingan di jalan lurus” (Al-Khulafa Ar-Rasyidin) diberikan kepada mereka yaitu:
Abu Bakar As-Shidiq (11-13 M/632-634 M)
Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa at-Tamimi. Di zaman praislam bernama Abdulll Ka’bah, kemudian diganti oleh nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama. Julukannya ialah Abu Bakar (bapak pemuji) karena dari pagi-pagi betul (orang yang paling awal) memeluk Islam. gelarnya as-Shidiq di perolehnya karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama isra’ mi’raj. Nabi seringkali menunjuknya untuk mendampinginya di saat-saat penting atau jika berhalangan, rasul mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-ttgas keagamaan dan atau mengurusi perosalan-persoalan di Madinah.
Pidato Inagurasi yang diucapkan sehari setelah pengangkatannya menegaskan totalitas kepribadian dan komitmen Abu Bakar terhadap nilai-nilai Islam dan strategi menilai keberhasilan tertinggi bagi umat sepeninggal nabi.
Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Masa sesingkat itu ia habiskan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat nabi Muhammad, dengan sendirinya batal setelah nabi wafat. Karena sikap keras kepala dan penentang mereka dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan in dengan cara perang Riddah (perang melawan kemudharatan) Khalid Ibn al-Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam perang Riddah ini. Riddah berarti murtad, beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula, secara politis merupakan pembangkang (Distorition) terhadap lembaga khalifah.
Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap mereka. Mula-mula hal itu dimaskudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali kejalan yang benar, kemudian tindakan kebersihan juga dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang  yang enggan membayar zakat.
Penumpasan terhadap orang-orang murtad dan para pembangkang tersebut terutama setelah mendapat dukungan dari suku Qutafan yang kuat ternyata banyak menyita konsentrasi, khalifah baik secara moral maupun politik. Situasi keamanan negara Madinah menjadi kacau, sehingga banyak sahabat, tidak terkecuali Umar yang dikenal keras, menganjurkan bahwa dalam keadaan yang begitu kritis lelah baik kalau mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap ini khalifah menjawab dengan marah.
Selama peperangan Riddah, banyak dari (penghafal Al-Qur’an) yang tewas. Karena orang-orang ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka kematian itu, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu, menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an kemudian ia memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari khalifah Abu Bakar.
Sesudah memulihkan ketertiban di dalam negeri. Abu Bakar lalu mengalihkan perhatiannya untuk memperkuat perbatasan dengan Persia dan Byzantium, yang akhirnya menjurus kepada serangkaian peperangan kedua kekaisaran itu.
Tentara Islam dibawah pimpinan Musanna dan Khalid ibn Wali dikirim ke Irak dan menaklukkan Hirah; sedangkan ke Suriah, Abu Bakar mengutus empat panglima, yaitu Abu Ubaidah, Yazid Ibn Abi Sufyah, Amr Ibn As dan Syutahbil.
Ekspedisi ke Suriah ini memang sangat besar artinya dalam konstalasi politik umat Islam, karena daerah protektorat itu merupakan front terdepan wilayah kekuasaan Islam dengan Ramawi timur. Faktor penting lainnya dari pengiriman pasukan besar-besaran ke Suriah ini sekaligus dimpimpin oleh empat panglima adalah karena umat Islam memandang suriah sebagai bagian integral  dari semenanjung Arab.
Umar Ibn Khattab (13-23 H/633-644 M)
Ia bernama Umar Ibn Khattab  ibn Nufail keturunan Abdul ‘Uzza Alquraisy dari suku Adi, salah satu suku yang terpandang muka, ia dilahirkan di Mekkah empat tahun sebelum kelahiran nabi saw. dia adalah seorang yang berbudi luhur,  fasih dan adil serta pemberani ia ikut memelihara ternak ayahnya, dan berdagang hingga ke Syria ia juga dipercaya oleh suku bangsanya, Quraisy untuk berunding dan mewakilinya bila ada persoalan dengan suku-suku lain. Umar masuk Islam pada tahun kelima setelah kenabian dan menjadi salah satu sahabat terdekat nabi saw. ia berkorban untuk melindungi nabi saw. dan agma silam. Dan ikut berperang dalam peperangan yang besar dimasa rasul saw. serta dijadikan sebagai tempat rujukan oleh nabi mengenai hal-hal penting. Ia dapat memecahkan masalah  yang rumit tentang siapa yang berhak mengganti Rasulullah dalam memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah saw sebelum Abu Bakar meninggal dunia ia telah menunjuk Umar Ibn Khattab menjadi penerusnya. Dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadi perselisihan dan perpecahan dikalangan umat Islam. kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera membaiat Umar. Umar menyebut dirinya khalifah khalifati Rasulullah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al- Mu’min (Komandan daerah kekuasaan).
Dizaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi, Ibu kota Syria, Damaskus, jaruh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Byazantium kalah dipertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam.
Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi negara dengan mencontoh adminstrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi; Mekkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Pada masanya mulai diatur dan ditertibtkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun Hijriah.
Khalifah Umar juga meletakkan prinsip-prinsip demokratis dalam pemerintahannya dengan membangun jaringan pemerintahan sipil yang paripurna- kekuasaan Umar membangun jaringan pemerintahan sipil yang paripurna. Kekuasaan Umar menjamin hak yang sama bagi setiap warga negara.
Umar dikenal bukan saja pandai menciptakan peraturan-peraturan baru dua juga memperbaiki dan mengkaji ulang terhadap kebijaksanaan yang telah ada jika itu diperlukan oleh panggilan zaman demi tercapainya kemaslahatan umat Islam.
Masa jabatannya berakhir  dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak Persia bernama Feror atau Abu Lu’lah. Untuk menentukan penggantinya. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah, enam orang tersebut adalah Utsman, ah-talhah, Zubair, Sa’ad ibn Ali Waqas dan Aburrahman ibn Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali bin Abi Thalib.
Utsman Ibn Affan (23-36 H/644-656 M)
Nama lengkapnya ialah Utsman Ibn Affan Ibn Abdil As Ibn Umaiyah dari Puak Quraisy. Ia memeluk Islam lantaran ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat nabi saw ia sangat kaya dan menjadi salah seorang sahabat dekat nabi ia sangat kaya tetapi berlaku sederhana dan sebagian besar kekayaannya digunakan  untuk kejayaan Islam. ia mendapat julukan zul nurain, karena mengawini putri kedua putri nabi saw ia juga merasakan penderitaan yang disebabkan oleh tekanan kaum Quraisy terhadap muslimin di Mekkah, dan ikut hijrah ke Abesinia beserta isinya ia menyumbang 950 ekor dan 50 bagol serta 1000 dirham dalam ekspedisi untuk melawn Byzantium diperbatasan Palestina. Ia juga membeli mata air orang-orang Romawi yang terkenal dengan harga 20.000 dirham untuk diwakafkan bagi kepentingan umat Islam, dan pernah meriwayatkan hadits kurang lebih 150 hadits.
Masa pemerintahan beliau adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman khulafaurasyidin, yaitu 12 tahun, tetapi sejarah mencatat tidak seluruh masa kekuasaannya menjadi saat yang baik dan sukses baginya. Para pencatat sejarah membagi zaman  pemerintahannya Ustman menjadi dua periode, ialah 6 tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik, dan 6 tahun terakhir merupakan masa pemerintahan yang buruk.
Selama paruh pertama masa pemerintahannya, Utsman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. daerah-daerah startegis yang sudah dikuasai Islam seperti mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangakaian ekspedisi militer yang terencakan secara cermat dan simultan disemua front.
Karya besar Utsman lainnya dipersembahkan kepada umat Islam ialah susunan kitab suci Al-Qur’an. Penyusunan Al-Qur’an dimaksudkan untuk mengakhiri perbedaan perbedaan serius dalam bacaan Al-Qur’an. Ketua dewan penyusunan Al-Qur’an ialah Zaid bin Tsabit, yang mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an antara lain ialah dari Hafsah, salah seorang isteri nabi saw kemudian dewan itu membuat beberapa salinan naskah Al-Qur’an untuk dikirimkan ke wilayah-wilayah Gubernuran sebagai pedoman yang benar untuk masa selanjutnya.
Pada paroh terakhir masa kekuasaanya, khalifah Utsman menghadapi berbagai pemberontakan dan pembangkangan dalam negeri yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap tabiat khalifah dan beberapa kebijaksanaan pemerintahannya.
Kelemahan dan nepotisme telah membawa khalifah ke puncak kebencian rakyat, yang pada beberapa waktu kemudian meletus pertikaiaan yang mengerikan dikalangan umat Islam.
Situasi politik diakhir masa pemerintahan Utsman semakin mencekam.  Bahkan pun usaha-usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan kuat untuk kemaslahatan umat disalah fahami dan melahirkan perlawanan dan masyarakat. Lawan-lawannya menuduh bahwa Utsman sama sekali tidak mempunyai otoritas untuk menetapkan edisi Al-Qur’an yang dibukukan itu.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegiatan yang penting. Utsman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid nabi Madinah
Ali Bin Abi Thalib (34-41 H/656-661 M)
Ali adalah putra Abi Thalib. Ia adalah sepupu nabi saw yang telah ikut bersamanya. Sejak bahaya kelaparan mengancam kota Makkah, demi untuk keluarga pamannya yang mempunyai banyak putra, Abbas, paman nabi yang lain membantu Abu Thalib dengan memelihara Ja’far, anak Abu Thalib  yang lain, ia telah masuk Islam dalam waktu yang masih berada pada umur sangat muda. ketika nabi menerima wahyu yang pertama, menurut Hassan, Ali, berumur 13 tahun, atau 9 tahun menurut Mahmudunasir. Ia menemani nabi dalam perjuangan menegakkan Islam baik di Mekkah maupun di Madinah. Dan ia diambiil menantu oleh nabi saw karena kesibukannya merawat dan memakamkan jenazah Rasulullah saw ia tidak berkesempatan membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, tetapi ia beru membaiatnya setelah Fatimah wafat.
Beberapa hari setelah pembunuhan Utsman, stabilitas keamanan kota Madinah menjadi rawan. Gafiqy ibn Harb memegang keamanan ibu kota Islam itu selama kira-kira Lima hari sampai terpilihnya khalifah yang baru. Kemudian Ali juga segera menurunkan semua gubernur yang tidak disenangi rakyat. Umar Ibn Hanif diangkat menjadi penguasa Basrah menggantikan Ibnu Amir, Dais dikirim ke Mesir untuk menggantikan gubernur negeri itu yang dijabat oleh Abdullah.  Gubernur Syria, Muawiah  juga diminta meletakkan jabatan, tetapi ia menolak perintah Ali, bahkan ia tidak mengakui kekhalifahannya.
Oposisi terhadap khalifah secara terang-terangan dimulai oleh Aisyah Ialhah dan Zubair. Sehubungan dengan penentangan terhadap Ali. Mereka sepakat menuntut khalifah segera menghukum para pembunuh Ustman. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Talha dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyeleasikan perkara itu secara damai, namun ajakan itu ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun berkobar. Yang diknal dengan nama “perang jamal” (unta) karena  Aisyah pada waktu itu menunggang unta. Ali berhasil mengalahkan lawnnya. Zubair dan Talhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah di kembalikan ke Madinah
Kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah yang di dukung oleh sejumlah bekas jajahan tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Memaksa khalifah Ali  untuk bertindak. Pertempuran terjadi di kota tua Siffin dekat sungai Euphrat pada tahun 37 H. perang ini diakhiri dengan Tahkim (arbitrase), tetapi Tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ke tiga, al khawarij. Orang-orang yang keluar dari barisan Ali akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali Ibn Abi Thalib, umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik yaitu mu’awiyah, syiah (pengikut) Ali, semakin lemah sementara posisi mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 Ramadhan  40 H. (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota khawarij.
Kedudukan Ali  sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena  Hasan ternyata lemah, sementara muawiyah ini menyebabkan mu’awiyah menjadi penguasa absolut dalam Islam, tahun 41 H. (66 M) di kenal dalam sejarah sebagai tahun am jam’ah.
B.     Prestasi Khulafaurrasidin
Khulafaurrasyidin memiliki pengertian orang-orang yang terpilih dan mendapat
petunjuk menjadi pengganti Nabi Muhammad SAW setelah beliau wafat tetapi bukan sebagai nabi atau pun rasul. Khulafaurrasyidin berasal dari kata khalifah yang artinya pengganti dan Ar rasidin yang artinya orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Pedoman yang dijadikan pegangan untuk memimpin islam adalah Al-Quran dan Sunah Al-Hadist.
Setelah kekhalifahan khulafaur rasyidin berakhir maka sistem khalifah diganti sistem kerajaan islam oleh bani ummayah. Khulafaur Rasyidin memiliki empat / 4 khalifah, yaitu :
1. Abu Bakar Siddik
- Masa Pemerintahan : 11 - 13 Hijriah / 632 - 634 Masehi
- Abu bakar sidik adalah orang yang pertama kali memeluk islam di luar keluarga / rumah tangga Rasulullah.
- Prestasi Abu bakar sidik :
---> Memperluas daerah islam
---> Menghadapi orang murtad dan orang yang tidak membayar zakat
---> Memberantas orang-orang yang menganggapnya beliau sebagai nabi
---> Mengumpulkan ayat-ayat suci alquran yang disalin menjadi mushaf
2. Umar Bin Khattab
- Masa Pemerintahan : 13 - 23 H / 634 - 644 M
- Termasuk orang yang pertama masuk islam / Assabiquunal Awwaluun
- Meninggal dibunuh Abu Luk-luk dan Persia dan Yahudi
- Prestasi Umar bin Khatab
---> Perluasan daerah kekuasaan islam
---> Membangun pemerintahan islam
---> Mengumpulkan tulisan-tulisan ayat suci Al-Qur'an yang tersebar
3. Utsman bin Affan
- Masa Pemerintahan : 23 - 35 H / 644 - 656 M
- Julukan : Dzunnurain Walhijratain = Memiliki dua cahaya dan dua kali hijrah ke Habsy dan Madinah.
- Prestasi Usman bin Afan :
---> Memperluas daerah kekuasaan islam
---> Membangun angkatan laut
---> Penulisan ayat-ayat suci Al-Quran
4. Ali bin Abi Thalib
- Masa Pemerintahan : 36 - 41 H / 656 - 661 M
- Sebutan lainnya adalah Sayyidina Ali
- Saudara Sepupu Nabi Muhammad SAW
- Prestasi Ali bin Abi Tholib :
---> Membasmi pembangkang kekhalifahan
C.     Kisah Kepemimpinan Khulafaurrasyidin
A. Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq
1. Musyawarah
Apabila terjadi suatu perkara Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq mencari hukumnya dalam kitab Allah, bila tidak memperolehnya, ia mempelajari bagaimana Rosulullah SAW bertindak dalam perkara seperti ini. Dan bila ia tidak menemukannya, ia mengajak tokoh-tokoh yang terbaik untuk bermusyawarah.
2. Sikap Tegas
Bersikap tegas dalam menghadapi orang-orang yang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan orang-orang yang tidak membayar zakat.
3. Terbuka untuk kritik
Hal ini dapat terlihat sebagaimana dalam khutbah pertama setelah beliau dibaiat menjadi khalifah “Apabila aku berbuat baik, bantulah aku; tapi apabila aku berbuat buruk, maka luruskanlah jalanku”.
B. Khalifah Umar bin Khattab
1. Dekat dan memerhatikan dengan seksama kondisi kehidupan umat.
Menjadi kebiasaannya keluar di malam hari hanya untuk mengetahui persis keadaan umat. Khalifah Umar sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk me¬ngetahui kehidupan rakyat terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri ia memikul gandum yang hendak di¬berikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang dita¬ngisi oleh anak-anaknya yang kelaparan. Ketika mengetahui keadaan si ibu dan anak yang sudah kelaparan, Khalifah Umar merasa bahwa kelaparan yang dialami oleh keluarga miskin tersebut adalah disebabkan karena kelalaiannya dan ketidakmampuannya memberikan keadilan terhadap semua lapisan masyarakat, oleh karena itu, langkah pertama yang beliau lakukan adalah menyelesaikan masalah yang dialami oleh sang ibu dengan memberikan makanan kepadanya.
Kualitas kepemimpinan Umar bin Khatthab adalah cermin dari kualitas pemimpin umat yang bijak, arif, dan adil. Beliau ikut merasakan penderitaan rakyatnya.
2. Memiliki jiwa yang besar dalam menerima kritikan dari rakyat yang dipimpinnya.
Keikhlasan menerima kritikan adalah sebuah sikap yang sangat sulit untuk diwujudkan terlepas dari posisi sosialnya. Pernah pada suatu peristiwa Salman al Farisi membuat perhitungan dengan Khalifah Umar bin Khattab di hadapan orang banyak, yaitu ketika ia melihat Umar mengenakan baju yang bahannya terdiri atas dua kali lipat yang menjadi bagian satu orang rakyat biasa dari bahan yang sama. Maka, Umar meminta kepada putranya, Abdullah agar menjelaskan hal itu. Abdullah langsung bersaksi bahwa ia telah memberikan bagiannya itu kepada ayahandanya.
3. Khalifah Utsman bin Affan
1. Khalifah Utsman bin Affan terkenal dermawan. Sifat-sifat kedermawanan yang dimiliki Utsman sebelum menjadi khalifah masih terbawa ketika dia menjadi khalifah.
2. Khalifah Utsman bin Affan bertindak profesional dalam mengangkat wali-wali negeri untuk memperkuat wilayah kekuasaannya melalui personal yang telah jelas dikenal baik karakteristiknya, hal ini mengingat wilayah kekhilafahan pada masa Khalifah Utsman bin Affan semakin luas. Demikian juga tanggungjawab dakwah dimasing-masing wilayah tersebut.
4. Khalifah Ali bin Abi Thalib
Khalifah Ali bin Abi Thalib terkenal berani dan tegas dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya menegakkan keadilan, menjalankan undang-undang Allah SWT, dan menindak segala macam kezaliman dan kejahatan. Sehingga sesudah ia dibai’ah menjadi khalifah, dikeluarkannya dua ketetapan:
a. Memecat kepala-kepala daerah yang diangkat Khalifah Utsman dan mengangkat pengganti pilihannya sendiri
b. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan khalifah Utsman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Utsman kepada siapapun yang tiada beralasan diambil Ali kembali.
Khalifah Ali bin Abi Thalib juga seorang yang memiliki kecakapan dalam ilmu pengetahuan, bidang militer dan strategi perang. Reproduksi Sejarah Meneladani artinya mengambil atau mencontoh perbuatan, kelakuan, dan sifat yang baik yang terdapat pada diri seseorang. Gaya kepemimpinan artinya cara memimpin. Meneladani gaya kepemimpinan Khulafaurrasyidin artinya mangambil atau mencontoh cara-cara memimpin yang baik yang pernah dilakukan Khulafaurrasyidin dalam memimpin rakyatnya Setiap gerak gerik dan tingkah laku Khulafaurrasyidin sudah seharusnya menjadi tauladan bagi kita umat Islam. Dan akan sangat menarik apabila kualitas karakter kepemimpinan Khulafaurrasyidin ini bisa kita transfer kepada pemimpin kita yang barada di bumi Indonesia ini. Gaya kepemimpinan Khulafaurrasyidin yang tegas namun penuh dengan kasih sayang, rasa tanggungjawab yang besar, terbuka untuk kritik adalah mutiara yang patut kita ambil hikmah.
Rasa tanggungjawab ini adalah sebuah sikap yang sangat perlu dimiliki oleh pemimpin kita di Indonesia dalam usaha mengentaskan kemiskinan dan mencerdaskan masyarakat. Bupati misalnya, harus bertanggung jawab terhadap terbebasnya kemiskinan dan kebodohan di wilayahnya, Begitu juga dengan Wali Kota, bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Gubernur, sebagai pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi di wilayah propinsi harus bertanggung jawab terhadap apa yang dialami oleh rakyatnya.
Para pamimpin kita dalam melakukan perubahan dan perbaikan ekonomi, membenahi pendidikan dan sektor lainnya harus dilakukan sesegera mungkin sehingga masalah tidak semakin menumpuk. Pemimpin di Indonesia perlu bahu-membahu dengan berbagai pihak untuk memberikan solusi aktif dalam menyelesaikan masalah apapun ketika bermunculan kepermukaan.
Hal selanjutnya yang perlu sama-sama kita perhatikan adalah, bersedikah kita termasuk para pemimpin kita sekarang ini, baik yang berlevel gubernur, wali kota, bupati dan pemimpin di bidang lainnya rela menerima kritikan dari bawahannya? Mampukah para pemimpin kita tersebut mengambil pelajaran dari kritikan yang mereka terima? Kritikan itu ibarat pil pahit, yang memang rasanya terasa amat pahit, namun bisa menyembuhkan, kritikan juga bisa kita misalkan sebuah rem di kendaraan, dimana rem tersebut akan mampu menyelamatkan sopir dari kecelakaan. Oleh karena itu hendaklah pemimpin kita di Indonesia ini ikhlas menerima kritikan dalam bentuk apapun sehingga kritikan tersebut bisa menjadi koreksi dan acuan bagi pemimpin dan akhirnya mampu meningkatkan kinerjanya. Memecat gubernur yang diangkat khalifah sebelumnya.
D. Latihan Soal
I. Berilah tanda silang ( X ) pada huruf a, b, c atau d di depan jawaban yang paling benar !
1.      Pemerintah setelah wafat Nabi Muhammad  disebut …………..
a. Khalifah Umar b. Khulafaurrosyidin                  c. Khilafah        d. Khalifah Umayah
   2.   Khulafaur Rosyidin berasal dari bahasa ………..
         a.  Urdu               b. Melayu                     c. Arab             d. Rumawi
   3.   Ar-Rasyid artinya …………….
         a. dermawan        b. bijaksana                  c. cerdas          d. adil
   4.   Khalifah pertama setelah Rasulullah diangkat karena …$E2��………
         a. dipilih umat      b. ditunjuk Rasululloh                c. mengangkat dirinya     d. keturunan Nabi
   5.   Menjadi Kholifah merupakan amanah dari …………..
         a. umat islam        b. keluarga nabi            c. Allah SWT   d. Rasululloh
   6.   Tantangan yang harus dislesaikan Khalifah pertama adalah ……..
         a. Mengumpulkan Al-Qur’an       c. Adanya Nabi palsu, Murtad dan ingkar membayar zakat
         b. Mendirikan Baitul Mal.            d. Peperangan dengan orang kafir
   7.   Yang tidak bisa digantikan Khulafaur Rasyidin dari Nabi Muhammad adalah ……………
         a. Kerasulan        b. Kepala Negara         c. Kepala Pemerintahan    d. Kepala Suku Quraisy
   8.   Sifat utama seorang Khalifah adalah ………..
         a. dari keluarga bangsawan                      c. berharta dan Dermawan
         b. berkaturunan mulia                               d. beriman dan bertaqwa
   9.   Abu Bakar lahir di Kota ………
         a. Madinah          b. Makkah                   c. Syam                        d. Tabuk
  10.  Kata Abu pada nama Abu Bakar berarti ……….
         a. Kakak             b.Kakek                       c. Paman                      d. Ayah
II. Isilah titik di bawah ini dengan jawaban yang benar !
  1. Seluruh Khulafaur Rasyidin berjumlah ……….
  2. Gelar as-Sidiq karena Abu Bakar mempercayai peristiwa ………..
  3. Perang Riddah adalah melawan para pembangkang membayar zakat dan ………
  4. Kebijakan Abu Bakar terhadap kaum murtad kembali memeluk islam atau ………
  5. Surat yang dibaca ketika Umar masuk Islam adalah ………
III. Jawablah pertanyaan berikut dengan jawaban yang sesuai !
  1. Sebutkan 4 lembaga yang dibuat oleh Khalifah Umar bin Khatab ?
  2. Apakah yang dimaksud dengan tahun Hijriyah ?
  3. Sebutkan nabi palsu pada masa Khalifah Abu Bakar !
  4. Jelaskan mengapa setelah Rasululloh wafat banyak yang murtad !
  5. Berilah contoh perbuatan Umar bin Khatab yang menunjukan kepeduliannya kepada Rakyat !



KUNCI JAWABAN SKI KELAS VI SMT GANJIL
TAHUN PELAJARAN 2008 – 2009
I.
1.B  2.C  3.B  4.A 5.C  6.C  7.A  8.D  9.B  10.D
II.
  1. 4 orang            
  2. Isra’ Mi’raj                  
  3.  Nabi palsu             &bsp;   &nbbsp;
  4. diperangi                     
  5. Thaha                          
III.
1.    a. Baitul Mal
b.Lembaga pendidikan
c. Lembaga Kepolisian
d. Gubernur
      2. Tahun yang perhitungannya didasarkan pada perputaran Bulan mengelilingi Bumi, yang  
             Diawali ketika pertama kali Nabi Hijrah ke Madinah.
      3. Musailimah Al- Khazab, Al- Aswad Al- Ansi, Thulaihah bin Khuwalid, Khaus bin Ali   
             Yagust
4.  Kebijaksanaan Guru
       5. Dengan mendirikan Baitul Mal, dengan mendirikan lembaga pendidikan
More aboutMEMAHAMI SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA KHULAFAURRASYIDIN