OBSEVASI PARA MAHASISWA

Posted by anharul ulum

BAB I
 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi negara Indonesia beberapa tahun terakhir ini sangat memperihatinkan. Begitu banyak permasalahan yang menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia. Bermula dari krisis moneter, anjlognya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyebabkan munculnya krisis ekonomi. Sektor-sektor perekonomian yang banyak tergantung pada bahan baku import menjadi collapse. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Negara tetangga, Malaysia dan Thailand, juga mengalami hal serupa, bahkan terjadi lebih awal. Namun perlahan-lahan mereka dapat mengatasinya karena politik negara stabil.
            Beda halnya dengan Indonesia, krisis ekonomi yang terjadi diikuti dengan situasi politik internal yang sedang bergejolak semakin memporak-porandakan kehidupan masyarakat. Terlalu banyak agenda pemerintah, yang masing-masing menuntut untuk segera diselesaikan, namun kemampuan pemerintah tampak kurang memadai. Akibatnya hingga sekarang pemulihan perekonomian tak kunjung tiba yang berakibat pada kian merosotnya daya beli masyarakat. Badai krisis yang tak kunjung padam ini menyebabkan PHK secara besar-besaran.
            Kesulitan pemerintah Indonesia dalam menghadapi sejumlah persoalan krisis ini menyebabkan kurangnya perhatian terhadap masyarakat. Keadaan krisis ini diberitakan meningkatkan jumlah orang miskin hingga mencapai 80 juta orang di Indonesia. Semakin banyak jumlah anak usia sekolah dasar yang terlihat baik di jalanan atau di pasar tradisional pada waktu sekolah,  menunjukkan bahwa mereka tidak menghadiri sekolah lagi. Mereka ada yang berlaku sebagai pengamen, pengemis dan juga tenaga kasar di pasar.
Tampaknya, dengan semakin merajalelanya jumlah pengemis di Indonesia menjadikan mereka tidak hanya memanfaatkan pasar atau tempat-tempat keramain saja sebagai lahan untuk mencari nafkah. Bahkan di kampus-kampus yang fungsi dasarnya sebagai tempat menuntut ilmupun kini tidak pernah sepi darinya. Begitu juga dengan apa yang bisa kita lihat di Universitas Islam Negeri Malang. Setiap hari, kita bisa menyaksikan keberadaanya di sepanjang pintu masuk kampus.
Ada satu hal yang menarik dari fenomena ini. Yaitu apabila kita mau mengamatinya, ternyata pengemis yang “mangkal” di UIN Malang adalah orang yang sama dari hari ke hari. Entah karena faktor apa, sehingga menjadikan pengemis-pengemis itu merasa betah untuk mencari nafkah di kampus kita. Asumsi saya, hal ini sangatlah berkaitan dengan respon sosial mahasiswa terhadap mereka. Sehingga, saya memilih tema ini sebagai bahan observasi.

B. Rumusan Masalah
            Untuk memfokuskan permasalahan-permasalahan pada observasi ini kami susun beberapa rumusan masalah yaitu :
1.      Bagaimana respon sosial mahasiswa UIN terhadap pengemis?
2.      Bagaimana pengaruh keberadaan kampus terhadap penghasilan pengemis?
3.      Apa dampak tersebarnya pengemis di lingkungan kampus terhadap pribadi mahasiswa dan dari segi keindahan ?





    C. Tujuan
            Adapun tujuan dari observasi ini antara lain :
1.      Untuk mengidentifikasi seberapa besar respon sosial mahasiswa terhadap pengemis
2.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh keberadaan kampus terhadap penghasilan pengemis
3.      Untuk mengetahui lebih terperinci lagi dampak yang terjadi akibat tersebarnya pengemis di sekitar kampus terhadap pribadi mahasisiwa maupun keindahan kampus  




















BAB II
REVIEW TEORI IBD

A. Pengertian keindahan
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mepunyai sifat indah adalah yang mempunyai hasil seni. Setiap manusia memiliki kecendrungan untuk menghadirkan keindahan dalam hidupnya. Itu dapat kita amati dalam kehidupan kita sehari-hari. Pakaian yang kita dapati, penataan interior dan eksterior rumah rumah kita, tempat kerja kita, sampul ilmiah buku sastra, juga bacaan pop, segala jenis majalah, kampus, tempat ibadah, tempat rekreasi, semuanya ditata dengan keindahan.
Keindahan bagi manusia merupakan sesuatu yang sangat penting, yang menunjukan bahwa manusia itu memiliki perasaan yang halus, lembut, serta menghargai kualitas. Ada keindahan dalam arti luas dan ada pula keindahan dalam arti sempit, ada pula keindahan dalam arti estetik murni, kontemplasi, ekstese, nilai estetis karya seni dan lain-lain. Keindahan dalam arti luas mengandung arti kebaikan. Plato menyebutnya sebagai watak yang indah dan hokum yang indah. Sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang juga menyenangkan.
Pengertian keindahan dalam arti estetik murni adalah pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan sesuatu yang diserapnya. Adapun pengertian keindahan dalam arti terbatas, hanya benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yaitu berupa keindahan bentuk dan warna. Keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai, seperti halnya nilai moral, nilai pendidikan dan sebagainya. Nilai yang tercakup dalam pengertian keindahan yang disebut nilai estetis. Para filosof mendefinikan keindahan sebagai suatu kesatuan hubungan yang formal pengamatan yang menimbulkan rasa senang.
B. Sifat-sifat keindahan
Untuk mengatakan sesuatu itu indah atau tidak, berikiut ini akan diungkapkan sifat-sifat keindahan. Atas dasar sifat ini, juga akan dikemukakan beberapa tanggapan mengenai keindahan.
1. keindahan itu kebenaran
Kebenaran artinya bukan tiruan, nyata, sebenarnya. Oleh karena itu, lukisan Monalisa tiadk indah karena pada dasarnya tidak benar. Mana yang indah gadis cantik atau lukisan gadis cantik itu.
2. keindahan itu abadi
Abadi artinya tidak pernah dilupakan, tidak pernah hilang dan susut. Contohnya : Karya musik Iwan Fals hingga kini masih banyak yang suka menyanyikan lagunya, karana indah. Dan menurut Jons Keats menyatakan bahwa sesuatu yang indah adalah abadi, sedangkan yang tidak abadi itu tidak indah.
3. Keindahan itu mempunyai daya tarik
Daya tarik artinya memikat perhatian orang lain, menyenangkan dan tidak mebosankan. Misalnya. Desi ratnasari menyenangkan orang lain karana dia mempunyai daya tarik tersendiri, sehingga menuirut Jons Keats keindahan itu selain abadi juga mempunyai daya tarik yang selalu bertambah.
4. Keindahan itu universal
Universal artinya tidak terikat dengan selera perseorangan, waktu dan tempat.
5. Keindahan itu wajar
Wajar artinya tidak berlebihan dan tidak pula kurang atau menurut apa adanya. Misalnya, foto berwarna yang dicetak lebih indah daripada warna aslnya, justru tidak indah karena berlebih-lebihan. Penyanyi yang berteriak-teriak dan berjingkrak-jingkrak ketika membawakan sebuah lagunya sehingga melebihi kewajaran, justru tidak indah.
6. Keindahan itu kenikmatan
Kenikmatan artinya kesenangan yang meberikan kepuasan. Menonton film atau pertunjukan tari-tarian yang tidak menyenangkan dikataka tidak indah. Apabila pencipta suatu karya seni memperoleh kenikmatan atau kepuasan apabila karyanya itu dikatakan indah. Contohnya : Cintaku di Kampus Biru oleh Ashadi Siregar menyebabkan si pengarang merasa puas karena keindahan karyanya.
7. keindahan dan kebiasaan
Kebiasaan artinya dilakukan berulang-ulang. Yang tidak bisa menjadi biasa karena dilakukan berulang-ulang. Yang tidak biasa tidak indah namun karena dilakukan berulang-berulang sehingga menjadi biasa dan indah. Contohnya : merokok, meroko itu tidak enak, bahkan merusak. Akan tetapi karena sering dilakukan maka menjadi indah.

C. Manusia, keindahan dan yang mendorong manusia menciptakan keindahan
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Oleh karena itu akal dan budi manusia ini memiliki kehendak dan keinginan. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal budi, sedangkan kehendak keinginan pada hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itupun bersifat demikian, jumlah tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan yang memuaskan hatinya.
Persepsi keindahan yang muncul dari akal dan budi dapatlah disebut sebagai keindahan dalam arti yang sebenarnya, sedangkan keindahan yang muncul dari dorongan nafsu merupakan keindahan semu.
D. Pengertian dan hakikat cinta kasih
Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsure karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih dan kemesraan, belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan, dan kedamaian antara sesama manusia, manusia dengan lingkungannya dan antara manusia dengan Tuhan.
Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan, kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan dan kebahagian.
Dalam kehidupan manusia, cinta kasih menampakan diri dalam berbagai bentuk, dari seseorang yang mencitai dirinya, istrinya, anak-anaknya, hartanya dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia, potensi dan frekuensi berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Apabila cinta seseorang telah tumbuh berarti orang itu mengandung hikmah yang menuntun dirinya kepada kebenaran, kebajikan dan pengorbanan.

E. Macam-macam cinta kasih
1. Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia yang paling benung, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah SWT dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian dan doa’nya saja tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkan kehidupannya dan menundukan semua bentuk kecintaan lainnya.
Cinta ini juga akan membuatnya menjadi seseorang yang cinta kepada sesame manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta. Karena dalam pandangannya semua wujud yang ada disekelilingnya mempunyai manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan krinduan-keriduan spiritualnya dan harapan qalbunya.
2. Cinta kepada rasul
Cinta kepada rasul yang diutus Allah sebagai rahamat bagi seluruh alam semesta, untuk memberi petunjuk dan membersihkan hati manusia. Cinta kepada rasul adalah cinta kedua setelah Allah, karena rasulullah merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral maupun berbagai sifat luhur lainnya. Maka kita wajib mengikuti tauladan rasul dan menjauhi larangannya.
3. Cinta kepada orang tua
Tuhan mentakdirkan cinta kasih dan kasih saying kepada anak sebagai bagian sifat kemanusiaan yang dibawa sejak lahir. Tuhan juga menanamkan perasaan yang agung tersebut sedemikian kuatnya dalam sanubaru orang tuanya. Atas dasar inilah maka semua perintah dan kewajiban yang diberian Tuhan ditunjukan kepada anak agar anak memperlakukan orang tuanya dngan penuh kasih saying dan hormat. Perintah ini merupakan perintah yang teramat mulia karena menyadarkan kepada manusia bahwa hubungan famili, perasaan kasih sayaan dan hormat kepada orang tua memberikan makna yang dalam akan kehadiran manusia di dunia.
4. Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya denga dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya dan mengaktualisasikan diri. Ia juga mencintai segala sesuatu yang menatangkan kebaikan, ketentraman dan kebahagian pada dirinya. Al-qur’an telah menjelaskan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecendrungan untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagib dirinya. Diantara gejala lain yang menunjukan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah permohonan yang terus-menerus agar dikarunia harta, kesehatan dan kebahagian hidup di dunia.
5. Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup denga penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak dia harus membatasi cintanya pada dirinya sendiri dan egoismenya. Juga hendaknya menyeimbangkan cintanya itu dengan denga cinta dan kasih saying kepada orang lain, bekerja sama denga memberikan bantuan kepada orang lain.
Secara sederhan cinta bisa dikatakan sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk. Rasa simpati ini tidak hanya berkembang diantara pria dan wanita saja akan tetapi bisa juga antara pria dengan pria dan wanita dengan wanita

F. Kasih sayang
Kasih sayang bisa diartikan pula sebagai perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Kasih saying tidak menuntut adanya dua pihak yang terlibat didalamnya, yaitu seseorang yang mencurahkan perasaan sayang, cinta atau suka dan seseorang yang memperoleh curahan kasih sayang, cinta dan suka itu sendiri. Pengalaman hidup sehari-hari memaksa kita untuk mengakui bahwa bagaimanapun hidup kita akan memperoleh arti apabila telah bisa kita peroleh perhatian dari orang lain. Dan perhatian itu pada dasarnya merupakan salah salah satu unsure dasar dari cinta kasih. Perhatian tersebut bisa saja datang dari orang tua, saudara, suami atau istri, kawan atau kelompok. Hidup akan terasa lebih indah, bahagia dan mengesankan apabila telah mampu memahami berbagai perhatian orang lain.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S Purwodaminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka pada seseorang. Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagian. Kaish sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu.

G. Belas Kasihan
Dalam surat yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta. Pertama cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan yang ditenangkan pada kegiatan belajar. Kedua, cinta philia ialah cinta kepada bapak, ibu dan saudara. Ketiga, cinta eros atau amor ialah cinta antara pria dan wanita. Cinta sesame ini diberikan istilah “Belas Kasihan” karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaan.
Perbuatan atau sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Dari surat Al-Qalam ayat 4 maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.
Belas kasihan dapat menimbulkan daya kreatifitas yang berarti orang dapat berbuat, berkarya, mencipta, mencari, menemukan dan lain-lain. Berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi. Ada yang memberikan uang, barang, pakaian, makanan dan sebagainya.


BAB III
LAPORAN HASIL OBSERVASI

1. Setting Lingkungan Sosial
            Universitas Islam Negeri (UIN) Malang merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang bertempat di Jl. Gajayana No. 50 Dinoyo Malang. UIN Malang juga salah satu perguruan tinggi negeri yang memiliki gedung perkuliahan yang megah disertai pilar yang kokoh. Bahkan pada saat sekarang ini semua gedung-gedung termasuk gedung rektorat sudah selesai dibangun sehingga menjadikan kampus ini sebagai “The Blue Campus”. Dilengkapi dengan taman yang indah serta tanaman hias yang beraneka ragam yang menjadikan kampus UIN Malang ini semakin indah. Oleh karena itu tidak megherankan apabila pada tahun ajaran baru ini mahasiswa-mahasiswi yang melanjutkan ke Univesitas ini semakin bertambah.
Selain itu, yang menjadikan UIN Malang ini berbeda dengan yang lain adalah adanya Ma’had Bilingual/ Pondok Pesantren dua bahasa. Ma’had yang ada di UIN Malang, tidak hanya berfungsi sebagai asrama, tetapi lebih jauh lagi Ma’had/Pondok tersebut berfungsi sebagai tempat menggembleng mahasiswa menuju pengembangan spiritual dan keintelektualan, dengan motto “Mencetak Kader yang Professional Ulama”. Di Ma’had tersebut/ Ma’had Sunan Ampel Al-‘Ali mengembangkan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.
           Disisi lain UIN Malang merupakan satu-satunya kampus yang mengizinkan pengemis-pengemis untuk mangkal di lingkungan kampus, oleh karena itu tidak mengherankan apabila kita bisa melihat pengemis-pengemis yang bersebaran di sekitar kampus UIN Malang. Dengan keberadaan pengemis-pengemis ini justru mahasisiwa-mahasiswi yang menunutut ilmu di kampus UIN Malang tidak merasa terganggu, walaupun ada sebagian dari mereka yang merasa terganggu bahkan tidak senang, akan tetapi kebanyakan dari mereka memiliki respon sosial yang tinggi terhadap pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampus. Dari respon sosial mahasiswa yang tinggi inilah salah satu faktor yang meyebabkan pengemis-pengemis semakin hari  semakin bertambah.

2. Permasalahan Yang Terjadi
            Dari semakin terkenalnya UIN Malang, semakin megah bangunannya serta akhlak dari mahasiswanya yang memiliki budi pekerti yang baik, ramah tamah dan tidak suka menghina bahkan memiliki respon yang tinggi kepada pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampusnya sendiri. Jusrtu memberikan peluang bagi pengemis untuk berdatangan ke lingkungan kampus UIN dan mangkal disana.
            Karena hasil dari observasi yang telah saya lakukan, para pengemis yang meminta-minta di sekitar kampus UIN memperoleh penghasilan yang cukup banyak dibandingkan dengan tempat yang lainnya, yaitu sekitar Rp.20000,00/hari. Sehingga dari faktor inilah yang menyebabkan semakin merebaknya pengemis di lingkungan kampus. Kita dapa melihat dengan mata kepala kita sendiri di setiap sudut jalan ketika kita menuju gerbang arah selatan yang berdekatan dengan Jln. sumbersari. Disekitar itu kita dapat melihat ada banyak pengemis yang mangkal disetiap sudut, kurang lebih sekitar 5 keatas. Sebagian dari mereka ada yang cara meminta-mintanya sambil berdiri, duduk, membawa anak kecil, dan ada pula yang menggunakan alat abantuan seperti tongkat untuk berjalan.



3. Bentuk-Bentuk Permasalahan Sosial
            Dengan semakin merebaknya pengemis di lingkungan kampus pada kenyataannya   menjadikan semakin banyak  permasalahan-permasalahan sosial yang timbul. Adapun bentuk-bentuk permasalahan itu antara lain :
1.      Banyak kendaraan dosen, karyawan dan mahasiswa yang sulit keluar-masuk kampus akibat banyaknya anak-anak pengemis yang berlarian di tengah jalan.
2.      Banyak mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung sedikit memaksa
3.      Banyak penduduk sekitar yang merasa risih akibat keberadaan pengemis yang setiap hari mangkal.

4. Penyebab Timbulnya Masalah Sosial
Berdasarkan hasil interviu yang telah saya lakukan dengan beberapa pengemis, saya dapat menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab mereka memilih profesi menjadi pengemis, diantara faktor tersebut yaitu:
1.      Desakan ekonomi
            Penghasilan ekonomi yang rendah, serta tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dan harga bahan pokok semakin hari semakin melonjak tinggi.  Sehingga pada aat sekarang ini orang rela berbuat apapun demi memenuhi kebutuhannya, walaupun perbuatan tersebut sesungguhnya sangat tidak baik dimata manusia. Begitu pula yang dialami pengemis-pengemis, menurut pengakuan mereka, mereka memilih berprofesi menjadi pengemis semata-mata karena terpaksa. Mereka sebenarnya tidak menginginkan profesi tersebut apalagi bercita-cita menjadi pengemis. Karena tidak ada seorangpun yang menginginkan dalam hidupnya sengsara, miskin, dan hina dimata orang lain.

2.   Sempitnya lapangan kerja
Di zaman sekarang ini lowongan untuk mencari kerja sangat sulit sekali, jangankan yang lulusan SMP bahkan lulusan sarjanapun banyak yang menganggur. Faktor ini pula yang sesungguhnya dialami oleh pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampus. Menurut pengakuan mereka, sebelum berprofesi sebagai pengemis mereka pernah berusaha untuk mencari pekerjaan yang selayaknya.. Seperti : melamar menjadi pembantu rumah tangga, petugas kebersihan jalan. Akan tetapi mereka tidak diterima sehingga mereka memilih alternatif terakhir yaitu berprofesi menjadi pengemis. Ada salah satu dari mereka yang pernah bekerja sebagai ibu rumah tangga, tetapi tidak bertahan lama, hanya beberapa bula saja.
3.  Rendahnya Skill Yang Dimiliki
Kemampuan/skill seseorang merupakan faktor yang urgen untuk membawa seseorang menuju pintu kesuksesan. Apabila skill yang dimiliki seseorang itu tinggi maka banyak orang membutuhkannya. Tetapi sebaliknya apabila skill yang dimiliki rendah apalagi sampai tidak menemukan apa skill yang dimilikinya maka niscaya tidak ada orang yang membutuhkannya. Jadi skill ini sangat diperlukan sekali dalam kehidupan kita di dunia ini. Rendahnya skill yang dimiliki merupakan sebuah masalah besar, karena ketika seseorang tidak mempunyai skill yang bisa membawa hidupnya lebih baik maka permasalahan yang sangat besar akan menghadapinya.
Faktor ini pula yang menyebabkan mereka memlih berprofesi menjadi pengemis. Karena berdasarkan pengakuan mereka, sebelumnya mereka pernah berusaha untuk membuka usaha seperti : berjualan kue, membuat mainan dari bambu. Dikarenakan keterbatasan kemampuan mereka sehinggga mereka tidak berhasil melakukannya. Walaupun mereka pernah menggelutinya, tetapi hanya beberapa bulan saja.
4. Rendahnya jenjang pendidikan yang ditempuh
            Pada zaman sekarang ini ijazah sangat diperlukan sekali sebagai wasilah dalam memperoleh pekerjaan. Namun bukan berarti ijazah adalah segalanya, karena pada kenyataannya banyak orang yang memiliki ijazah bahkan sampai  ijazah SI tetapi tidak memperoleh pekerjaan. Berdasarkan hasil interviu yang telah saya lakukan dengan beberapa pengemis yang berada di lingkungan kampus. Menurut pengakuan mereka, mereka hanya tamat SD bahkan ada yang tidak tamat.
             Faktor ini pula yang menyebabkan mereka memlih berprofesi menjadi pengemis. Karena pada awalnya mereka juga pernah berusaha untuk melamar pekerjaan ke pabrik-pabrik, akan tetapi dikarenakan rendahnya jenjang pendidikan yang mereka tempuh sehingga mereka tidak diterima di pabrik-pabrik tersebut tersebut. Walaupun ada sebagian dari mereka yang pernah bekerja di pabrik-pabrik akan tetapi hanya beberapa tahun saja.

4. Dampak Riil masalah sosial dalam kehidupan sosial masyarakat
            Dari hasil observasi yang telah saya lakukan lewat interviu dengan beberapa pengemis, disini saya dapat menemukan beberapa dampak rill yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Adapun dampak rill yang terjadi yaitu antara lain sebagai berikut :
A.     Ejekan, Hinaan dan Cemoohan
Berdasakan pengakuan mereka, mereka pernah dihina, diejek, dan dicemooh oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Entah dengan alasan apa mereka berbuat seperti itu, akan tetapi menurut Ibu Mariyanah yang pernah mengalaminya.mereka berbuat seperti itu dikarenakan mereka jijik dengan penampilan yang dikenakan. Sehingga setiap kali Ibu Maryanah pergi untuk meminta-minta, Ibu Maryanah selalu mencari tempat yang jauh dari tempat tinggalnya agar tidak diejek, dihina, dicemooh orang lagi.
B.     Dijauhi Dalam Pergaulan
Menurut pengakuan mereka, ketika masyarakat sekitar mengetahui profesi yang dilakukannya. Hari demi hari mereka merasa masyarakat sekitar menjauhi mereka khususnya tetangga dekat. Sehingga setiap kali mereka ingin meminta tolong dan ngobrol selayaknya orang lain kepada penduduk sekitar, seolah mereka enggan untuk menaggapinya. Perkara itu pula yang dialami oleh Ibu Maryanah, menurut pengakuannya, Ibu Maryanah pernah mengalaminya kurang lebih beberapa bulan.
C. Diusir dari Kontrakan
            Ketika saya melakukan interviu kepada beberapa pengemis ternyata mereka sangat terbuka sekali, bahkan mereka mengeluarkan keluhan-keluhan mereka yang terkait dengan dampak rill yang terjadi dimana mereka tinggal. Ada salah satu pengemis yang pernah diusir dari kontrakannya karena telat bayar kontrakan, tetapi menurutnya hal itu bukan penyebab utama pemilik kontrakan mengusirnya. Akan tetapi akibat buah bibir masyarakat yang selalu terdengar ditelinganya. Sehingga pemilik kontrakan tersebut dengan tega hati mengusirnya.

 










BAB IV
PEMBAHASAN, ANALISA DAN SOLUSI

A. Pembahasan
1. Respon Mahasiswa UIN Terhadap Pengemis
Dari hasil observasi yang telah saya lakukan dengan meyebarkan angket kepada mahasiswa-mahasiswi yang berjumlah 50,  saya memperoleh data yang sekiranya ini akan menjadikan acuan buat saya pribadi untuk mengidentifikasi seberapa jauh tingkat respon mahasiswa UIN terhadap pengemis di lingkungan kampus. Selain dengan angket saya juga melakukan interviu secara langsung kepada beberapa mahasiswa, baik semester II, semester VI, semester VI maupun semester VIII. Kemudian disertai bukti yang otentik yakni berdasarkan pengakuan pengemis-pengemis ketika saya lakukan interviu.
Pertanyaan yang saya ajukan sebenarnya hampir sama dengan angket yang saya sebarkan kepada beberapa mahasiswa, hanya saja kalau angket berupa tulisan sedangkan interviu berupa lisan. Dari hasil observasi yang telah saya lakukan, baik dari hasil interviu maupun penyebaran angket, disini saya dapat mengidentifikasi bahwa respon sosial mahasiswa UIN ternyata cukup tinggi.
Adapun data yang saya peroleh, sebagai berikut :
1. Bagaimana perasaan anda ketika melihat pengemis-pengemis di sekitar kampus ?
Jawaban
Kasihan
Biasa saja
Benci
Prosentase
70 %
25 %
5 %



2. Apakah anda merasa terganggu dengan keberadaan pengemis di kampus kita ?
 Jawaban
Terganggu
Tidak terganggu
Prosentase
85 %
15 %

3. Apakah anda selalu memberikan santunan kepada pengemis itu ?
Jawaban
Iya
Jarang
Tidak pernah
Prosentase
40 %
55 %
5 %

4. Bagaimana perasaan anda ketika memberikan santunan kepadanya?
Jawaban
Seneng
Biasa aja
Sebel
Prosentase
70 %
 25 %
5 %

5. Apakah anda merasa dirugikan oleh pengemis yang berda di kampus kita?
Jawaban
Iya
Tidak
Prosentase
85 %
15 %

6. Menurut anda apakah keberadaan pengemis mengurangi keindahan kampus ?
Jawaban
Iya
Tidak
Prosentase
75 %
25 %

Adapun nama-nama mahasiswa yang saya telah wawancarai adalah sebagai berikut :
Nama
Jurusan
Semester
HairulAnwar
Pendidikan agama islam
II
Rohmat. H
Matematika
IV
Sofyan Hadi
Matematika
VIII
Romlah
Pendidikan agama islam
VI
Tri pendra
Matematika
II
Hisby
Psikologi
IV
Ali Mustafa
Bahasa Arab
II
Angga
Pendidikan Agama Islam
II
M. Roki’in
Pendidikan Agama Islam
II
Ma’ruf
Fisika
II
Zamrodi
Kimia
II
Muhib
Matematika
IV
Andri Setyo
Teknik Informatika
VIII
Chairul Anas
Biologi
VIII
Syamsudin
Teknik Informatika
VI
Sahibul Wafa
Teknik Informatika
VI
Qamarudin
Teknik Arsitek
VI



Sedangkan data dari hasil interviu saya dengan beberapa pengemis yaitu sebagai berikut :
·        Pengahasilan Rp. 20000,00/hari.
·        Sekolah anak-anak mereka dibiayai oleh salah satu mahasiswa UIN.
·        Ada beberapa mahasiswa UIN yang sering berkunjung ke rumah untuk memberikan santunan.

2. Pengaruh Keberadaan Kampus Terhadap Pengahasilan Pengemis
Beberapa minggu yang lalu saya telah melakukan interviu secara langsung kepada beberapa pengemis yang salah satunya yaitu : Ibu Maryanah, Ibu Sumiarti dan lain-lain. Kemudian saya mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan judul observasi saya. Walhasil saya memperoleh penjelasan atau data dari interviu saya dengan beberapa pengemis mulai dari awal hingga akhir. Adapun data yang saya peroleh sebagai berikut :
Nama Ibu Maryanah, umur 40 tahun, sebelum berprofesi sebagai pengemis awalnya Ibu Maryanah adalah seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Sawunggaling I. Beliu pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, penjual kue keliling. Ibu Maryanah mempunyai dua anak laki-laki, anak pertama bernama Muhammad Asy’ari, umur 13 tahun. Sekarang tinggal di Pondok gading bersama salah satu mahasiswa UIN dan anak kedua bernama Muhammad Endra, umur 7 tahun, sekarang sedang “Griya Baca”. Yang diasuh oleh mahasiswa UIN.
Ibu maryanah sebelumnya mempunyai suami yang berprofesi sebagai tukang becak, tetapi sekarang sudah bercerai. Suaminya bernama Pak Samuri, berusia 45 tahun. Pada awalnya kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja, tetapi setelah suaminya menikah lagi dan suaminya tidak pernah memberikan nafkah lagi kepada anak-anaknya sehingga ibu Maryanah terpaksa berprofesi menjadi pengemis. Dan profesi ini baru dilakukannya selama 1 ½ tahun.
Sedangkan data dari pengemis yang lain sebagai berikut : nama Ibu Sumiarti, umur 45, sebelum berprofesi sebagai pengemis awalnya Ibu Sumiarti adalah seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di jalan Karang Ploso. Ibu Sumiarti sebelumnya pernah bekerja sebagai buruh pabrik, dikarenakan di PHK sehingga IBu Sumiarti tidak punya pekerjaan lagi. Ibu Sumiarti mempunyai satu anak perempuan, bernama Hanum, umur 21 tahun. Sekarang tinggal entah dimana, IBu Sumiarti juga tidak mengetahuinya, tetapi menurut Ibu Sumiarti dia sudah tidak pernah berkunjung kerumahnya selama 6 Tahun lebih. Dan dengan kepergian anak satu-satunya itu membuat Ibu Sumiarti sedih
Adapun suami Ibu Sumiarti bernama Pak Sutris, berusia 52 tahun. Sekarang sudah meninggal dunia akibat sakit-sakitan. Pada awalnya suami Ibu Sumiarti berprofesi sebagai kuli bangunan, akan tetapi karena sakitnya yang berkepanjangan sehingga Pak Sutris tidak mampu bekerja lagi. Akhirnya biaya kehidupan sehari-hari diperoleh dari istrinya. Kehidupan rumah tangga mereka pada awalnya baik-baik saja, tetapi setelah Ibu Sumiarti di PHK dan suaminya tidak mampu bekerja lagi ditambah penyakit yang dideritanya memakan uang ukup banyak. Sehingga Ibu Sumiarti terpaksa berprofesi menjadi pengemis. Profesi ini Ibu Sumiarti lakukan selama 2 tahun lebih.
Kemudian setelah itu saya menanyakan kembali tentang seberapa besar pengaruh keberadaan kampus terhadap pengahasilan Ibu? Menurut pengakuannya, mereka mengatakan bahwa keberadaan kampus sangat berpengaruh sekali terhadap pengahasilannya. Karena dengan kampus yang besar, megah dan mahasiswanya banyak justru pengahsilannya bisa bertambah. Akan tetapi menurut mereka hanya UIN saja yang memiliki pengaruh besar sedangkan Kampus lain tidak begitu berpengaruh bahkan tidak berarti apa-apa.
Karena salah satu dari mereka pernah mangkal disalah satu perguruan negeri  yang lain seperti UNIBRAW, UNMU, ITN, UNMER dan lain-lain. Hasilnya mereka tidak memperoleh apapun selain hinaan bahkan diusir dari lingkungan kampus. Ini membuktikan bahwa keberadaan kampus UIN sangat berpengaruh terhadap penghasilan pengemis.

C.     Dampak Tersebarnya Pengemis di Lingkungan Kampus
Kita telah ketahui bersama bahwa setiap sebab pasti ada akibatnya. Dari semakin merebaknya pengemis-pengemis yang ada di lingkungan kampus, justru pengaruh yang timbul akibatnya sangat besar sekali. Adapun dampak yang timbul akibat merebaknya pengemis di lingkungan kampus antara lain sebagai berikut :

1. Terhadap Pribadi Mahasiswa
Dari hasil penyebaran angket yang telah saya sebarkan kepada mahasiswa-mahasiswi, ada beberapa problem yang secara psikis menyangkut pribadi mahasisiwa akibat merebaknya pengemis di lingkungan kampus. Disatu sisi ada beberapa mahasiswa merasa dirugikan dengan keberadaan pengemis yang setiap hari meminta terus. Disisi lain juga ada sebagian mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung memaksa, sehingga tidak mengherankan apabila ada salah seorang mahasiswa yang ketika dipinta uluran tangannya bersikap acuh tak acuh.
2. Terhadap Keindahan Kampus
            Pada saat sekarang ini kita sudah ketahui bersama bahwa UIN yang pada mulanya hanya kampus biasa, sekarang sudah berubah menjadi kampus yang memiliki gedung yang sangat megah disertai pilar yang kokoh. Kemudian dihiasi taman yang begitu indah serta ditanami berbagai macam tanaman yang nampak memperindah. Akan tetapi keindahan tersebut semakin menurun akibat tersebarnya pengemis di lingkungan kampus.
Dari hasil observasi baik berupa penyebaran angket maupun interviu langsung kepada mahasiswa. Semuanya sepakat bahwa merebaknya pengemis di lingkungan kampus sangat berpengaruh sekali terhadap keindahan kampus, tetapi ada sebagian yang tidak sepakat. Berdasarkan komentar mereka, cara berpakain pengemis saja sudah compang-camping, ditambah terkadang pengemis-pengemis itu membawa tiker, karung untuk beristirahat. Sehingga apabila dilihat, kita merasa tidak nyaman dan keberadaannya tersebut sangat mengurangi keindahan kampus yang semula indah dipandang mata.


B. Analisa
            Disini, insya Allah saya akan mencoba menganalisis sedikit tugas observasi saya yang berudul “Analisis Deskriptif Respon Sosial Mahasiswa UIN Terhadap Pengemis di Lingkungan Kampus”. Menurut analisis saya berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan bahwa respon sosial mahasiswa UIN terhadap pengemis di lingkungan kampus cukup tinggi, mengapa saya katakan demikian. Apabila dilihat dari bagan diatas, mahasiswa yang senantiasa memberikan santunan tatkala dipinta uluran tangannya kurang lebih 45 %, jarang 55 % dan yang tidak sama sekali 5 %. Keterangan diatas membuktikan bahwa Respon Sosial Mahasiswa UIN Terhadap Pengemis di Lingkungan Kampus cukup tinggi.
Bukti ini juga diperkuat dengan pengakuan pengemis bahwa mahasiswa UIN lebih tinggi respon sosialnya daripada mahasisiwa perguruan tinggi yang lain. Adapun pengaruh keberadaan kampus terhadap pengahasilan pengemis, menurut analisis saya, pengaruhnya besar sekali. Karena berdasarkan keterangan diatas, mereka mengatakan  dengan keberadaan kampus yang terkenal, megah dan mahasiswanya banyak justru pengahsilannya bisa bertambah. dan mereka mengalami pengaruhnya hanya di kampus UIN saja. Karena di kampus lain mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali hanya hinaan, ejekan, cemooh bahkan diusir dari kampus. Dari keterangan diatas membuktikan bahwa keberadaan kampus UIN sangat berpengaruh terhadap penghasilan pengemis.
Sedangkan dampak tersebarnya pengemis di lingkungan kampus terhadap pribadi mahasiswa dan keindahan kampus, menurut analisis saya, dampaknya sangat besar sekali. Karena dengan merebaknya pengemis  di lingkungan kampus, disatu sisi membuat beberapa mahasiswa merasa dirugikan dengan keberadaan pengemis yang setiap hari meminta terus-menerus. Disisi lain juga ada sebagian mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung memaksa. Dan yang lebih parahnya lagi dengan tersebarnya pengemis di lingkungan kampus menjadikan keindahan kampus semakin berkurang.

C. Solusi
Adapun solusi dari saya yang sekiranya dapat dijadikan acuan agar pengemis yang ada di lingkungan kampus UIN Malang tidak merebak kembali atau bahkan berkurang hari demi hari antara lain sebagai berikut :
·        Mengajukan permohonan kepada pihak birokrasi agar pengemis yang berada di lingkungan kampus dipekerjakan sebagai petugas kebersihan atau pencabut rumput dan lain sebagainya.
·        Mendirikan sebuah organisasi yang didalamnya menampung sebuah wadah untuk mengembangkan bakat yang ada pada diri pengemis, sehingga pengemis tersebut mempunyai keterampilan untuk kelangsungan hidupnya.
·        Melaporkan kepada pihak birokrasi untuk menindak lanjuti pengemis-pengemis yang ada disekitar kampus agar tidak mangkal kembali dengan konsekuensi mereka diberikan jaminan hidup walupun hanya sekedar makan sehari-hari saja.









BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
             Dari pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Dari semakin terkenalnya UIN Malang, semakin megah bangunannya serta akhlak dari mahasiswanya yang memiliki budi pekerti yang baik, ramah tamah dan tidak suka menghina bahkan memiliki respon yang tinggi kepada pengemis-pengemis yang berada di lingkungan kampusnya sendiri. Jusrtu hal ini memberikan peluang bagi pengemis untuk berdatangan ke lingkungan kampus UIN untuk meminta-minta.
            Akan tetapi justru dengan kehadiran pengemis tersebut, respon sosial yang diberikan mahasiwa cukup tinggi, bahkan ada sebagian mahasiswa yang rela berkorban waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk menolong anak pengemis tadi agar bisa membaca dan menulis. Dan apabila kita telusuri ternyata keberadaan kampus UIN sangat berpengaruh sekali terhadap pengahasilan pengemis, karena berdasarkan hasil observasi pengahsilan merka selama mengemis di UIN sekitar Rp. 20000,00/hari.
            Disatu sisi, dengan merebaknya pengemis di lingkungan kampus, dampak atau pengaruh yang timbul sangat besar sekali. Khususnya pengaruh bagi diri pribadi mahsisiwa UIN dan keindahan kampusnya. Karena pada kenyataannya ada sebagian mahasiswa yang merasa terganggu dengan aktifitas pengemis yang cenderung memaksa dan dari cara berpakaian pengemis serta peralatan yang dibawanya yang sangat mengurangi keindahan kampus. Sehingga setiap kali orang melihatnya merasa tidak nyaman.


DAFTAR PUSTAKA

Ali Akbar, DR. H, Merawat Cinta Kasih, Pustaka Antara, Jakarta, 1981.

Budi Dharma, Keindahan Pandangaan Romantis, Dalam Ilmu Budaya, Konsorsium Antar Bidang, Depdikbud, Jakarta, 1982.

Habib Mustopo dan Kawan-Kawan, Ilmu Budaya Dasar, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.

Mahmud bin As-Syarif, Nilai Cinta Dalam Al-Qur’an, Terjemah, Drs. As’ad Yasin, Cv. Pustaka Mantik, Solo, 1993.

Munandar Sulaiman MS, IR, M, Ilmu Budaya Dasar, Suatu Pengantar, PT. Eresco, Bandung, 1992.

Notowidagdo Rohiman, Drs. H, Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, Rajawali Pers, Jakarta, 1996.

{ 0 comments... read them below or add one }

Posting Komentar